TOKOH

Bhikkhu Gunaratana

Bhikkhu Gunaratana adalah seorang penulis dan instruktur meditasi internasional yang terkenal dengan ajarannya yang menggabungkan latihan meditasi dalam kehidupan sehari-hari dengan mendalami ajaran Buddha, dan hal itu diterapkan dalam latihannya. Beliau juga seorang psikolog di bidang filosofi lulusan Universitas Amerika di Washington, saat beliau masih menjadi seorang pendeta dan mengajar Buddha Dhamma ke seluruh dunia, khususnya di Amerika. Beliau rajin mempraktikkan Buddha Dhamma. Perpaduan latar belakang dan pengalaman Bhikkhu Gunaratana sangat cocok untuk memperkenalkan Buddha Dhamma di Barat.

Bhikkhu Gunaratana diupasampada di Kandy, Sri Lanka, pada tahun 1947. Dia mendapat pendidikannya di Sekolah Tinggi Vidyalankara dan Sekolah Tinggi Buddhist Missionary di Colombo. Pada kunjungannya di komunitas Sasana Sevaka. Bhikkhu Gunaratana datang ke Amerika pada tahun 1968 sebagai Hon. Sekretaris Jenderal di Vihara Buddhist Society di Washington, D.C. Pada tahun 1980 beliau diangkat menjadi President Buddhist Society. Selama beliau berada di vihara, beliau telah memberikan kursus tentang Ajaran Buddha, melakukan retret meditasi, dan mengajar secara luas di seluruh Amerika Serikat dan Kanada.

Beliau juga mendapatkan gelar sarjana dengan meraih B.A., M.A., dan Ph.D., di bidang filosofi di Universitas American. Buku-buku dan artikel-artikel beliau telah diterbitkan di Malaysia, India, Sri Lanka, Brazil, dan U.S.A. Bhikkhu Gunaratana telah menduduki posisi sebagai kepala pengajar di Universitas American sejak tahun 1973. Beliau benar-benar terlibat dengan usahanya dalam memperluas ajaran Buddha di seluruh Amerika Utara.

Matthew Flickstein

Matthew Flickstein adalah seorang psychotherapist dan juga sebagai instruktur meditasi yang berpengalaman selama lebih dari 24 tahun. Beliau sangat ahli dalam bidangnya. Matthew banyak membantu orang-orang dan juga telah melatih ribuan orang. Beliau juga melakukan sertifikasi kepada para psychoterapist lain, untuk menangani pelatihan (workshop) manajemen stres dan pengembangan kepribadian kerja, yang merupakan kreasinya. Selama beberapa tahun, beliau merupakan seorang ahli terapi pribadi dengan spesialisasi intervensi atau penyembuhan intensif jangka waktu pendek.

Matthew mendapat gelar B.S dari Universitas Maryland, dan gelar M.S. dalam bidang penyuluhan dan psychotherapy dari Sekolah Tinggi Loylola, dan menyelesaikan Ph.D. di Institute Saybrook. Dia melakukan praktik di tempat penyuluhan dan penyakit jiwa (Counceling and Psychiatric) Johns Hopkins di Baltimore.

Pada tahun 1984, Matthew ikut mendirikan Lembaga Bhavana, sebuah pusat vihara umat Buddha di Virginia Barat, bersama Bhikkhu Henepola Gunaratana. Matthew adalah pendiri dan instruktur dari pusat latihan meditasi Forest Way di Blue Ridge Mountains, Virginia, yang latihan-nya dikhususkan pada retret jangka panjang untuk para praktisi awam.

Matthew juga menulis buku Journey to the Center: A meditation Workbook and Swallowing the River Ganges dengan editornya, yaitu Bhikkhu Gunaratana yang bukunya menjadi buku petunjuk meditasi yang terlaris dengan judul Mindfulness in Plain English. Beliau saat ini tinggal di Ruckersville, Virginia, Amerika Serikat.

Bhikkhu Natiloka

Bhikkhu Natiloka lahir pada tanggal 19 Februari 1878 di kota Wiesbaden, Jerman. Beliau diberi nama Anton Walter Florus Gueth oleh orangtuanya. Tempat kelahiran Beliau adalah sebuah kota yang terkenal di Jerman Barat. Ayah beliau seorang profesor dan saat itu menjabat sebagai kepala sekolah di College anak-anak kota (Realgymnasium). Orangtua Anton adalah umat Katolik Roma, tetapi bukanlah umat yang menjalankan ibadah ketat. Kecintaan ayahnya terhadap kesunyian dan ketenangan alam sekitar yang terpelihara mempengaruhi jiwa Gueth muda untuk hidup menyepi di dalam biara.

Pada tahun 1897, kemantapan hati Gueth membuatnya meninggalkan rumah secara diam-diam, berjalan di atas tumpukan salju sepanjang perjalanan menuju Biara Benedictine yang terkenal. Tetapi kekakuan peraturan bukanlah kesukaannya dan segera ia pulang kembali ke rumah. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1896, Gueth muda mempelajari pelajaran bidang musik dengan perhatian yang besar, pertama dengan uang kuliah sendiri dan tahun 1898 di School of Music (Konservatorium; Sekolah musik; Red.) di Frankfort, kemudian dari tahun 1900 – 1902, ia belajar komposisi di Paris, di bawah maestro terkenal, Charles Marie Widor.

Ketika berada di Frankfort, untuk pertama kalinya ia menghadiri perbincangan mengenai agama Buddha di Theosophical Society setempat. Ceramahnya itu meningkatkan minat antusiasnya di dalam Buddha Dhamma yang telah ada sebelumnya dengan mempelajari karya-karya filosofi Schopenhauer yang belakangan ini telah menjadi pendukung di dalam membukakan pintu menuju Buddha – Dhamma bagi para pembaca Jerman.

Ternyata profesornya, di sekolah musik, juga tertarik dengan agama Buddha dan mempersembahkan Gueth sebuah kopian dari naskah “Buddhist Catechism” (kitab pelajaran keagamaan singkat dalam bentuk tanya-jawab; red) di dalam bahasa Jerman karya Bhikkhu Subhadra, merupakan buku pertama yang Gueth Muda baca mengenai agama Buddha. Si Profesor juga merekomendasikan karya-karya profesional lainnya, dan dengan setengah bercanda ia berkata pada Gueth, “Tapi jangan jadi gila dan menjadi bhikkhu.”

Keinginannya menjadi semakin kuat dalam batinnya. Setelah dua tahun di Paris, ia memutuskan pergi ke India, dan percaya kalau India masih merupakan sebuah negara Buddhis. Ia salah menduga bahwa perjalanan ke India akan memakan biaya yang sangat mahal, oleh karena itu satu-satunya jalan yang terbuka buatnya adalah tiba di India dalam pentas-pentas panggung. Jadi pada bulan Mei 1902, ia pertama kali menerima kontrak sebagai pemain biola di Saloniki, yang kemudian tiba di Bombay pada tahun 1903.

Di India ia diberitahu bahwa untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu ia harus pergi ke Srilangka, dan iapun segera ke sana pada bulan Juli 1903. Di kota Kandy ia mengunjungi vih?ra yang terkenal yaitu Vih?ra Malvatte di mana ahli pustakawannya, Y.M. Silananda Thera, menyatakan kesediaannya untuk mentahbiskannya. Tetapi ia mendengar bahwa seorang bhikkhu dari Skotlandia, Bhikkhu Ananda Maitreya, tinggal di Myanmar dan ia waktu itu berpikir bahwa melalui perantara bahasa Inggris beliau, pelajaran-pelajaran Dhamma akan menjadi lebih mudah untuk dipelajari dan dimengerti daripada di Srilangka.

Beliau mendapatkan alamat Bhikkhu Ananda Maitreya dari proktor (pengawas mahasiswa; red) Richard Perera, ayah dari Dr. Cassius A. Perera (yang belakangan menjadi bhikkhu juga, dengan nama Kassapa), kemudian berangkat menuju Myanmar. Saat tiba di Rangoon, beliau tinggal di rumah keluarga Hla Oung selama dua minggu pertama, yang mendukungnya dengan tulus. Ny. Hla Oung adalah seorang wanita Buddhis terkemuka di Myanmar dan istri dari bendaharawan India, Tuan Hla Oung.

Pada bulan September 1903, beliau mengikuti pabbajja yang dibimbing oleh U Asabha Thera di vih?ra dekat Pagoda Ngada Khi, dan selama satu bulan beliau tinggal bersama dengan Bhikkhu Ananda Maitreya di satu kuti. Beliau lalu pindah ke tempat yang lebih tenang dan tidak ramai, Vih?ra Kyundaw Kyamng, tidak jauh dari Pagoda Shwe Dagon.

Di sana beliau diupasampada pada bulan Februari 1904, dengan nama Natiloka. Segera beliau mulai belajar bahasa P?li. Setelah enam bulan, beliau mampu berbincang dengan bhikkhu-bhikkhu lainnya dengan bahasa P?li dan juga telah belajar sebuah karya pengetahuan dalam bahasa Myanmar percakapan sehari-hari.

Menjelang akhir tahun 1904, beliau dan Bhikkhu Kosambi Dhammananda dari India, pergi ke daerah perbukitan Myanmar, ke gua meditasi Sagaing yang terkenal, untuk berlatih Samatha Bh?van? dan Vipassan? Bh?van?, di bawah bimbingan seorang bhikkhu yang dianggap telah mencapai Arahat.

Bhikkhu Natiloka kembali ke Srilangka (1905), di mana beliau melanjutkan kesungguhan hatinya belajar bahasa P?li dan naskah-naskah resmi religius. Waktu itu beliau mulai menerjemahkan A?guttara Nik?ya dalam bahasa Jerman, dan akhirnya diterbitkan di Jerman (1907). Ketika berada di Srilangka (1906), beliau bertemu dengan Pangeran Siamese (Prisdang Chomsey) yang untuk alasan politis harus meninggalkan negaranya dan telah ditahbiskan di Srilangka dengan nama Bhikkhu Jinavaravamsa.

Waktu itu beliau adalah pemegang jabatan dari vih?ra terkenal Dipaduttarama di Kotahena, Kolombo-Srilangka. Dengan disertai beliau, Bhikkhu Natiloka hidup di sebuah pulau terpencil, di pinggiran pantai, dekat Matara. (dahulu: Galgodiy?na, tetapi Jinaravamsa menyebutnya C?la-La?gk?, yaitu “Langka kecil”). Di sana mereka tinggal di dalam sebuah kuti.

Pada tahun 1906, seorang bhikkhu berkebangsaan Belanda, bernama Bergendahl (Bhikkhu Su??o) tiba untuk pertama kalinya di pulau itu. Kemudian disusul oleh Fritz Stange (Bhikkhu Sumano) beserta seorang samanera. Keduanya ditahbiskan di Matara. Bhikkhu Sumano memiliki kesungguhan dan dedikasi yang besar, yang memberikan pernyataan yang menggemparkan melalui pemikirannya dalam buku kecil yang berjudul “Pabbajja, Der gang in die Heimatlosigkeit (1910), dalam bahasa Jerman. Ia meninggal dalam usia muda pada tahun 1910 di Bandarawela, di sebuah bukit desa di Srilangka.

Selama kunjungan singkat ke Myanmar tahun 1906, Bhikkhu Natiloka mentahbiskan samanera pada Scotsman, I.F. McKechnie, dan diupasampada menjadi bhikkhu dengan nama S?lacara. Bhikkhu S?lacara di kemudian hari menjadi seorang penulis unggul dan menghasilkan banyak karya mengenai Buddha Dhamma.

Ketika Samanera Sasanavamsa menerjemahkan buku dari bahasa Jerman, karya sastra pertama Bhikkhu Natiloka, “The Word of the Buddha” (Sabda Sang Buddha, edisi pertama berbahasa Inggris; Rangoon, 1907). Selain Sasanavamsa, Walter Markgraf dari Jerman juga ditahbiskan menjadi samanera dengan nama Dhammanusari. Setelah ditahbiskan menjadi samanera, ia segera kembali ke Jerman di mana pada waktu itu ia merintis sebuah perusahaan penerbitan buku-buku Buddhis yang telah banyak menerbitkan buku, diantaranya buku terjemahan Bhikkhu Natiloka.

Setelah menerima saran dari Markgraf untuk mendirikan vih?ra di Swiss Selatan, Bhikkhu Natiloka meninggalkan Eropa. Di kota Lugano, beliau bertemu Enrico Bignani (baca: Enriko Binyani), redaksi majalah “Coenobium”, yang mendirikan sebuah pondok indah di daerah pegunungan Alpen, di kaki pegunungan Monteloma, dekat Novaggio (baca: Novajio), tidak jauh dari Lugano. Beliau bervassa di sana selama musim dingin yang menyengat, menerjemahan German-P?li Grammarnya dari “Puggala-Pa??atti”(bagian dari Abhidhamma Pitaka). Ketika perencanaan untuk vih?ra di Swiss tidak tercapai, pencarian tempat lainnya menuntun Bhikkhu Natiloka, untuk pertama kalinya menuju Turino dan kemudian Afrika Utara (Tunis, Gabes), dan akhirnya kembali ke Swiss.

Di sana beliau tinggal di sebuah “Buddhist House” yang sederhana di kota Lausanne, bernama “Vih?ra Charitas”, yang dibangun oleh seorang insinyur berkebangsaan Swiss, Tuan Bergier. Di depan temboknya, ayat-ayat Buddhis dalam bahasa Perancis, diukir dalam warna merah dan emas, dan dengan jelas dapat dibaca oleh mereka yang lewat. Di tempat itu, Bhikkhu Natiloka mentahbiskan samanera untuk pertama kalinya di tanah Eropa, kepada seorang pelukis Jerman Bertel Bauer, dan akhirnya diupasampada menjadi bhikkhu dengan nama Konda??o.

Bhikkhu Natiloka pergi ke Srilangka pada tahun 1911 bersama Ludwig Stolz dan dua orang umat. Pada tahun yang sama, Stolz ditahbiskan sebagai samanera di kota Galle, Srilangka Selatan, dengan nama Vappo. Ia kemudian diupasampada di Myanmar (1914), dan meninggal dunia di Srilangka (1960) dalam usia 86 tahun.

Bhikkhu Konda??o membantu menemukan sebuah pulau kecil di pinggir laut dekat desa Dodanduwa, yang bernama “Pulau Pertapaan” (Island Hermitage) di Singhalase (Sailan Polgasduva). Pulau tersebut menjadi terkenal sebagai sebuah pusat agama Buddha dan vih?ra untuk para bhikkhu Barat.

Ketika Bhikkhu Natiloka diberitahukan oleh Bhikkhu Konda??o yang telah menemukan tempat itu, hal ini membuat beliau senang. Pada tanggal 9 juli 1911, di pulau itu dibangun lima pondok sederhana yang terbuat dari kayu.

Pondok-pondok tersebut dibangun oleh umat yang mendukung perkembangan Buddha-Dhamma. Pada tahun 1914 “Island Hermitage” resmi menjadi milik Sa?gha, karena dibeli dan didanakan oleh Mr Bergier.

Sebuah pulau kecil (Pulau Matiduva, artinya pulau lempung) juga menyediakan akomodasi untuk kegiatan pabbajja maupun upasampada bhikkhu. Setelah Perang Dunia II, tempat itu dimiliki oleh Lady Evadne de Silva dan dipersembahkan kepada Sa?gha

Pada awal 1914, Bhikkhu Natiloka berkeliling ke daerah Sikkim, Tibet sebagai tujuannya. Tetapi beliau dan rekannya hanya tiba di Tumlong, dekat perbatasan Tibet di mana mereka mengunjungi Ny. Alexandra David-Neel. Ketika melewati daerah pegunungan yang dipenuhi salju, simpanan bekal mereka hampir habis, sehingga mereka harus segera kembali ke Srilangka. Begitulah akhir dari perjalanan mereka di Tibet. Pada tahun yang sama, dua anak muda dari Tibet, pelajar bersaudara dari Kaji Sandup tiba di “Island Hermitage” dan diupasampada di sana. Bhikkhu Mahinda yang lebih muda menetap di Srilangka, di kemudian hari menjadi penyair terkenal dalam bahasa Srilangka, dengan puisi-puisinya yang dia simpulkan dalam buku-buku sekolah Sinhalase (warga Srilangka).

Demikian pula pada tahun 1914, seorang anak muda dari Rajasinghe – Srilangka, ditahbiskan sebagai samanera dengan nama Naloka, terus berlanjut hingga diupasampada menjadi bhikkhu. Ternyata bhikkhu ini memiliki karakter kemuliaan sejati. Ia sangat berjasa dan sangat taat pada gurunya (Bhikkhu Natiloka) yang sangat ia hormati. Ia merawatnya di saat-saat beliau sakit, hadir untuk semua tugas yang meliputi penetapan tujuan, cara-cara penyelenggaraan pembinaan kegiatan religius dan juga mengenai pengalokasian Island Hermitage serta membimbing langkah-langkah pertama dalam kehidupan kebhikkuan dari peserta pemuda barat ke dalam vinaya yang disebutnya sebagai “Induk Sa?gha” mereka, setelah gurunya (Bhikkhu Natiloka) meninggal, Bhikkhu Naloka Mah?thera adalah pimpinan dari Island Hermitage hingga akhir hidupnya (1976).

Pada saat pecahnya Perang Dunia I (1914), bhikkhu-bhikkhu Jerman pada awalnya diijinkan untuk tinggal di Island Hermitage, dengan pengawasan yang ketat. Setelah empat bulan kemudian mereka dibawa ke tempat pengasingan sipil, pertama di daerah Ragama dan Diyatalawa, Srilangka, dan kemudian di Australia, yang membawa banyak kesulitan. Pada tahun 1916, anggota kependetaan dari semua agama dibebaskan dari tempat pengasingan. Disebabkan tidak adanya ijin yang diberikan untuk kembali ke Srilangka atau untuk memasuki negara lain yang berada di bawah persemakmuran Inggris, Bhikkhu Natiloka pergi ke Cina, dan ini juga menjadi suatu masa keadaan yang menyakitkan dan kesulitan yang besar. Keinginan beliau untuk tiba di Cina (melalui Yunan) guna mengunjungi arama-arama warga Myanmar yang berada di daerah perbatasan tidaklah tercapai.

Ketika Cina mendeklarasikan perang melawan Jerman, Bhikkhu Natiloka harus mengalami pengasingan lagi di penjara polisi Hanchow. Ketika berada di sana, beliau kembali menerjemahkan A?guttara Nik?ya ke dalam bahasa Jerman. Akhirnya di awal tahun 1919, ia kembali ke Jerman karena warga Jerman yang berada di Cina diwajibkan untuk kembali ke negara asal. Inilah kunjungan terakhirnya ke negara tempat kelahirannya.

Bahkan setelah perang usai, Srilangka tetap tertutup bagi warga Jerman hingga bertahun-tahun lamanya. Karena masih didorong oleh keinginannya yang kuat untuk kembali, beliau dan Bhikkhu Vappo melanjutkan perjalanan ke Srilangka (1920). Dalam perjalanan ini mereka diikuti oleh seorang upasaka berkebangsaan Jerman, Else Buchholts. Pada tahun 1926, upasaka ini menjalani kehidupan pertapaan di Srilangka dengan nama Uppalavanna.

Upasaka Else Buchholts telah mendukung Bhikkhu Natiloka selama berada di Jerman dan membiayai semua biaya perjalanan yang mereka lakukan menuju Srilangka, namun pada saat mereka tiba di pelabuhan Kolombo (ibu kota Srilangka), mereka tidak bisa mendapatkan ijin pendaratan, meskipun semua usaha telah dibuat oleh teman-teman di Srilangka. Lalu mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke Jepang di mana Bhikkhu Natiloka mengajar di sekolah tinggi dan berbagai universitas selama lima tahun di sana. Akhirnya pada tahun 1926, setelah absen 12 tahun, beliau baru bisa kembali ke Srilangka.

Di Island Hermitage, beliau menemukan banyak gedung dalam kondisi rusak, tetapi segera dibangun pondok-pondok baru untuk para pendatang. Dalam waktu yang singkat, para pendatang mulai berdatangan untuk belajar dan mendalami Buddha-Dhamma serta kehidupan religius. Mereka yang berasal dari berbagai negara di dunia, khususnya dari Barat.

Pada tahun 1928, E.L. Hoffmann (Acarya Anagarika Govinda) tinggal untuk beberapa waktu di Island Hermitage mempelajari bahasa P?li. Belakangan ini ia menetap di tempat yang bertentangan dengan Bhikkhu Natiloka di Bukit Wariyagoda, Srilangka, di mana setelah Perang Dunia II, Uppalavanna juga tinggal di sana.

Berikut ini adalah beberapa bhikkhu yang tinggal di Island Hermitage pada dua periode Perang Dunia adalah Bhikkhu Nadhara dari Jerman. Beliau adalah seorang bhikkhu yang sangat didedikasikan, meninggal di Myanmar pada tahun 1935. Beliau dirawat oleh Bhikkhu Natiloka pada saat beliau sudah tidak bisa bangun lagi dari tempat tidurnya. Berita sakitnya Bhikkhu Nadhara mempercepat beliau tiba di Myanmar. Bhikkhu lainnya yang sungguh-sungguh berusaha keras adalah Bhikkhu Nasisi dari Jerman, ditahbiskan menjadi samanera pada tahun 1936 dan diupasampada pada tahun 1937. Ia meninggal pada tahun 1950, segera setelah mengadakan suatu kunjungan ke saudara laki-lakinya Georg Krauskopf, seorang penulis Buddhis yang cakap.

Pada saat Perang Dunia II, Bhikkhu Natiloka dan siswa-siswanya dari Jerman harus menukar kedamaian Island Hermitage menjadi kehidupan di kamp pengasingan sipil. Setelah dua tahun dalam sebuah kamp di Diyatalawa – Srilangka, semua tawanan dikirim ke India Utara, ke sebuah pusat camp pengasingan di daerah Dehra Dun, dekat bukit Himalaya. Di sana Bhikkhu Natiloka beserta bhikkhu lainnya menghabiskan waktu lima tahun di belakang kawat berduri hingga musim gugur 1946, mereka baru diijinkan untuk kembali ke Srilangka.

Pada saat kembali ke Srilangka, beliau menemukan Island Hermitage dalam keadaan terpelihara serta kondisinya yang baik. Bhikkhu Naloka Mah?thera telah merawat Island Hermitage dengan baik, meskipun mengalami banyak kesulitan selama Perang Dunia yang begitu lama. Bagi Bhikkhu Naloka Mah?thera, periode kedua dari tempat pengasingan itu membuktikan ternyata lebih banyak menguntungkan dari yang pertama. Pelayanan dan kondisi kehidupan di camp lebih baik, mengijinkan untuk menggunakan waktunya secara luas untuk menerjemahkan kitab suci serta karya tulisnya.

Setelah mengalami banyak pengalaman dalam dua periode Perang Dunia, pada tahun 1950, Bhikkhu Natiloka menyambut gembira menerima kewarganegaraan Srilangka. Negara kelahirannya (Jerman) juga mengenang pekerjaan seumur hidupnya yang terkemuka sebagai seorang pelajar Buddhis. Pada tahun 1955, beliau ditunjuk sebagai seorang anggota kehormatan dari sebuah perkumpulan akademik bergengsi untuk pelajar-pelajar Timur. Dass Deutsche Morgenlandische Gesellschaft, Surat penunjukkan sebagai anggota kehormatan dipersembahkan untuk beliau oleh Duta Besar Republik Federal Jerman yang dijabat oleh Dr. Georg Ahrens.

Dengan pelepasan sejati dari “hidup tanpa rumah”, seorang warga dari empat belahan dunia, ia mengerti akan tidak adanya cinta tunggal (exclusive love) untuk suatu negara. Tetapi dengan keharusan secara emosi beliau merasa sangat bahagia di antara orang Srilangka yang dikenal, dan jalan hidup yang telah dibentuknya sendiri di negara ini. Tetapi beliau juga merasakan sebuah rasa kekeluargaan dan kekaguman terhadap mereka, bangsa Buddhis yang besar dari Myanmar, tanah tempat beliau diupasampada.

Beliau mengunjungi Myanmar sekitar delapan kali pada tahun 1951. Beliau dan siswanya (Bhikkhu Naponika) diundang ke Myanmar sebagai tamu kenegaraan untuk berkonsultasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan konferensi Buddhist ke-6 (Chattha Sa?gayana). Kunjungan terakhirnya ke Myanmar pada tahun 1954, di mana Bhikkhu Natiloka dan Bhikkhu Naponika ikut bergabung dalam pembukaan sesi Konferensi tersebut yang begitu hikmat.

Sejak tahun 1952, Bhikkhu Natiloka melewati waktunya di forest Hermitage dekat kota Kandy, di sebuah pondok kecil nan sederhana bernuansa kehutanan di perbukitan tinggi di atas kota Kandy.

Pada pertengahan tahun 1954, beliau jatuh sakit. Setelah lama tinggal dan dirawat di R.S. Kandy, ia menjalani operasi di Kolombo pada bulan Januari 1955. Sekembalinya beliau ke Kandy, dilakukanlah perawatan kesehatan hingga beberapa bulan berikutnya. Tetapi pada waktu itu beliau berkata kepada Bhikkhu Naponika, “Saya tidak akan mencapai usia 80.” Ketika menjelang akhir 1955, kesehatan fisiknya mulai menurun, beliau pergi ke Kolombo di mana perawatan dan perhatian dokter lebih mudah didapatkan daripada di daerah pedalaman.

Para utusan dari “German Dhammaduta Society” datang mengunjugi beliau, waktu itu beliau tinggal di kuti dari tempat perkumpulan, di mana ia dirawat dengan penuh intensif. Di tempat inilah beliau melewati vassa terakhir dalam hidupnya. Walaupun pengobatan diberikan dengan baik, namun kesehatannya berlanjut menurun, dan pada tanggal 28 Mei 1957 beliau meninggal dengan tenang, sekitar 3 bulan setelah ulang tahunnya yang ke 79 tahun.

Upacara kremasi dilakukan pada tanggal 2 Juni 1957, di Independence Square, Colombo, sebagai pusat pemakaman negara yang diberikan dalam penghormatan dan penghargaan kepada seorang bhikkhu besar dan contoh suri teladan besar Dhamma terhadap Barat. Banyak sekali orang yang berkumpul pada peristiwa ini, di antaranya Nasatta Thera, Perdana Menteri Srilangka Mr. S.W.D. Bandaranaike, dan duta besar Jerman. Perabuannya dibawa ke Island Hermitage, Dodanduwa, dan diletakkan di dekat pondok di mana dulu beliau pernah menetap.

Sebuah monumen didirikan, yang mana bait Dhamma yang terkenal, dari Bhikkhu Assaji yang telah menuntun Petapa Sariputta ke dalam Dhamma, diukir dalam empat bahasa yaitu P?li, Sinhala, Jerman, dan Inggris.

“Of things that proceed from a cause,
their cause the Tath?gata proclaimed;
and also their cessation.
Thus taught the Great Sage.”

(“Semua benda timbul kerena satu ‘sebab’,
sebabnya telah diberitahukan oleh Sang Tath?gata;
dan juga lenyapnya kembali.
Itulah yang diajarkan oleh Sang Petapa Agung.”)

Karya tulis Ven. Natiloka

Pada awal tahun 1905, beliau mulai menerjemahkan A?guttara Nik?ya ke dalam bahasa Jerman (Angereihte Sammlung). Bagian pertama dari buku kesatu diterbitkan pada tahun 1907 oleh Percetakan Walter Markgraf Verlag), dan pada tahun berikutnya bagian lain diterjemahkan kembali dari buku keempat. Edisi pertama dipublikasikan pada tahun 1922 dalam lima seri oleh Oskar Schloss Verlag). Edisi barunya, direvisi oleh Bhikkhu Naponika, yang diterbitkan pada tahun 1969 dalam lima seri.

Berikut ini adalah beberapa karya tulis yang telah disusun oleh beliau, yang terkenal di daratan Jerman dan negara-negara barat lainnya, yaitu:

  1. “Dass Buch der Charaktere”, The book of Character, 1910 (terjemahan dari Puggala Pa??atti, Abhidhamma Pitaka).
  2. A systematic P?li Grammar (1911).
  3. “Die Fragen des Koenigs Milindo”, The Questions of King Milinda (bahasa Jerman) (Milinda Pa?h?; Vol.I: 1913/14; Vol. I/II: 1924).
  4. A P?li Anthology and Glosary, dalam bahasa Jerman, yang telah disusun pada tahun 1928. Edisi pertama dari Visuddhi Magga “Der Weg Zur Reinheit” (bahasa Jerman). “The path to Purity” yang terbit pertama kali pada tahun 1952, dan kedua, edisi yang telah direvisi diterbitkan pada tahun 1976, yang telah disusun pada tahun 1931.
  5. Guide through the Abhidhamma Pitaka (bahasa Inggris), yang telah dicetak ulang pada tahun 1957 dan 1971 (Buddhist Publicaton Society / BPS, KandySrilangka), disusun pada 1938.
  6. Fundamentals of Buddhism. Dhammadesana yang tersusun dalam 4 bagian (bahasa Inggris) yang disusun pada tahun 1949.
  7. Kamma and Rebirth, dipublikasikan oleh BPS pada tahun 1964. Dua karya yang penting diterbitkan di Inggris pada tahun 1952.
  8. Buddhist Dictionary. Sebuah buku pedoman dari istilah-istilah Buddhis dan Buddha Dhamma (edisi kedua diterbitkan di Colombo City (Kota Kolombo) pada tahun 1956; edisi ketiga yang telah direvisi dan diperluas oleh Ven. Naponika (siswa Bhikkhu Natiloka) pada tahun 1972. Versi bahasa Jerman pertama pada tahun 1953, kemudian edisi kedua diterbitkan pada 1976 oleh Verlag Christiani, Konstanz. Juga sebuah versi lainnya dalam bahasa Prancis, yang diterjemahkan oleh Suzanne Karpeles, yang diterbitkan oleh “Adyar” – Paris, tahun 1961dengan judul “Vocabulaire Bouddhique de Termes et Doctrines du Canon P?li.”
  9. The Path to Deliverance (jalan menuju pembebasan), terbagi atas tiga bagian dan tujuh tingkat dari kemurnian, yang pada edisi kedua telah direvisi pada tahun 1959, versi Jerman diterbitkan pada tahun 1956 oleh Verlag Christiani. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pada edisi kedua dilakukan di Surabaya pada tahun 1970. Di dalam buku ini dilengkapi dengan keterangan-keterangan antologi, dan dapat dipandang sebagai sebuah supplement lebih lanjut terhadap “Sabda Sang Buddha.” Buku ini kaya akan pelajaran-pelajaran yang bersifat instruktif ( penerangan dan pengarahan) dan tulisan-tulisan yang menginspirasikan kita.

Bhikkhu Bodhi

Bhikkhu Bodhi adalah seorang bhikkhu yang berasal dari Amerika Serikat. Beliau dilahirkan dengan nama Jeffrey Block di New York City pada tahun 1944. Ia menerima gelar ahli filsafatnya (baca: Doktor ilmu filsafat) dari sekolah Claremont Graduate pada tahun 1972 dan pada tahun yang sama ia bergabung di Buddhist Order-Srilangka sebagai samanera, yang pada tahun 1973. Beliau diupasampada menjadi seorang bhikkhu di bawah bimbingan Bhikkhu Balangoda Ananda Maitreya Mahanayaka Thera.

Pada tahun 1977, Bhikkhu Bodhi kembali ke Amerika Serikat dan melewati waktu hampir dua tahun di Biara Geshe Wangyal dan tiga tahun di Washington Buddhist Vih?ra. Ia kembali ke Srilanka pada tahun 1982 dan pada tahun 1984, setelah masa periode pelatihan meditasi di Mitirigala Nissarana Vanaya, ia menerima jabatan redaktur di Buddhist Publication Society (n.b: lembaga penerbitan buku-buku Buddhist International). Ia telah menterjemahkan banyak kitab Tipitaka ke dalam bahasa Inggris, diantaranya adalah The Connected Discourses of the Buddha-Samyutta Nik?ya. Kemudian mengedit dan meninjau kembali terjemahan Bhikkhu ??namoli akan kitab Majjhima Nik?ya.Kedua buku ini dipublikasikan oleh Wisdom

Bhikkhu Bodhi adalah juga seorang penulis dari beberapa karya penting mengenai Ajaran Sang Buddha (Therav?da) dan juga selama beberapa waktu (hingga tahun kemarin) memegang tanggung jawab sebagai ketua/presiden, peninjau, pengamat (editor) dari Buddhist Publication Society (BPS), yang berlokasi di 54, Sa?gharaja Mawatha, P.O. Box 61 Kandy-Srilanka di mana pada tempat ini telah banyak sekali menerbitkan baik berupa buklet ataupun buku-buku mengenai Buddhisme dengan berbagai topik dari berbagai pengarang yang telah memiliki pengalaman dan pendidikan murni dari Dhamma, sebuah ajaran yang murni, yang dilaksanakan dan dipelajari sejak 2546 tahun yang lalu hingga sekarang, yang diturunkan melalui para Thera hingga sekarang. BPS juga telah mempublikasikan buku-buku maupun buklet yang berisi Buddha Dhamma dengan bebas biaya, dan juga menerima sumbangan dari para umat/donatur yang ingin menyebarkan Buddha Dhamma, diantaranya termasuk juga karya-karya tulis Bhikkhu Bodhi, sebagai berikut:

A Comprehensive Manual of Abhidhamma,
D?na; The Practice of Giving ( buku ini telah di terjemahkan di Indonesia oleh Wisma Sambodhi-Klaten),
The Discourse On the All-Embracing Net of Views; The Brahmajala Sutta and Its Commentaries,
The Discourse On Root of Existence; The Mulapariyaya Sutta and Its Commentaries,
The Great Discourse on Causation; The Mah?nidana Sutta and Its Commentaries,
M?ha Kaccana; Master of Doctrinal Exposition,
The Noble Eightfold Path, Nourishing the Roots, dan karya-karya lainnya.

Bhikkhu Sumangalo

Bhikkhu Sumangalo dilahirkan di barat daya Inggris pada tahun 1960. Ia dibesarkan dalam sebuah didikan evolusionis/paham ilmiah suatu kebendaan, dan dengan semangat menyelidiki.

Sejak usia muda, ia tertarik (hal-hal yang berhubungan) dengan kesadaran/pikiran. Di usia remajanya, ia memiliki keyakinan di dalam meditasi sebagai sebuah bentuk dari pelatihan dalam berkonsentrasi, kebulatan hati dan tekad serta pengertian/pemahaman akan kesusahan dan kesulitan hidup. Akan tetapi waktu itu ia tidak tahu banyak terhadap hal hal tersebut sampai ayahnya mulai mempelajari Ajaran Sang Buddha.

Setelah menyelesaikan studinya di universitas, ia kembali ke rumah dan bersama dengan ayahnya, mengunjungi Bhikkhu Munindo yang berasal dari Selandia Baru. (profil mengenai beliau telah dicantumkan pada edisi 27, tahun 2002) yang mana sekarang ini Bhikkhu Munindo menetap di Vih?ra Aruna Ratanagiri-Inggris). Pada waktu itu, Bhikkhu Munindo, yang telah berlatih dengan Y.M. Ajahn Chah, baru saja pergi ke barat daya Inggris untuk membantu sebuah Vih?ra.

Dua tahun kemudian ia memasuki kehidupan religius (kehidupan kebhikkhuan, dengan nama Sumangalo) dengan Ajahn Sumedho dan telah berlangsung selama enam belas tahun. Ia diupasampada menjadi seorang bhikkhu setelah dua tahun dengan nama Sumangalo, dan kemudian waktu itu ia ditugaskan ke Australia Barat, di mana ia mengisi waktu selama lima tahun bersama Bhikkhu Jagaro dan Bhikkhu Brahmavamso.

Pada waktu-waktu itu, Bhikkhu Sumangalo mulai mempraktikkan metode meditasi Mahasi Sayadaw. Ia menemukan pendekatan ini sangatlah jelas dan langsung menuntun kepada pikiran untuk merasakan meditasi yang dibicarakan oleh Y.M. Ajahn Chah. Venerable Sumangalo telah berulang ulang berlatih dengan Sayadaw U Janaka dan Bhikkhu Sujivo juga guru-guru lainnya akan metode (meditasi) ini, dan ia berbahagia akan ajaran yang didapatnya. Ia adalah seorang yang giat didalam praktik di Selandia Baru dan lalu menunjungi Eropa untuk melewati waktu di sana dan membandingkan catatan-catatan dengan para bhikkhu yang pernah berjumpa dengannya ketika pertama kali ia memulai kehidupan kebhikkhuan.

Bhikkhu Thanavaro

Bhikkhu Thanavaro (Giuseppe Proscia, baca: jiuseppe proskia) dilahirkan di timur laut Italia tahun 1955. Ia memiliki minat kuat pada seni yang sudah terlihat sejak usia muda. Ia belajar musik, menari dan drama. Beliau juga ikut dalam wajib militer dalam kubu ketentaraan Italia (Italian Army).

Ia bertemu dengan siswa Lama dari Tibet, yang memperkenalkannya pada ajaran Sang Buddha. Setelah menjalani tahun pelayanan nasionalnya (wajib militer), dia melewati waktu di London mempelajari musik, dan bekerja di restoran fast food. Beberapa waktu kemudian, Giuseppe kembali ke Italia, ia membaca artikel mengenai Buddhist centre di Inggris (melalui buku yang disusun oleh Christmas Humphreys; seorang pengarang Buddhis yang berhasil dari Inggris), juga dalam percakapan sepintas lalu orang-orang yang mengetahui mengenai Bhikkhu Sumedho ketika berada di sebuah kafe. Ia memutuskan untuk kembali ke Inggris, ia pergi berkunjung ke Oaken Gold Buddhist centre dekat Oxford untuk bertemu Bhikkhu Sumedho.

Pada tahun 1977, Giuseppe Proscia menjadi seorang Anagarika di Vih?ra Hampstead, dan menjadi samanera pada tahun 1978. Ia diupasampada pada tahun 1979 di sebuah kapal di sungai Thames, dan guru pembimbingnya yaitu Y.M. Dr. Saddhatissa. Jadi dia adalah siswa barat pertama yang berlatih di Vih?ra Ajahn Chah yang ditahbiskan di Inggris dengan nama Thanavaro. Bhikkhu Thanavaro menghabiskan waktu enam tahun di Vih?ra Chithurst dan Vih?ra Harnham sebelum menemani Bhikkhu Viradhammo ke New Zealand (Selandia Baru) tahun 1985, untuk membantu pembangunan vih?ra di Wellington.

Bhikkhu Shravasti Dhammika

Bhikkhu Shravasti, seorang Profesor Buddhis yang dilahirkan di Australia pada tahun 1951. Ia ditahbiskan sebagai bhikkhu di India, kemudian bermukim di Srilanka. Usahanya beliau sangat besar di dalam memperkenalkan Agama Buddha kepada dunia.

Ia menetap di Singapura tahun 1985, sebagai guru pembimbing Organisasi Perkumpulan Dhamma Mandala dan kelompok-kelompok pengkaji agama Buddha lainnya. Ia juga aktif dalam lembaga pendidikan terutama pengembangan kurikulum dan siaran televisi. Karya tulis beliau diantaranya adalah; Matrceta’s Hymns to The Buddha, All about Buddhism (yang telah diterjemahkan dan beredar di Indonesia sekitar awal tahun 90-an dengan judul buku Dasar Pandangan Agama Buddha, diterjemahkan oleh Dr. Arya Tjahjadi. Dalam waktu dekat, buku itu akan diterbitkan kembali dalam cetakan baru.

Buku ini menjawab masalah-masalah yang menarik mengenai alam semesta; kamma, yang sering diterjemahkan oleh masyarakat umum dengan sulit-sulit dan susah-payah, padahal artinya hanyalah “action”, dan Bhikkhu Shravasti menjelaskannya di sini, kita juga sering mendengar kata “jalan tengah berunsur delapan” yang kita tahu hanyalah pikiran benar, pandangan benar, ucapan benar, mata pencaharian benar, … dan seterusnya. Tetapi kita tidak pernah tahu apa isi dari kedelapan unsur jalan tengah tersebut. Bhikkhu Shravasti menjelaskan delapan unsur jalan tengah ini, yang telah saya baca dan ternyata indah sekali pelajarannya. Jalan tengah berunsur delapan ini, yang dulunya saya anggap adalah ajaran yang kaku, dan jauh dari yang saya bisa lakukan, tetapi ternyata setelah melihat uraian Beliau, saya baru jelas mengenai maknanya.

“Good question good answers” (buku ini berisi mengenai pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan umat dan publik umum mengenai kehidupan serta agama Buddha khususnya, anggapan-anggapan keliru di masyarakat awam, seperti membakar-bakar kertas,dan sebagainya.

Buku ini dibuat atas minat yang besar dari warga Singapura akan Ajaran Sang Buddha, lalu Bhikkhu menuturkan ulang pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan kepadanya oleh kalangan “non Buddhis” (yang belum mengenal dan mengerti Dhamma, dengan pertanyaan-pertanyaan ataupun spekulasi-spekulasi mereka mengenai Ajaran Sang Buddha, dan dijawab oleh Bhikkhu Shravasti) serta disusun di dalam buku tersebut yang telah diterbitkan di dunia dalam berbagai bahasa, diantaranya bahasa Inggris, Mandarin, Spanyol (atas permintaan umat Buddha di Argentina), dan Indonesia. Hal ini sangat baik bagi pemula, yang ingin belajar, mengetahui dan mengerti mengenai Ajaran Sang Buddha, yang telah beredar di Indonesia melalui Yayasan Dhammadipa ?r?ma cabang Surabaya),

Buddha vacana (di dalam buku ini, beliau menulis berupa renungan-renungan harian, dari bulan Januari sampai Desember yang cocok sekali untuk dibawa. Buku ini juga telah beredar di Indonesia dengan judul yang sama).

Encounter with Buddhism, middle land middle way, The Buddha and his disciple, dan Gemstone of the Good Dhamma (yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Vajira Siek Bing Twan dengan editor Ir. Lindawati T. dan diterbitkan oleh MUTIARA DHAMMA, Jl. Sutomo 14 Denpasar-Bali 80118). Dhammapada telah dikenal oleh kalangan Buddhis dunia, yang berisikan syair-syair kesucian, kebijaksanaan dan cinta kasih. Demikian pula didalam buku ini, dengan sistem penyusunan sebagai Prosa maupun syair terdiri dari dua puluh enam bab dengan berbagai pokok pembahasan.

Judith Simmer

Judith adalah seorang Professor di Universitas Naropa di Boulder, Colorado-Amerika Serikat. Ia adalah seorang istri, ibu, profesor, dan seorang guru pengajar Buddhis, dan sekarang berada di Boulder.

Ia adalah pekerja yang rajin, ia telah mempelajari naskah-naskah agama Buddha, dan sering kali ia hadir di dalam seminar-seminar dengan topik yang menyangkut agama Buddha di negaranya.

Beberapa dialognya dengan beberapa pembicara Buddhis yang lain tercatat di dalam situs Buddhist mengenai segala sesuatu di monastic dialog dalam bentuk pertanyaan dan respond dari Judith Simmer.

Sharon Shalzberg

Sharon telah menjadi seorang siswi Agama Buddha sejak tahun 1971, dan telah membimbing latihan meditasi yang meliputi banyak negara sejak tahun 1974. Ia mengajar latihan meditasi vipassan? dan Brahmavih?ra. Ia juga adalah salah satu pendiri Insight Meditation Society di Barre-MA, the Barre Center for Buddhist Studies dan The Forest Reguge.

Sekarang ini Sharon telah menyelesaikan karya bukunya dengan judul Faith, yang penerbitannya oleh Riverhead books pada bulan Agustus 2002. Ia adalah penulis buku mengenai cinta kasih/metta “The revolutionary art of happiness” dan “A heart as wide as the world” oleh Shambala Publications, dan juga Lovingkindness meditation (dalam bentuk Audio) yang dikerjakan oleh Sounds True. Dan juga kawan penulis (Ko-Author) bersama Joseph Goldstein dari buku insight meditation, langkah langkah latihan dalam “how to meditate.”

Ia juga yang telah mengedit “voice of insight”, sebuah kumpulan dari karya guru vipassan? di Barat, yang dipublikasikan oleh Shambala.

Bhikkhu Naponika

Beliau adalah seorang putra tunggal yang lahir pada 21 Juli 1901 dengan nama Siegmund Feniger. Orangtuanya membesarkan dan merawat Siegmund dengan sebuah asuhan tradisional Yahudi. Sejak Siegmund masih berusia muda, ia sudah menunjukkan kecenderungan yang kuat pada hal hal religius. Di akhir masa remajanya, segera setelah ia menyelesaikan sekolahnya, ia mulai bekerja di toko buku.

Di saat-saat yang menggelisahkan, keragu-raguannya akan hal-hal religius, mendorongnya pada pencarian mengenai hal-hal keagamaan dengan kuat, terlebih lagi pada saat ia menemukan buku-buku mengenai agama Buddha. Penemuan barunya ini membuat ia tertarik, sebuah ketertarikan yang semakin ia baca semakin tumbuh besar.

Siegmund melihat bahwa agama Buddha menyajikan, memperkenalkannya sebuah ajaran keseimbangan, kedamaian dan ketenangan yang dapat memenuhi dua sisi tuntutan kritis dari intelektual dan dorongan-dorongan religius dari lubuk hatinya.

Meskipun ia harus mempelajari agama Buddha dari bagian awal sendirian, tanpa seorang guru atau bahkan seorang teman untuk bersama sama berbagi di dalam minat religiusnya itu, namun keteguhan akan pendiriannya di dalam Dhamma Sang Buddha semakin kuat dan kokoh di saat usianya yang keduapuluh (1921), di mana ketika itu ia menyatakan dirinya sebagai seorang umat Buddha yang yakin sepenuhnya di dalam Tiratana.

Pada tahun 1922, ia pindah ke Berlin bersama orangtuanya, di mana ia bertemu dengan umat Buddha yang lain, dan menghantarkannya pada sederetan kesusastraan karya Buddhis kenamaan, dan di kota inilah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan karya tulis dan terjemahan terjemahan Bhikkhu Natiloka yang telah diterbitkan di Jerman.

Siegmund mendengar bahwa Bhikkhu Natiloka telah membangun sebuah ?r?ma untuk bhikkhu-bhikkhu barat yang dinamai “Island hermitage” pada sebuah tempat di Lagoon dekat Dodandua-Srilanka. Laporan ini tertanam dan memunculkan sebuah ide dipikirannya yang semakin lama semakin berkembang menjadi sebuah dorongan yang besar untuk pergi ke Asia dan menjadi bhikkhu

Idenya ini, tidak dapat dilaksanakan hingga beberapa waktu. Pada 1932 ayahnya meninggal dan Siegmund tidak ingin meninggalkan ibunda tercinta tinggal sendirian. Lalu pada tahun 1933 Hitler datang muncul untuk berkuasa dan memulai rencana penyiksaan yang tanpa belas kasih terhadap orang-orang Yahudi. Pada awalnya Siegmund mencoba sebaik mungkin untuk mempertahankan tanah airnya dengan penuh harapan bahwa penyiksaan yang sedang berjalan ini akan segera berakhir.

Di saat itu, kejadian demikian malah membuatnya jelas bahwa gelombang kebencian, kebodohan dan kekejaman sedang melilit Nazi yang berkembang pesat. Di saat-saat yang menggelisahkan dan gempar itu, ia sadar bahwa dia maupun ibunya tidak lagi dapat tinggal di Jerman dengan selamat. Maka pada bulan November 1935 ia meninggalkan Jerman bersama ibunya menuju Vienna, di mana tempat kerabat-kerabat mereka tinggal. Ia menginginkan ibunya tinggal dengan kerabat mereka.

Di awal tahun 1936 ia meninggalkan Eropa menuju Srilanka, di mana ia bertemu dengan Bhikkhu Natiloka di Island Hermitage. Pada tahun yang sama (1936), ia ikut pabbajja samanera dan tahun berikutnya diupasampada oleh guru beliau Bhikkhu Natiloka (1937) sebagai bhikkhu dengan nama Naponika, yang berarti “tahap atau langkah menuju kebijaksanaan.”

Pada tahun 1939, setelah Nazi menyerbu Austria, Bhikkhu Naponika mengatur rencana untuk ibunya dan sanak famili yang lain agar bisa tiba di Srilanka, sanak keluarga lainnya pada akhirnya bermigrasi ke Australia, tetapi ibunya tetap berada di Srilanka. Ia tinggal di rumah pasangan warga Srilanka yang dermawan, Sir. Ernest dan Lady de Silva, dan menjadi anggota keluarga yang sangat dicintai di rumah tangga mereka. Ibunya meninggal di Colombo City pada tahun 1956. Melalui dorongan dari putranya sendiri (Bhikkhu Naponika) dan para teladan yang menjadi tuan rumah di mana ia menetap, ia memeluk agama Buddha dan menjadi seorang pengikut yang taat dan setia.

Di bawah bimbingan gurunya, ia belajar bahasa P?li dan pendidikan Therav?da, sementara itu ia juga melanjutkan pelajaran bahasa Inggrisnya. Ketika Perang Dunia II dimulai antara Jerman dan Inggris tahun 1939, kedua bhikkhu Jerman ini, Bhikkhu Naponika & Bhikkhu Natiloka, sama seperti semua orang Jerman yang tinggal di negara bekas jajahan Inggris akan diasingkan ke tempat pengasingan, terutama di Diyatalawa – pedalaman Srilanka, dan kemudian menuju ke Dehra Dun, di India utara. Meskipun sulitnya keadaan di tempat pengasingan ini, namun Bhikkhu Naponika tetap menyelesaikan terjemahan Sutta Nip?ta, Dhammasa?gani dan komentarnya (buku bagian pertama dari Abhidhamma Pitaka), Atthasalini, ke dalam bahasa Jerman. Ia juga menghimpun naskah-naskah antologi mengenai meditasi Satipatth?na.

Ketika perang dunia telah usai, kedua bhikkhu Jerman ini dibebaskan dari tempat pengasingan pada tahun 1946 dan kembali ke Srilanka, di mana mereka mulai kembali tinggal di Island Hermitage. Pada awal tahun 1951 mereka berdua menjadi penduduk dari negara Srilanka yang baru merdeka.

Pada tahun yang sama 1951, Bhikkhu Natiloka (guru dari Bhikkhu Naponika) ditawari sebuah tempat pertapaan dekat Kandy, di Udawattakele Forest Reserve, yang kemudian disetujuinya

Dengan usianya yang telah lanjut (Ven. Natiloka), ia lebih memilih iklim yang lebih sejuk di bukit dari pada iklim tropis yang panas di Island Hermitage. Tahun berikutnya, Bhikkhu Naponika bergabung dengannya, dan demikian-lah gubuk koloni tua di hutan itu telah diubah fungsi menjadi hutan pertapaan atau yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah jarmen pansala “The german temple.”

Pada tahun 1952, Bhikkhu Natiloka dan Bhikkhu Naponika diundang ke Burma untuk mengadakan konsultasi bersama mengenai persiapan Buddhist council yang keenam, di mana pemerintah Burma bermaksud untuk bersidang di tahun 1954 nanti, tujuan untuk pemeriksaan kembali dan pencetakan ulang seluruh aturan tata bahasa P?li beserta komentar-komentarnya. Setelah berkonsultasi, Bhikkhu Naponika menetap di Burma selama satu periode pelatihan “meditasi Vipassan? dibawah bimbingan guru besar meditasi, Bhikkhu Mahasi Sayadaw.

Pengalaman inilah yang sangat berkesan di hatinya, mendorong beliau untuk menulis buku terbaiknya yang terkenal di seantero dunia “The heart of Buddhist meditation” (yang telah diterbitkan oleh BPS pada tahun 1992) agar orang lain juga bisa merasakan manfaat dari pelatihan meditasi yang dituturkan dalam sistem pelaksanaan agama Buddha.

Lalu tiba saatnya pada tahun 1954, mereka berdua kembali ke Burma (Myanmar) untuk membuka acara peresmian, dan juga pada acara penutupan peresmian dua tahun kemudian, di tahun 1956. Pada acara penutupannya Bhikkhu Naponika pergi sendiri ketika gurunya (waktu itu) sedang sakit. Lebih dari satu tahun berikutnya kesehatan Bhikkhu Natiloka tetap buruk, lalu memohonnya agar pindah ke Colombo City di mana ia akan dapat menerima perhatian medikal yang lebih intensif.

Pada tanggal 28 Mei 1957 Sang Pelopor besar ini meninggal dunia, dan pada tanggal 2 Juni dimakamkan di sebuah tempat pemakaman resmi-kenegaraan di Independence square, dihadiri oleh perdana menteri, S.W.R.D. Bandaranaike, dan banyak negara-negara resmi, baik umat maupun orang-orang religius yang terkemuka.

Sebagai tanda penghargaan, penghormatan dan terima kasih kepada Bhikkhu Natiloka, Bhikkhu Naponika meninjau ulang terjemahan lengkap A?guttara Nik?ya dalam bahasa Jerman, mengetik kembali lima jilid buku dengan lengkap, dan juga menyusun empat puluh halaman dari index menjadi sebuah karya, sesuai dengan permintaan gurunya.

Enam bulan setelah gurunya meninggal, karier/tugas dan kewajiban Bhikkhu Naponika sebagai orang yang menerangkan dan menguraikan Dhamma diajukan dalam pimpinan baru, yang tidak pernah diduga sebelumnya. Seorang pengacara terkemuka di Kandy, A.S; Karunaratne, menyarankan kepada seorang temannya, pemilik sekolah yang telah pensiun; Richard Abey Sehera, di mana mereka memulai sebuah kesatuan masyarakat guna mengumumkan literatur Buddhis ke dalam bahasa Inggris, terutama untuk disebarkan ke luar negeri.

Karya-karya Bhikkhu Naponika diantaranya adalah Numerical Discourses of the Buddha. Sebuah buklet A?guttara Nik?ya Anthology yang telah diterbitkan di bawah bantuan International Sacred Literature Trust (Perserikatan Karya/Literatur Suci Internasional) yang kemudian ditinjau kembali oleh Bhikkhu Bodhi. Buku tersebut telah diterbitkan di Indonesia melalui Wisma Sambodhi-Klaten pada edisi pertama November 2001, yang diterjemahkan oleh Dra. Lanny Anggawati dan Dra. Wena Cintiawati dengan judul “A?guttara Nik?ya”

Karya-karya Bhikkhu Naponika telah diterbitkan oleh penerbit buku religius Buddhis diantaranya BPS (Buddhist Publications Society) dan Bodhi Leaves, pada penerbitan kedua kalinya itu dilakukan secara lebih luas oleh BPS, dan pada saat itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Bhikkhu Naponika yang ke 93 tahun 1994 (3 bulan sebelum ia meninggal). Penyebaran buku-buku itu muncul sampai di Amerika Serikat. Buku yang telah diterbitkan adalah sebagai berikut:

  • The discourse on the snake simile, oleh BPS 1962
  • The way to freedom, dipublikasikan oleh BPS tahun 1994
  • The power of mindfullness, yang mana dalam buku ini berisi penjelasan mengenai Satipatthana
  • The roots of Good andEvil
  • Buddhism and the God idea.

Sebuah buku berjudul “Great disciples of the Buddha” yang ditulis oleh Hellmuth Hecker, menceritakan kehidupan siswa-siswa mulia Sang Buddha, termasuk di dalamnya bercerita mengenai kehidupan Bhikkhu Naponika, yang dipublikasikan secara bersama antara Wisdom Publication dan Buddhist Publication Society (BPS). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Perancis, hingga tersedia pula bagi pembaca di kedua negara tersebut.

Michele McDonald Smith

Michele telah berlatih meditasi sejak tahun 1975, lalu ia belajar dengan Sayadaw U Pandita. Kemudian pada tahun 1982 ia mengajar latihan meditasi Buddhis di Insight Meditation Society-Barre Massachusetts dan juga di berbagai negara di seluruh dunia, termasuk kegiatan latihan tiga bulan yang dilaksanakan tiap tahun kepada peserta yang berpengalaman yang ikut bergabung pada musim gugur. Juga untuk latihan meditasi perkembangan bagi anak muda, ia mempunyai minat khusus di dalam meneliti atau menjelajahi hubungannya antara latihan intensif (giat, secara mendalam dan sungguh sungguh), latihan tiap hari, dan psikoterapi.

Waktu di perguruan tinggi, pada masa awal usia dua puluhan, Michele mengungkapkan kecintaannya akan dunia alam (sebagai pecinta alam) dengan bekerja untuk Massachusetts Audubon, mengajarkan pendidikan lingkungan di Massachusetts, Maine, serta tempat pekarangan di Utara Maine.

Ia telah bekerja dengan sejumlah besar orang Barat dan guru-guru Asia. Ia terutama sekali tertarik akan ajaran-ajaran mengenai pembebasan _ kemungkinan yang sangat nyata akan pembebasan dari ketamakan, kebencian, dan angan-angan belaka (delusi) di dalam hidup ini yang biasa kita kenal dengan sebutan moha.

Tahun 1983 ia pindah ke Honolulu untuk membantu pendirian Vipassana Hawai bersama suaminya Steven Smith. Ia terus berlatih secara giat dan sungguh-sungguh dan telah belajar dengan guru ternama yang berpengalaman penuh, yang berasal dari Birma, Sayadaw U Pandita sejak tahun 1984.

Steven Smith

Steven Smith adalah guru pembimbing di Insight Meditation Society di Barre-Massachusetts, pusat latihan lembah Kyaswa di Birma dan Blue Mountain Meditation Center di Australia, juga seorang pendiri “Vipassana Hawai” pada tahun 1984.

Lahir dan dibesarkan di Hawai, ia telah sangat mengenal penduduk asli Hawai dan kebudayaan Asia lokal sepanjang hidupnya. Melanjutkan sekolahnya ke Universitas, Smith tinggal dan berkeliling untuk masa periode panjang di India dan Asia Tenggara sebagai seorang pelajar akan praktik meditasi. Berlabuh pada Tradisi umat Buddha Theravada di Asia Tenggara sejak tahun 1974, ia telah berlatih sebagai seorang bhikkhu dengan seorang guru meditasi terkenal, bhikkhu yang berasal dari Birma, Sayadaw U Pandita.

Steven baru-baru ini bekerja sama dengan guru meditasi Birma dan Bhikkhu Sayadaw U Lakkhana dalam pengembangan Pusat latihan Lembah Kyaswa dalam Bukit Sagaing di dataran tinggi Burma di mana Agama Buddha Theravada telah berjalan baik sejak abad ketigabelas. Pusat ini menawarkan kesempatan unik kepada pelajar-pelajar luar negeri mengenai budaya Theravada di bawah persetujuan dan petunjuk dari bhikkhu pimpinan dan umat Barat sebagai pembimbing (the concurrent guidance of a senior monk and western lay teacher). Peserta latihan datang dari berbagai negara Barat dan Asia, dan setiap tahun ada lebih banyak peserta dibanding tempat yang tersedia.

Di dalam kaitannya dengan tugas, Steven adalah pendiri dari Proyek Metta Dana, di mana ia bekerja sangat dekat dengan bhikkhu senior dari Birma untuk menghasilkan bantuan dalam proyek pengobatan dan pendidikan (generate aid for educational and medical projects) di daerah Bukit Sagaing dari dataran tinggi Birma (Sagaing Hills area of Upper Burma).

Sejak 1966, Tuan Smith juga telah menjadi anggota Working Group dan penasehat senior dalam praktik meditasi untuk pusat Contemplative Mind in Society (CMIS), sebuah proyek yang diprakarsai oleh Yayasan Nathan Cummings dan Institute Fetzer. Misi dari CMIS adalah untuk menyatupadukan kesadaran meditasi ke dalam kehidupan nyata (kontemporer).

Sejak tahun 1966, Steven telah memegang tanggung jawab akan perkembangan program-program untuk dan juga ajaran meditasi, pembina/pemimpin/tokoh National environmental (yang berhubungan dengan lingkungan nasional/tokoh lingkungan nasional), Business executives (pelaksana bisnis), wartawan, dan sukarelawan yang bertugas di dalam event atau peristiwa suatu kegiatan yang dilakukan CMIS.

Joseph Goldstein

Ia telah menjadi pembimbing latihan meditasi vipassana dan metta bhavana di negara-negara pada berbagai benua sejak tahun 1974.

Joseph adalah salah satu pendiri dan guru pembimbing yang menetap di Insight Meditation Society, yang berlokasi di Barre, Massachusetts.

Pada tahun 1989, ia bersama dengan beberapa guru yang lainnya dan juga murid-murid dari Insight Meditation membantu pembangunan “Barre center for Buddhist studies.”

Sekarang ini ia mengembangkan Forest Regufe, sebuah pusat pelatihan baru bagi pelatihan meditasi tingkat lanjut (Long Term).

Joseph pertama kali tertarik pada agama Buddha ketika menjadi salah satu sukarelawan koorporasi perdamaian di Thailand tahun 1965.

Dan sejak tahun 1967 ia belajar dan berlatih berbagai meditasi Buddhis di bawah bimbingan para guru ahli dari India, Birma, dan Tibet.

Beberapa buku telah ia buat, di antaranya buku yang berjudul One Dharma: “The practice of freedom”,

“The Experienc of Insight”

(kedua buku ini berisi mengenai meditasi Vipassana).

Dan pengarang yang sama dari buku “Seeking the heart of wisdom” dan “Insight meditation.” Buku terbarunya yang diberi tittle One Dharma: “The Emerging Western Buddhism” diterbitkan pada bulan Juni yang lalu 2002.

Bhikkhu Amaro

Bhikkhu Amaro lahir di Kent, Inggris pada tahun 1956, dengan nama Jeremy Horner. Ia belajar Psikologi dan Fisiologi (ilmu faal atau cabang biologi yang berkaitan dengan fungsi dan kegiatan kehidupan atau organ, sel, dan jaringan) di Bedfrod College, Universitas London, dan berhasil mendapatkan gelar Sarjana Muda. Minat religius pertamanya mulai tumbuh pada saat membaca karya Rudolph Stiner.

Ketika dalam menyelesaikan gelarnya, dia memiliki kesempatan untuk berkeliling ke Asia, seorang teman menawarkannya pekerjaan sebagai perawat kuda di transportasi kapal muatan untuk kuda balap yang akan menuju Malaysia.

Sesuai dengan pemberitahuan dan petunjuk dari beberapa orang yang dia temui di dalam perjalanan, kemudian ia pergi ke timur laut Thailand mencari tempat untuk menetap beberapa malam sebelum pergi ke Jepang. Dan pada saat itu, ia mendengar mengenai Vihara Pah Nanachat dan para bhikkhunya yang berasal dari Barat, lalu ia mengunjungi vihara tersebut.

Kunjungannya sangat berkesan buat Jeremy – dia langsung merasakan keakraban dengan para bhikkhu di sana, dengan segera merasa seperti rumah sendiri (merasa nyaman), dan memutuskan untuk tinggal.

Pada tahun 1978 Jeremy Horner menjadi seorang anagarika, dan menjadi samanera empat bulan kemudian. Tahun berikutnya ia diupasampada oleh YM. Ajahn Chah dengan nama Amaro. Bhikkhu Amaro menetap di Thailand selama dua tahun, sebelumnya keluarganya yang sedang sakit sempat memintanya pulang ke Inggris.

Setelah itu Bhikkhu Amaro bergabung dengan Bhikkhu Sumedho di Vihara Chithurst yang ketika itu baru dibangun.

Suatu hari ketika di London, beliau memutuskan untuk menemui “saudara” nya yang dia sendiri belum pernah bertemu, seorang sarjana termasyur, presiden dan penerjemah dari Pali text Society, I.B. Horner. Sayangnya ia telah meninggal sebelum pertemuan mereka diadakan.

Pada tahun 1983 Bhikkhu Sumedho memintanya untuk menempati Vihara Harnham. Dan Bhikkhu Amaro meminta agar perjalanannya ke Vihara Harnham ini dilakukan dengan berjalan kaki yang berjarak sepanjang delapan ratus tiga puluh mil (permintaan ini diijinkan).

Bhikkhu Amaro menulis sebuah buku mengenai perjalanan panjangnya itu dengan judul “Tudong _ The long road North”, tahun 1984. Di tahun-tahun sekarang ini ia bervassa di California utara untuk beberapa bulan di tiap musim dingin. Dalam waktu dekat Bhikkhu Amaro akan tinggal secara tetap di California pada 120 Akre dari tanah perhutanan di lembah Redwood, daerah kabupatan Mendocino, 16201 Tomki Road, di mana sebuah Vihara didikan Theravada dibangun dengan nama Vihara Abhayagiri. Tanah yang diberikan kepada Bhikkhu Sumedho, ketua atau pimpinan dari vihara Amaravati, dan Yayasan Sanghapala oleh pendiri “Kota 1000 Buddha”, Master Hua. Di mana sekarang ini Bhikkhu Amaro ditemani oleh Bhikkhu Pasanno, Bhikkhuni Jitindriya, Bhikkhu Karunadhammo, Bhante Jotipalo, Bhante Pasuko, Tan Dhammadaso, Tan Obhaso, Anagarika Leif, dan Anagarika Chris.

Bhikkhu Munindo

Bhikkhu Munindo lahir pada tahun 1951 di Teawamutu (Selandia Baru). Nama kecilnya Keith Morgan, ia dibesarkan di kota Morrinsville, Selandia Baru (New South Wales). Ia adalah putra dari seorang pendeta Presbiterian dan cucu dari dua pendeta yang telah dinobatkan. Pertama kali beliau mengenal agama Buddha ketika sedang membaca buku psikologi di Universitas Waikato.

Ketika dalam perjalanannya ke Australia pada tahun 1972, ia bertemu dengan para bhikkhu di Vihara Thai, Sydney. Ketika tinggal di New South Wales utara, ia menghadiri pertemuan meditasi dengan Bhikkhu Khantipalo.

Ia meninggalkan Australia pada tahun 1973 menuju Indonesia dengan tujuan akhir tiba di Jepang untuk memperaktikkan Zen.

Ia mengajar Bahasa Inggris untuk sementara waktu di Bangkok dan bertemu dengan Bhante Sumedho beserta para bhikkhu lainnya dari Vihara Bovornives. Beliau akhirnya memutuskan menjadi samanera. Ia diupasampada di sana oleh Phra Somdet ?anasamvara pada tahun 1974 dan menjalani vassa pertamanya dengan Bhikkhu Thate di Vihara Hin Mark Peng di perbatasan daerah Laotian (Laos).

Setelah melewati beberapa waktu di sebuah Rumah Sakit di kota Bangkok dengan masalah kesehatan yang serius. Beliau bertemu dengan Bhikkhu Sumedho lagi dan pergi ke Vihara Pah Pong. Beliau kemudian ditahbiskan kembali oleh Y.M. Ajahn Chah pada tahun 1975.

Kesehatan yang buruk menyebabkannya kembali ke Selandia Baru selama enam bulan pada tahun 1979.

Selama di sana, timbul keinginan untuk mengajak para bhikkhu yang tinggal di daerah Auckland dan Wellington untuk menetap secara permanen (sesuai dengan peraturan residen para bhikkhu yang telah disepakati).

Pada tahun 1980, beliau berkeliling Inggris dan bergabung dengan perkumpulan Chithurst. Tiga tahun kemudian, Bhikkhu Munindo diberikan tanggung jawab atas pembangunan vihara di Devon, barat daya Inggris. Sekitar tahun 1989, ia menetap di Chithurst, membantu pimpinan (Sangha) dengan pengajaran dan pelatihan kepada bhikkhu-bhikkhu baru.

Sejak tahun 1990, beliau memegang jabatan tinggi di Vihara Aruna Ratanagiri, Harnham Hall Cottages, Harnham, Belsay, Northumberland. Vihara ini merupakan bagian dari vihara-vihara yang didirikan sesuai dengan anjuran dan didikan guru beliau yaitu Bhante Ajahn Chah. Di sana tinggal pula dua orang bhikkhu lainnya yaitu Bhikkhu Punnyo yang berasal dari Ampleforth di North Yorkshire dan diupasampada oleh Bhante Maha Amon di Thailand tahun 1996. Ia kembali membantu Aruna Ratanagiri sejak bulan April 1998 hingga sekarang 2002, dan Bhikkhu Abhinando berasal dari Hamburg-Jerman, diupasampada menjadi bhikkhu pada tahun 1994 oleh Bhante Sumedho. Ia bergabung di Aruna Ratangiri baru beberapa bulan beserta para anagarika, Yuri (dari Rusia yang bergabung sejak November 2001), Richard (dari Leeds, Inggris sejak Agustus 2001), Jaroslav (dari Slovakia sejak Agustus 2001), dan Vladimir (dari Republik Czech sejak September 2001).