Kematian yang Membebaskan

Upacara kematian yang paling megah yang pernah dilakukan di Indonesia, mungkin upacara kematian Ibu Tien Suharto yang meninggal dunia pada tanggal 28 April 1996. Kematian Ibu Negara ini tidak hanya dihadiri para tokoh Nasional tetapi juga hadir pemimpin-pemimpin regional yang notabene merupakan kolega Pak Harto, Dalam suatu tulisan di kompas tahun 1996 Almarhum. Romo Mangun pernah menulis bahwa Pak Harto dan keluarga istana tidak siap dengan kematian Ibu Tien. Tampak dengan jelas dari layar kaca betapa Pak Harto merasa terpukul atas kematian Ibu Negara yang mendadak itu. Siap atau tidak siap kematian ternyata datang juga menjemput Ibu Tien di pintu istana, Setelah kematian Ibu Tien Pak Harto tidak menikah lagi. Ada keyakinan di masyarakat setelah Ibu Tien meninggal maka “Pulung Kekuasaan” Pak Harto menjadi sirna. Hal ini dikaitan dengan “lengser”nya Pak Harto dari kursi kepresidenan pada tanggal 21 Mei 1998, yang sebelumnya didahului dulu dengan kerusuhan rasial tanggal 13-15 Mei 1998 yang berlangsung di seantero negeri. Setelah lengser Pak Harto sendiri menderita sakit permanen dan kemudian wafat pada tanggal 27 Januari 2008 sekali lagi publik menyaksikan upacara kenegaraan yang megah dengan komandan upacara Presiden SBY sendiri di Astana Giri Bangun Solo Jawa Tengah.
Pada akhir tahun 2009 tepatnya tanggal 30 Desember 2009 masyarakat Indonesia juga dikejutkan dengan meninggalnya tokoh besar Gusdur, KH. Abdurrahman Wahid yang meninggal di RSCM Jakarta. Sebelumnya masyarakat percaya Gusdur pasti mampu mengatasi serangan penyakitnya dan karena itu masyarakat merasa terperanjat, ketika mengetahui hal ini. Bapak Kemanusian Indonesia itu tidak mempu lagi bertahan dan harus menyerah pada kematian yang menjemputnya. Sewaktu mengantar President RI ke empat tersebut masuk keliang lahat President SBY menyampaikan salam perpisahan dengan kata-kata “…selamat jalan Gusdur, selamat jalan Bpk. Pluralisme Indonesia”. Kematian Gusdur membawa duka yang mendalam di seantero negeri. Berbagai kelompok mengadakan doa dan peringatan untuk Almarhum. Penulis sendiri bersama dengan ketua umum MBI dan jajarannya terpaku dimalam yang dingin dan berhujan-hujan dilapangan proklamator Menteng Jakarta Pusat pada awal tahun 2010 untuk memperingati meninggalnya tokoh bangsa ini. Dalam kesempatan tersebut berbagai tokoh nasional dan lintas agama menyampaikan pesan dan kesan serta doa untuk Bapak bangsa ini.

Kematian mantan Ibu Negara Hasri Ainun Habibie yang meninggal pada tanggal 22 Mei 2010 di Jerman juga mendapat peliputan yang sangat luas dari berbagai media. Kematian isteri President RI ke tiga ini sebagaimana kematian tokoh-tokoh bangsa diatas juga mendapatkan upacara ke Negaraan yang selayaknya. Almarhumah dimakamkan dalam upacara ke Negaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagaimana Pak Harto, BJ Habibie ternyata juga sangat sedih dan terpukul atas kematian isteri yang sangat dicintainya itu.

Kematian memang tidak pernah menunggu apakah kita siap atau tidak. Kematian juga tidak pilih kasih dan tidak pandang bulu, karena jika pernah dilahirkan maka ia pasti mati, ia pasti tidak peduli apakah yang bersangkutan Presiden, Ibu Negara atau Tokoh Masyarakat. Jika tiba saatnya maka kematian akan datang. Bagi sebagian masyarakat kita apalagi bagi keturunan Tionghoa kematian merupakan suatu hal yang tabuh untuk dibicarakan apalagi dihari baik bulan baik seperti Imlek dan hari-hari besar lainnya, Orang tabuh untuk bicara hal-hal yang menyangkut kematian. Bagi sebagian masyarakat kita kematian sebagaimana bala bencana, kesialan, penderitaan dan penyakit merupakan hal-hal yang “tidak baik” untuk dibicarakan, hal ini berarti masyarakat kita ingin menghindari hal-hal seperti diatas termasuk kematian, karena kematian merupakan kedukaan dan penderitaan. Oleh sebab itu masyarakat kita tidak suka bicara hal-hal tersebut, walaupun  kematian itu pasti akan datang.

Dalam Dhammaphada Bab XI pasal 2 (147) berbunyi “Pandanglah tubuh yang indah ini, penuh luka terdiri dari rangkaian tulang, berpenyakit serta memerlukan banyak perawatan. Ia tidak kekal serta tidak tetap keadaannya.” dalam kisah “Sirima”, serta pasal 3 (148) berbunyi “Tubuh ini benar-benar rapuh, sarang penyakit dan mudah membusuk.Tumpukan yang menjijikkan ini akan hancur berkeping-keping. Sesungguhnya,  kehidupan ini akan berakhir dengan kematian. dalam kisah “Uttara Theri” dan pasal 5 (150) berbunyi “Kota (tubuh) ini terbuat dari tulang belulang yang dibungkus oleh daging dan darah. Di sinilah terdapat kelapukan dan kematian, kesombongan dan iri hati.” Dalam kisah “Rupananda Theri (Janapadakalyani)”. Dalam kisah Sirima, Dhamapahada (147) yang menceritakan kematian seorang pelacur yang cantik jelita, Sang Buddha telah menyadarkan seorang Bhikkhu yang terperangkap hawa nafsu akan kecantikan tubuh Sirima, namun setelah mayat perempuan jelita tersebut menjadi busuk dan penuh belatung tak ada seorangpun lagi yang mau tidur bersamanya. Hal ini berarti semolek apapun tubuh ini ia tidak akan menggiurkan lagi jika sudah menjadi mayat busuk yang penuh belatung. Dan kisah Rupananda Theri, Dhamapahada (150) ipar sepupuh sang Buddha yang kawin dengan sepupuh sang Buddha Pangeran Nanda dikisahkan Rupananda Theri yang sebenarnya bernama Janapadakalyani yang cantik jelita, kemudian terpaksa menjadi Bhiksuni setelah seluruh keluarganya mengikuti Sang Buddha menjadi petapa. Walaupun telah menjadi Bhiksuni Rupananda Theri tetap melekat pada kecantikan tubuhnya. Buddha kemudian menyadarkan Bhiksuni ini dengan memberikan pandangan bahwa betapapun cantiknya seseorang, jika sudah menjadi tua dan mati maka kecantikannya akan sirna. Setelah memperoleh pandangan tersebut sang Bhiksuni menjadi tercerahkan. Dalam kisah Uttara Theri Dhamapahada (148),di kisahkan Uttara Theri si kakek yang sudah berusia 120 tahun terpaksa berpuasa selama tiga hari karena makanannya semuanya didanakan kepada seorang Bhikksu. Akibat tidak makan tiga hari, tubuh sang kakek menjadi lemah sehingga walaupun ia mempunyai karma baik berjumpa dengan Buddha namun akibat kebodohannya ia tetap menerima karma buruk yaitu jatuh karena menginjak jubahnya sendiri. Dari kedua kisah diatas sirima dan Rupananda Theri Buddha mengajarkan agar kita tidak melekat kepada tubuh jasmani kita, betapa pun indahnya tubuh tersebut.
Dalam kisah Uttara Theri Buddha mengajarkan agar kita mempersiapkan kematian kita dengan sebaik-baiknya janganlah kita melekat kepada segala sesuatunya, bahkan terhadap karma baik itu sendiri seperti berdana makanan kepada anggota Sangha sebagaimana yang dilakukan Uttara Theri. Uttara Theri boleh saja berdana tetapi harus pula menyisahkan untuk dirinya agar ia tidak lemas dan lapar. Kemelekatan terhadap kehidupan yang terus berubah ini hanya merupakan kebodohan belaka dan oleh karena itu bebaskanlah diri kita dari kemelekatan dengan cara melatih diri, melaksanakan sila, berdana dan melakukan karma-karma baik lainnya secara bijaksana. Dengan melatih diri dan menjalankan sila maka kita akan merasa bahagia dan kita tidak lagi melekat pada tubuh jasmani yang tidak kekal ini. dengan tidak melekat kepada tubuh jasmani ini maka kematian akan membebaskan kita dari samsara atau lautan penderitaan.

Dari tulisan diatas ternyata Tokoh sekaliber Pak Harto yang tegas dan berwibawa dan tokoh intelektual Habibie ternyata “gugup” menghadapi kematian dari isteri yang mereka cintai. Pak Harto yang Jenderal berbintang lima itu tidak mampu mencegah kematian Ibu Tien dan bahkan juga tidak mampu mencegah kematian untuk dirinya sendiri. Demikian juga dengan Prof. DR. Habbie yang terkenal cerdas dan pandai. Habbie juga tidak mampu mencegah kematian isterinya Ainun, walaupun mantan Ibu Negara tersebut sudah memperoleh salah satu pengobatan terbaik didunia yaitu di Munice Jerman. Ibu Ainun harus menghembuskan nafas terakhir setelah menjalani operasi untuk yang ke dua belas kalinya akibat penyakit kanker. Hanya dengan melatih diri melaksanakan sila dan memupuk karma baik maka kematian terasa membebaskan yang bersangkutan dari samsara. Kematian Gusdur mungkin merupakan contoh dari kematian yang membebaskan itu terlepas dari segala kontrovesi yang pernah dilakukan Gusdur selama hidupnya.

Kusala Nitisena

1 Comment

  • Jenty

    Mar 08, 2011

    tulisannnya bagus... keep writing...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>