Mengenai Obat

obat_270Hidup ini adalah perubahan, jadi tidak ada orang yang bisa sehat selamanya. Sewaktu-waktu kita pasti pernah mengalami sakit, baik sakit yang ringan maupun sakit yang agak berat sampai sakit yang berat, yang memerlukan perawatan khusus. Kalau kita pernah sakit, berarti kita pasti kenal obat, tapi seberapa jauh kita mengenal obat dengan benar, karena dengan mengenal obat secara benar, maka kita dapat menghemat biaya dan mengobati diri sendiri dengan lebih baik.

Berikut adalah informasi tentang obat yang perlu diketahui, yang disajikan dalam bentuk tanya jawab.

Bagaimana penggolongan obat menurut khasiatnya?

Menurut khasiatnya obat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu:

  1. Obat bebas

    Obat yang dapat kita gunakan tanpa perlu berkonsultasi dengan dokter. Umumnya obat bebas ini dapat kita temui dimana-mana, di apotik, toko obat maupun warung-warung di sekitar kita.

    Obat bebas ini biasanya pada kemasannya ditandai dengan logo bulatan warna hijau dengan lingkaran hitam di sekelilingnya. Walaupun dinamakan obat bebas dan kita bisa dapatkan dimana saja, sebaiknya jika sudah digunakan dalam waktu yang lama dan tidak memberikan hasil yang memuaskan, sebaiknya kita hentikan pemakaiannya dan konsultasi ke dokter.

  2. Obat bebas terbatas

    Obat yang dapat kita beli sendiri tanpa perlu ada resep dokter, tetapi hanya dapat dibeli di tempat-tempat tertentu, seperti toko obat berizin dan apotik, karena penggunaannya perlu pengawasan dan informasi yang jelas sebelum penggunaannya.

    Obat bebas terbatas ini pada kemasannya ditandai dengan logo bulatan warna biru dengan lingkaran hitam di sekelilingnya.

  3. Obat keras

    Obat yang hanya bisa didapat dengan resep dokter dan hanya bisa dibeli di apotik. Umumnya obat keras ini adalah obat-obat dengan rentang dosis yang sempit atau yang dapat memberikan efek yang membahayakan yang harus dimonitor oleh dokter seperti obat-obat hipertensi, jantung, diabetes, maupun obat-obat penenang.

    Obat keras ini pada kemasannya ditandai dengan logo bulatan merah dengan tulisan huruf k di dalamnya dan dengan lingkaran hitam di sekelilingnya.

  4. Obat-obat psikotropika dan narkotika

    Obat-obat psikotropika dan narkotika adalah obat-obat yang dapat memberikan efek ketergantungan setelah pemakaiannya, jadi pemakaian obat ini harus benar-benar di bawah pengawasan dokter dan penjualannya harus dilaporkan oleh apotik ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) setiap bulannya, untuk menghindari penyalahgunaan obat.

Perlunya kita mengetahui penggolongan obat ini adalah agar kita tahu obat-obat apa yang boleh kita gunakan sendiri dan obat-obat apa yang penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter dan apoteker.

Karena obat itu seperti pisau bermata dua, dimana satu sisi dapat memberikan kesembuhan bagi pemakainnya tapi di satu sisi dapat memberikan efek yang membahayakan bagi pemakainya. Contoh: Prednison, adalah obat yang termasuk dalam golongan corticosteroid, tetapi pada sebagian orang banyak digunakan sebagai obat untuk mengemukkan badan dan obat alergi, padahal pada penggunaan jangka panjang, obat ini dapat mengakibatkan luka pada lambung dan menyebabkan kerapuhan pada tulang. Contoh lainnya adalah pada penggunaan antibiotika yang tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya resistensi kuman sehingga obat menjadi kurang efektif.

Bagaimana penggolongan obat menurut produksi dan pemasarannya?

Obat menurut produksi dan pemasarannya dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:

  1. Obat paten, yaitu: obat-obat yang diproduksi oleh pabrik farmasi dan sudah memiliki nama jual tertentu yang sudah dipatenkan oleh pabrik farmasi tersebut, sehingga nama produk tersebut tidak bisa dipasarkan oleh pabrik lain, dan untuk pemasarannya biasanya memerlukan biaya pemasaran yang cukup tinggi sehingga umumnya obat-obat paten ini harganya mahal.
  2. Obat generik, yaitu: obat-obat yang diproduksi oleh pabrik farmasi tetapi tidak memiliki nama jual tertentu, dimana nama jualnya biasanya mengikuti zat aktif yang ada di dalamnya. Sehingga setiap pabrik mempunyai nama jual yang sama, yang membedakan hanyalah nama pabrik pembuatnya. Biasanya obat generik ini tidak memerlukan biaya pemasaran yang tinggi sehingga harganya jauh lebih murah dibanding obat paten.

Contoh: Panadol adalah obat sakit kepala yang zat khasiatnya adalah Paracetamol. Nama Panadol ini adalah nama jual dari salah satu pabrik farmasi. Panadol kita golongkan sebagai obat paten. Sedangkan nama generik dari obat ini adalah Paracetamol. Jadi semua pabrik farmasi yang memproduksi obat generik Paracetamol ini, memberikan nama yang sama yaitu Paracetamol. Dan umumnya harga obat generik ini lebih murah dari obat patennya.

Apakah obat paten selalu lebih baik dari obat generik?

Opini yang ada di masyarakat memang begitu. Mereka selalu berpendapat bahwa obat paten selalu lebih baik dari obat generik. Tetapi kalau ditinjau dari segi ilmu farmasi secara murni, maka tidak selalu obat paten lebih baik dari obat generik. Kenapa? Karena yang membedakan apakah suatu obat lebih baik dari obat lainnya adalah efektivitas terapeutiknya, dimana efektivitas terapeutik ini dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti:

  1. Kecepatan pelepasan zat aktif dari suatu produk obat.
  2. Kecepatan kelarutannya di dalam cairan tubuh.
  3. Proses bioavailabilitas yang meliputi absorpsi, distribusi, dan eleminasi obat di dalam tubuh.

Jadi kalau obat paten dan obat generik diproses dengan cara yang standar dan bahan baku yang sama, seharusnya kedua obat ini memberikan efek yang sama. Tetapi ada kemungkinan pabrik farmasi memposisikan obat paten jauh lebih baik dari obat generik, karena pertimbangan bisnis mereka.

Makanya kalau kita perhatikan iklan obat generik di situ dikatakan bahwa untuk apa merknya, yang penting khasiatnya, kalau kita bisa mendapatkan kesembuhan dari obat generik yang harganya bisa Cuma 25% dibanding harga obat paten, kenapa harus memaksakan diri untuk membeli yang mahal.

Bagaimana penggolongan obat menurut bahan asalnya?

Menurut bahan asalnya obat dapat dibagi menjadi:

  1. Obat modern, yaitu obat-obat yang bahan asalnya dibuat secara sintetik melalui proses kimia atau atau yang kita kenal dengan west medication, biasanya pembuatan obat-obat modern ini sudah melalui proses penelitian yang seksama sehingga dapat menjamin keamanan pemakainya.
  2. Obat tradisional, yaitu obat-obat yang dibuat dari bahan alam, umumnya dari tumbuh-tumbuhan, sehingga diyakini lebih aman penggunaannya. Tetapi pada kenyataannya banyak sekali obat-obat tradisional yang bermasalah. Sebetulnya permasalahan yang timbul bukan karena dari bahan asalnya, tetapi lebih banyak karena kenakalan dari produsen obat-obat tradisional tersebut. Umumnya produsen obat-obat tradisional ini mengklaim bahwa obat mereka 100% berasal dari bahan alam, tetapi pada kenyataannya banyak pabrik obat-obat tradisional ini yang mencampur obat mereka dengan bahan-bahan kimia secara diam-diam, sehingga dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

Contoh: ada beberapa produk obat tradisioanal yang mengklaim sebagai obat rematik, pada kenyataannya mengandung fenilbutazon, yang merupakan obat rematik kimiawi, dimana pada penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan pendarahan pada lambung. Pasien yang tadinya mengira obat yang dimakan adalah obat tradisional sehingga merasa aman untuk memakan dalam waktu yang lama tetapi pada kenyataannya dapat menyebabkan pasien mengalami pendarahan pada lambungnya. Makanya disarankan untuk membeli obat-obat tradisional dari pabrik obat yang sudah terdaftar di departemen kesehatan, karena biasanya mereka murni menggunakan bahan alam.

Bagaimana cara pemakaian obat yang benar?

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam pemakaian obat jika kita ingin mendapatkan hasil pengobatan yang optimal, antara lain:

  1. Dosis obat

    Dosis obat sangat berpengaruh untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal, kerena setiap obat biasanya mempunyai batasan dosis tertentu, karena dosis yang kurang akan mengakibatkan obat tidak bekerja optimal, sedangkan dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan efek yang tidak diinginkan. Pemberian dosis harus diperhatikan terutama untuk obat-obatan yang mempunyai batas keamanan yang sempit, sehingga obat-obat yang seperi ini biasanya dimasukkan ke dalam daftar obat keras, dimana penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter.

    Contoh: pemakaian obat-obatan golongan antibiotika, biasanya obat harus dimakan sejumlah dosis tertentu tergantung dari jenis antibiotikanya. Misal: untuk dewasa pemakaian amoksilin biasanya digunakan dengan dosis antara 1000-2000 mg/hari dan harus digunakan selama 3-5 hari, tergantung berat ringannya infeksi yang terjadi. Kadang-kadang karena kesibukan kita atau karena memang kurang perhatian, obat kita makan dengan dosis yang tidak semestinya, seperti yang seharusnya 3 (tiga) kali sehari, kita hanya makan 2 (dua) kali sehari. Yang seharusnya kita makan sampai habis selama minimum 3 (tiga) hari pengobatan, tetapi karena merasa sudah sembuh, sebelum waktunya obat sudah tidak dimakan lagi. Untuk obat-obatan golongan antibiotika, hal ini dapat mengakibatkan bakteri menjadi kebal atau resisten, sehingga untuk mengobati infeksi oleh bakteri yang sejenis kita membutuhkan dosis yang lebih besar atau kita harus mengganti dengan antibiotika jenis lain yang lebih kuat.

  2. Aturan pakai

    Biasanya kalau kita mendapatkan resep dari dokter, obat-obat yang kita beli di apotik sudah diberi petunjuk cara pemakainnya yang jelas, seperti 3 (tiga) kali sehari atau 4 (empat) kali sehari dan sebagainya. Kenapa dosis pemakaian obat dibagi seperti itu? Biasanya pembagian dosis seperti itu tergantung dari jenis obat dan bentuk obat itu sendiri. Obat-obat dari golongan vitamin biasanya diberikan dosis satu kali sehari dan sebaiknya dimakan pagi hari, sedangkan obat-obat penenang biasanya juga diberikan dosis satu kali sehari dan dimakan malam hari sebelum tidur. Tetapi untuk kasus-kasus tertentu, kedua obat ini dapat diberikan dengan dosis yang lain. Untuk obat-obatan yang membutuhkan efek yang panjang, biasanya diberikan dalam dosis yang lebih sering, bisa 2 (dua) kali sehari, 3 (tiga) kali sehari atau lebih. Tetapi ada juga obat-obatan yang walaupun dibutuhkan untuk efek panjang tetapi diberikan dalam dosis tunggal. Hal ini bisa disebabkan karena obat ini sendiri dibuat di pabrik dengan cara khusus sehingga dapat memberikan efek yang panjang secara perlahan-lahan.

  3. Cara minum obat

    Ada obat yang dimakan dengan cara ditelan seperti biasa, tetapi ada juga yang harus dikunyah, ditaruh di bawah lidah, disuntikan, dioleskan ataupun harus dipakai dengan cara memasukan ke dalam anus, seperti obat-obatan dalam bentuk suppositoria. Untuk obat-obatan yang diberikan dalam bentuk suntikan maupun suppositoria, biasanya karena dibutuhkan efek yang cepat atau obat tersebut kalau dikonsumsi dengan cara ditelan akan rusak oleh asam lambung. Untuk obat-obat maag, biasanya dikonsumsi dengan cara dikunyah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan efek penetralan asam lambung secara pelan-pelan.

  4. Waktu pemakaian obat

    Ada obat yang dikonsumsi sebelum makan seperti obat-obat maag atau pencernaan, yang tujuannya untuk menetralkan asam lambung yang berlebihan sebelum kita makan, ada pula obat-obatan yang dikonsumsi setelah makan, biasanya untuk obat-obatan yang dikuatirkan akan rusak oleh asam lambung atau dapat merangsang pembentukan asam lambung berlebihan, tetapi ada pula obat-obatan yang harus dikonsumsi selagi makan.

  5. Hal-hal lain

    Hal lain yang harus diperhatikan adalah takaran obat, kadang-kadang kita atau anak kita diberikan obat dalam bentuk sirup, yang harus dimakan dengan mengunakan takaran sendok, ada sendok teh, sendok bubur maupun sendok makan. Tetapi yang sering terjadi adalah kita menggunakan sendok-sendok yang ada di rumah kita tanpa memperhatikan apakah kita sudah menggunakan takaran yang benar, karena di dalam ilmu farmasi setiap sendok itu mempunyai volume yang berbeda, 1 (satu) sendok teh = 5 (lima) ml, 1 (satu) sendok bubur = 8 (delapan) ml, sedangkan 1 (satu) sendok makan = 15 ml.

    Dari pengamatan penulis, sendok makan yang ada dirumah umumnya mempunyai volume tidak sampai 15 ml, lebih kurang hanya 7-12 ml. Jadi bisa dibayangkan jika kita makan obat tetapi tidak semakin membaik, karena dosis yang kita makan memang tidak mencukupi. Untuk itu penulis menyarankan untuk mempunyai alat takar sendiri, yang bisa diperoleh jika kita membeli obat yang sudah ada alat takarnya atau dengan membeli sendiri di apotik. Hal ini sepele, tetapi sangat sering terjadi.

* Artikel ini pernah dimasukan ke buletin Media Promabi

Incoming search terms:
  • apa warna obat prednison
  • siddi vitamin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

You might also likeclose