Tonggak Baru Perjuangan FABB

Perjuangan Forum Anti Buddha Bar (FABB) memasuki phase baru dimana Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, ternyata telah memutus perkara gugatan TUN,  dari pihak PT. Nireta Vista Creatife (PT. NVC) selaku pemengang lisensi Buddha Bar di Indonesia yang terdaftar dalam perkara TUN No. 73/G/2009/PTUN-JKT. Demikian juga PTUN Jakarta telah pula memutus perkara gugatan TUN  yang diajukan oleh George V Eatertainment, Paris, Perancis, selaku pemilik Merek Buddha Bar, yang terdaftar dalam perkara TUN No. 97/G/2009/PTUN-JKT. Berkat karma baik dan doa dari umat Buddha seluruh Indonesia, maka PTUN Jakarta telah menolak gugatan TUN PT. NVC maupun dari pihak George V Eatertainment, dan hal itu bearti kemenangan untuk umat Buddha Indonesia.

Memang betul perjuangan belum selesai dan kita tidak perlu bergembira secara berlebihan, namun demikian kemenangan ini perlu kita syukuri sebab dengan kemenangan dua perkara TUN tersebut FABB mempunyai modal untuk maju melangkah dalam perjuangan berikutnya yaitu mengajukan gugatan terhadap PT. NVC untuk tidak lagi mengunakan nama Buddha pada bar miliknya, yaitu Buddha Bar serta ornamen dan simbol-simbol Budhist di restoran/bar yang terletak di jalan Teuku Umar No1 Menteng, Jakarta Pusat.

Perjuangan FABB yang selama ini dilakukan, baik dengan mengunakan jalur hukum maupun melalui berbagai tindakan memang harus terus dilakukan sampai tujuan FABB tersebut di atas tercapai. Penolakan PTUN Jakarta atas dua perkara TUN di atas belum mengakibatkan PT. NVC menganti nama Bar miliknya yaitu Buddha bar dan tidak juga membuat perseroan tersebut menanggalkan atribut Budhist dari restoran yang dimilikinya itu.

Pada acara buka bersama, pada tanggal 15 September 2009, yang sekaligus acara Syukuran atas kemenangan FABB. Dr. Yudi Latif kembali mengingatkan umat Buddha pada khususnya dan umat beragama pada umumnya, bahwa kasus Penodaan VS Penistaan agama Buddha merupakan ujian terhadap sikap bangsa Indonesia yang berfasalfa Pancasila. Dalam acara yang dihadiri oleh sejumlah tokoh agama Buddha dan tokoh lintas agama lainnya Dr. Yudi Latif menekankan bahwa penodaan dan penistaan terhadap agama Buddha harus dipandang sebagai Penodaan dan penistaan terhadap seluruh umat beragama di Indonesia.

Salah satu tokoh pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Jhonson Panjaitan yang menghadiri acara syukuran tersebut, juga mengingatkan pada kita semua bahwa seluruh elemen yang berjuang saat ini harus terus mengamati perjalanan perkara ini karena, pada tingkat Pengadilan tinggi maka persidangan bersifat tertutup, sehinga sulit bagi masyarakat  untuk mengikuti proses peradilan tersebut. Jhonson mengingatkan sering sekali suatu perkara yang tekanan publiknya sedemikian tinggi seperti kasus Buddha bar ini, maka Hakim tingkat pertama akan mengadilinya dengan sunguh-sunguh, namun ketika pengadilannya bersifat tertutup dan tekanan publik berkurang maka terjadilah “pembusukan” dimana biasanya Hakim akan memutus berdasarkan “kepentingan “ pihak tertentu. Jhonson Panjaitan juga menambahkan ke depan perjuangan umat Buddha harus melibatkan elemen bangsa yang lain sehinga kasus Buddha bar ini benar-benar menjadi ujian bagi umat beragama di Indonesia dan bukan hanya menyangkut kepentingan umat Buddha belaka.

Ulil Absa Abdalah yang hadir dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan pendapatnya bahwa, sebagai seorang muslim dan sebagai warga Negara Indonesia beliau tidak dapat menerima jika simbol-simbol suatu agama digunakan tidak pada tempatnya dan mengandung sifat menista dan menghina nilai-nilai luhur agama tersebut. Menurut beliau dalam hal pemikiran tiologia kita boleh berdebat “habis-habisan” akan tetapi semua pihak harus menghormati simbol-simbol agama yang disakralkan oleh umat agama tersebut. Dalam kasus Buddha bar tentu saja umat Buddha tidak dapat menerima pengunaan nama Buddha dan Ornamen Budhist yang dikomersialkan sedemikian rupa oleh pihak Buddha bar sehingga merusak atau menista kesucain agama Buddha itu sendiri. Ketua umum MBI Sudhamek AWS, juga mengingatkan bahwa apa yang telah dilakukan oleh FABB harus merupakan suatu momentum dari umat Buddha pada khususnya dan umat beragama di Indonesia pada umumnya untuk terus berjuang menolak terjadinya penistaan terhadap agama Buddha sebagaimana yang sekarang terjadi, dan mencegah terjadinya penodaan atau penistaan terhadap agama – agama resmi di Indonesia.

Dengan kemenangan pihak FABB di PUN Jakarta dan adanya dukungan dari pihak tokoh-tokoh agama Buddha serta dari tokoh- tokoh lintas agama maka umat Buddha tidak perlu lagi pecah dalam polemik pro dan kontra atas kasus Buddha bar. Marilah kita bersama-sama mendukung perjuangan ini untuk kehormatan dan kesucian agama Buddha di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>