Pasang Surutanya Sang Naga

Di abad 21 ini, dunia menantikan lahirnya raksasa baru yaitu Tiongkok dan dari zaman dahulu kala dikenal dengan nama Negeri Sepuluh Ribu Naga. Memang di samping Tiongkok, India juga akan menyusul menjadi negara Adi Kuasa yang baru, namun demikian tulisan ini hanya menyoroti negeri sang Naga saja. Naga merupakan binatang mitos yang sangat diagungkan oleh orang Tionghua dari sejak zaman kerajaan purba. Naga merupakan lambang kaisar negeri yang membangun tembok besar itu. Sampai pada Dinasti terakhir di Tiongkok, Naga masih digunakan sebagai lambang kaisar Dinasti Ching (1644-1911) sebelum Dinasti itu dihancurkan oleh revolusi yang kemudian mengantar Tiongkok menjadi Republik Tiongkok di bawah Sun Yat Sen dan Chiang Kai Sek (1911-1949) dan kemudian menjadi Republik Rakyat Tiongkok (1 Oktober 1949 sampai sekarang). Sekarang ini sang Naga telah menunjukan cakar-cakar kekuasaannya dengan menjadi negara Adi Kuasa baru yang diharapkan dapat menyelamatkan dunia dalam menghadapi krisis perekonomian global.

Dalam artikel Kompas, tertanggal 6 Agustus 2009 yang berjudul Laju Ekonomi China, Syamsul Hadi menulis

“China kembali hadir di pentas  dunia sebagai fenomena mencenagkan di bidang ekonomi. Akhir 2009, China akan menggeser Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua dunia (Kompas,28/7). Hal ini terjadi hanya dua tahun setelah China melampaui Jerman sebagai kekuatan ekonomi nomor tiga dunia. Tahun 2007, GDP ( gross domestic product) China mencapai 3,5 triliun dollar AS dan Jerman 3,3 triliun dollar AS. Tahun 2008,GDP China melonjak ke 4,42 triliun dollar AS,mendekati GDP Jepang 4,68 triliun dollar AS. Dengan kemampuannya, ekonomi China tumbuh 7,5 persen, sementara pertumbuhan Jepang minus 6,0 persen (data Juli 2009), dipastikan China akan melampaui Jepang dalam total angka GDP tahun ini.”

Berdasarkan tulisan Syamsul Hadi di atas,China yang dalam tulisan ini menggunakan istilah Tiongkok akan menjadi raksasa ekonomi baru dunia. Posisi kekuatan ekonomi Tiongkok tersebut, yang sekarang sudah menduduki peringkat kedua pasti akan menuju keperingkat pertama, jika tidak terdapat perkembangan yang siknifikan dari fakor-faktor pendukung perekonomiannya. Inilah tanda-tanda bangkitnya sang naga, yang akan menjadi penguasa baru dunia.

Di akhir Dinasti Ching, kekaisaran Manchu diperintah oleh Kaisar Hsien Feng yang lemah. Kaisar Hsien Feng menikah dengan seorang dayang yang kemudian menjadi Selir kesayangan bernama Yehonala pada tahun 1852, karena kecerdikan sang selir kaisar Hsien Feng mengangkatnya menjadi Permaisuri dengan gelar Tzu Hsi yang artinya Permaisuri Istana Barat. Setelah Hsien Feng meninggal di tahun 1861, praktis kekuasaan jatuh di tangan ke dua permaisurinya yaitu Permaisuri Istana Barat, Tzu Hsi dan Permaisuri Istana Timur, Tzu An atau yang dikenal juga dengan nama Nuharoo. Kedua Permaisuri ini menjadi Ibu Suri Kaisar cilik yang bergelar Tung Chih (1861-1875). Setelah Kaisar Tung Chih meninggal pada tahun 1875 dan menyusul mangkatnya Permaisuri Istana Timur Nuharoo (1881) maka praktis kekuasaan Dinasti Ching yang agung jatuh ke tangan Permaisuri Istana Barat Tzu Hsi yang bertindak selaku Ibu Suri atau wali dari Kaisar yang baru bernama Guang Hsu (1875-1908). Yehonala merupakan tokoh yang sesungguhnya dari Dinasti Ching yang memerintah kekaisaran dari balik tirai dari tahun 1860-1908. Permaisuri Istana Barat ini oleh tentara kolonial Inggris disebut sebagai “THE DRAGON EMPRESS” atau Sang Maharani Negeri Sang Naga

Pada masa-masa kekaisaran Hsien Feng, Tung Chih, dan Guang Hsu inilah negeri Tiongkok mengalami masa surutnya. Walaupun Tzu Hsi merupakan maharani yang sangat berkuasa namun berbagai peristiwa terjadi di masa-masa itu yang menghancurkan cakar-cakar serta keperkasaan sang Naga. Perang Candu (1839-1842) dan pemberontakan Boxers (1900) membuat kekaisaran Ching bertekuk lutut kepada kekuatan kolonial barat. Tiongkok kehilangan Macau sejak tahun 1887 dan baru kembali kepangkuan Tiongkok tanggal 20 Desember 1999, sedangkan Hongkong dicaplok Inggris pada abad ke 19 sebagai akibat kekalahan perang opium termasuk wilayah New Toritori yang dipaksa untuk disewakan kepada Britania sejak tanggal 1 Juli 1898 dan berakhir pada tanggal 30 Juni 1997. Berbagai wilayah kekaisaran Ching sekarang Tiongkok juga dirampas oleh sejumlah penguasa Kolonial. Tiongkok di Zaman itu dibagi-bagi oleh kekuatan barat bagaikan membagi kue tart saja. Bukan itu saja, istana musim panas sang Naga, Yuan Ming Yuan dibakar oleh Inggris tahun 1860 dan kota terlarang yaitu pusat kekuasaan Ching yang agung juga di serbu oleh tentara aliansi Jerman, Jepang, Prancis pada tahun 1900. Berbagai traktat yang dibuat pada saat itu dengan pihak asing juga merugikan Tiongkok. Akibat tekanan yang bertubi-tubi dari dalam dan luar serta akibat terlambat mengantisipasi perubahan zaman, Dinasti Ching runtuh dengan kaisar cilik yang terakhir bergelar Puyi (1908-1912).

Setelah Dinasti Ching runtuh, Negeri Sang Naga bergejolak. Perang berkepanjangan berkecamuk susul-menyusul, di negeri yang dikenal juga dengan nama negeri Tirai Bambu itu. Mulai dari perang saudara, perang asia timur raya, perang nasionalis dan komunis, perang Korea, perang Vietnam, serta perang urat saraf dengan pihak Unisoviet. Pada masa perang dingin itulah rakyat Tiongkok juga mengalami penderitaan yang tiada tara. Di bawah kekuasaan ketua umum Mao yang memerintah bagaikan seorang kaisar, banyak rakyat Tiongkok yang meregang nyawa baik karena perang, kelaparan, maupun karena salah urus, atau dibunuh dan terbunuh karena melawan kebijakan kaisar komunis yang bergelar ketua umum Mao, yang hidup ”sepuluh ribu tahun” (lahir tahun 1893 dan meninggal tahun 1976). Menurut buku yang berjudul Ketua Mao, Kisah – kisah yang Tak terungkap dimasa inilah terjadi pembunuhan baik secara langsung maupun tidak langsung atas rakyat Tiongkok sebanyak lebih dari 70.000.000 jiwa (tujuh puluh juta jiwa). Dimasa inilah puncak penderitaan rakyat Tiongkok terjadi.

Pelajaran dari negeri tiongkok ini, merupakan pelajaran yang sangat berharga khususnya untuk Indonesia. Kita harus menyimak dengan seksama bagaimana caranya negeri yang sudah porak – poranda kini dapat menjadi raksasa ekonomi baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>