Mencintai Diri Sendiri

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang mudah putus asa , introvert atau pesimis. Tetapi saya mempunyai hambatan terbesar dalam diri saya sendiri yaitu saya sulit mencintai diri saya sendiri. Bukan egois loh! Bukan dalam arti mencintai diri sendiri untuk membanggakan aku yang paling hebat.Anda tahu, setiap saya bertemu selebriti, menghadiri seminar orang hebat, mendengar kabar teman menjadi pebisnis sukses atau menjabat posisi penting di perusahaan ia bekerja. Dibalik kekaguman dan kegembiraan saya atas prestasi-prestasi mereka, ada terbersit rasa minder dalam hati saya. Bukan iri, saya yakin itu, karena mudita (rasa simpati) saya cukup bagus (nggak nyombong nih), hanya upekkha (keseimbangan batin) saya yang masih payah.

Malahan dulu sewaktu remaja saya lebih ngaco lagi, saya sering menyesali kenapa saya sebagai wanita tidak secantik artis X? Mengapa saya tidak seseksi dia? Ada apa dengan otak saya kok tidak sepintar si anu? Norak deh pokoknya!

Saat ini kebetulan saya sering mengikuti seminar motivasi yang semakin merajalela di Indonesia (khususnya Jakarta ). Sebenarnya tujuan para motivator itu sangat bagus dan mulia, karena mereka bermaksud membagi pengalaman sukses hidup mereka agar kita pun bisa sukses seperti mereka. Tapi anda tahu, sekian banyak saya mengikuti seminar dan membaca buku-buku motivasi, saya mendapat kritik pedas dari teman-teman dekat saya.

“Apa sih hasilnya lu ikut seminar sama baca buku motivasi? Praktekin dong!”

“Maksud lu , gue disuruh berhenti kerja terus jadi pengusaha?

“Lah iyalah, mau apalagi, emang lu mau begini-begini aja?

“Tapi gue kagak suka dagang trus lu mau ape?” jawab saya nyolot

“Ya, lu pindah kerja kek, apalah masa lu mau begini aja? motivasi lu apa coi , apa tujuan hidup lu? dst-dstnya”.

Sungguh ribut namun beruntung saya punya teman-teman seperti itu (he..he..) Justru motivator saya malahan mereka ya, bukan dari para pembicara seminar.

Hm, kembali ke masalah diatas yaitu saya mempunyai problem besar yaitu sulit mencintai diri sendiri. Menurut saya, selama saya ataupun anda yang saat ini masih dalam posisi (yang dinilai orang) masih belum sukses, walaupun saya ataupun anda menghadiri sekian seminar motivasi ataupun membaca setumpuk buku motivasi, pasti inti permasalahan yang orang-orang sukses itu katakan adalah kuncinya ada pada diri sendiri. Selalu dikembalikan pada pemikiran dan kemauan anda sendiri, usaha anda sendiri, Ujung-Ujungnya Diri Sendiri lah (UUDS).

Ada satu buku yang berjudul? Membuka Pintu Hati? di bab pertama mengenai batu bata. Peristiwa kesalahan penempatan batu bata pada saat Ajahn Brahm membangun vihara sangat membuka pintu pikiran dan hati saya. Saya cenderung mengingat kesalahan saya, menikmati rasa bersalah dan kegagalan saya, ketimbang melepaskan kesalahan-kesalahan saya di masa lalu sehingga tidak leluasa memperbaiki diri. Alam bawah sadar saya telah dikunci dengan belenggu kebodohan saya sendiri (moha).

Orang-orang bodah yang dangkal kebijaksanaannya memusuhi dirinya sendiri, yaitu dengan melakukan perbuatan buruk yang akan membawa penderitaan bagi dirinya kelak (Dhammpada, Bala Vagga , 5:7).

Mungkin sebagian besar dari anda dan saya (yang dikategorikan belum terpuaskan secara materi) selalu melihat kemilau dan gemerlap atas kesuksesan orang lain. Sisi gelap yang mereka alami sebelum di posisi teratas tersebut seakan tersapu dalam pandangan ke-terpesona-an kita. Mereka pasti tidak luput dari masalah, mereka bahkan pernah berada dalam jurang derita yang paling dalam bahkan nol , mereka gagal berkali-kali.

Umat Buddha pun sering lupa bahwa pertapa Gotama menjalani enam tahun sengsara sebelum menjadi Buddha. Bacalah kisah selama masa perjuanganNYA itu berkali-kali. Kesalahan kita hanya setitik debu yang tidak terlihat dibandingkan penderitaan Beliau.

Walaupun seseorang telah menaklukan jutaan musuh dalam berbagai pertempuran,namun sesungguhnya penakluk yang terbesar adalah ia yang dapat mengalahkan dirinya sendiri (Dhammapada, Sahassa Vagga, 8:4 ).

Saya harus mencintai diri saya sendiri baru saya tahu kemana saya akan melangkah, dimana saya menemukan kebahagiaan dan kesuksesan saya. Karena bila saya ataupun anda tidak mencintai diri sendiri dulu;

bagaimana kita bisa melihat dunia yang cerah pada saat bangun pagi?
bagaimana kita bisa mendengar manusia saling menyapa?
bagaimana kita bisa berjalan menikmati hari?
bagaimana kita merasakan damai malam saat beristirahat?

Setiap nafas kita adalah kehidupan, setiap kesalahan dan keberhasilan kita adalah pengalaman, semoga saya dan anda selalu belajar dari kesalahan dan mencintai diri sendiri apa adanya.

Apabila seseorang mencintai dirinya sendiri, maka ia harus menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Orang bijaksana seharusnya waspada, di dalam tiga periode dalam kehidupannya (masa anak-anak, dewasa dan tua).

(Dhammapada, Atta Vagga , 12:1).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>