Konsisten

Beberapa tahun belakangan ini saya kepengen sekali punya gigi yang ‘cling’ seperti model di iklan Pepsodent. Bisa tersenyum full dan bergaya dengan gigi yang rapi dan putih. Cheers!!! Mengingat teman papa saja berani untuk inplant agar giginya tampak bagus dan rapi, sebagai anak muda rasanya tak mau kalah juga d!. Akhirnya demi estetika saya pun memantapkan diri untuk berkonsultasi ke ahlinya bagaimana mendapatkan gigi impian tersebut.Persis dua minggu yang lalu dari sekarang disaat saya menulis cerita ini, saya bikin janji dengan dokter gigi langganan yang berpraktek di salah satu mall di kawasan Jakarta Barat. Mendengar penjelasan customer servicesnya bahwa sedang ada promo diskon 10% untuk whitening gigi, saya langsung tancap gas ke sana sepulang dari kerja.

Setelah dicek oleh dokter gigi dianjurkan untuk estetika, gigi-gigi yang yellowish ini sebaiknya disarung saja karena melihat kondisinya yang banyak tampalan. Bila diwhitening hasilnya tidak akan maksimal. Setelah menimbang-nimbang saya pun setuju agar gigi-gigi yang depan disarung saja. Setelah menyetujui tindakan yang dianjurkan dokter gigi, saya dipersilakan untuk berbaring di kursi periksa pasien. Dalam bayangan saya malam itu si bapak dokter pasti cuma sekedar mengecek dan mencetak gigi saja, jadi saya pun santai dan tenang tanpa mencari tahu bagaimana proses penyarungan gigi tersebut.

Normal 0 MicrosoftInternetExplorer4
/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”;}

Tak lama kemudian dokter meminta saya untuk membuka mulut, tiba-tiba ketenangan tersebut buyar. Saya kaget dengan tindakan dokter yang begitu cepat dimana rasanya langit-langit rongga mulut sakit seperti digigit semut. Rasa panik langsung menyelimuti diri, lho? Dokternya ngapain rongga mulut saya ya? Ooooh..saya baru sadar kemudian, tadi dokter memberikan suntikan bius lokal. Rupanya gigi yang asli akan dibikin kecil untuk disarung dan gusi gigi akan dibentuk (semacam dioperasi) supaya tampak rapi.

Rasanya malam itu tiba-tiba kelabu karena selama pengerjaannya, gigi masih terasa ngilu dan sakit walaupun sudah diberikan bius lokal ditambah lagi dengan kepanikan memikirkan penampilan saya esok hari ke kantor. Bisa jadi kan saya seperti nenek sihir yang dikisahkan dalam dongeng anak-anak, nenek sihir dengan rupa gigi yang kecil-kecil dan runcing-runcing. Duh, saya jadi stress! Airmatapun keluar tanpa malu-malu dan saya berdoa di dalam hati seperti lumpur panas Lapindo yang keluar tak terbendungkan. Saya memohon pertolongan kepada Dewi Kwan Im supaya kuat.. Saya mendatangi dokter gigi inikan dengan cita-cita untuk memutihkan gigi. Apa saya salah mengambil keputusan? Tetapi ditengah-tengah pikiran itu pula saya mendapat pencerahan, menyadari apa yang ditulis di majalah-majalah wanita bahwa ‘beauty is pain’ Seharusnya kan saya memahklumi namun kenyataannya saya begitu takut..

Setiap alat mengebor giginya berbunyi mengikis gigi, lutut saya juga ikut bergoyang gemetaran karena takut..dan di saat itu pula saya melafalkan Namo Kwan Se Im Phu Sat dengan kuat di dalam hati. Saya melafalkannya berulang-ulang tanpa putus dengan tekun dan teguh.

Akhirnya pekerjaan dokter hampir selesai setelah hampir dua jam. Tanpa disadari ketekunan saya melafalkan Namo Kwan Se Im Phu Sat tiba-tiba mengendor. Namun sesekali bila ada yang belum tuntas alat mengebor giginya dinyalakan kembali secepat kilat saya teringat kembali kepada Dewi Kwan Im . Setelah beberapa kali beristirahat tiba-tiba terlintas dalam pikiran, mengapa ketekunan saya mengendor? Dan di mobil sewaktu dalam perjalanan pulang, merenung kembali pantaskah saya berdoa seperti tadi?

Saya teringat pernah membaca artikel yang ditulis oleh Samuel Mulia di satu surat kabar terkenal di negeri ini, menyadur tulisannya di sebuah ruang yang tak mampu saya injak, di ruang di mana manusia paling berkuasa dan koaya roaya saja tak bisa menolong saya, maka saya kemudian memerlukan Tuhan. Dalam situasi itu, saya melihat betapa saya ini tak pernah bergaul erat dengan Sang Kuasa. Saya memperlakukan Tuhan seperti saya memperlakukan seseorang. Hanya kalau ada maunya saja.

Lho? yang saya alami saat itu sama seperti yang dipaparkan oleh Samuel Mulia. Di saat sedang susah saya begitu giat berdoa memohon perlindungan Tri Ratna dan supaya para Bodhisatwa bisa memberkati..Tetapi setelah kesusahan itu berlalu semangat saya pun mengendor. Merenung akan tulisan Samuel Mulia saya sependapat bahwa Dewi Kwan Im bukanlah office girl (OG) atau pembantu rumah tangga, kapan saya butuh saya panggil untuk membantu. Coba pikir-pikir benar gak?

Bukankah akan lebih baik di saat susah dan senang pun semangat saya tetap sama, konsisten berdoa dan melafalkan nama Sang Buddha, melafalkan Namo Kwan Se Im Phu Sat, melafalkan Om Mani Pat Me Hum? Menjaga Dewi Kwan Im selalu ada di hati dan bisa mencontoh akan kewelasasihan Nya. Percaya kepada Buddha Dharma, senantiasa menjalankan dan mempraktekkan Nya supaya disaat pelajaran akan kesusahan, kesedihan, kekecewaan, kemarahan datang saya bisa dengan bijaksana kuat dan tabah. Dan di saat sedang berbahagia saya bisa dengan bijaksana mensyukurinya..Amithofo!

Saya tercenung tapi bertekat untuk terus melatih diri dan konsisten melafalkan Mahakaruna Dharani ‘Sadhu..Sadhu..Sadhuuu’

Penulis : Maitri Puspa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>