Hidup Adalah Pilihan

Saudara-saudara se Dhamma,

Pernahkah terlintas dalam pikiran kita mengapa kita melihat ada orang lain di sekeliling kita hidup berkecukupan dan lebih bahagia dari yang lain? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita hidup dengan lebih mudah tanpa harus bersusah payah? Mengapa ada orang-orang di sekeliling kita mendapatkan apa yang mereka inginkan sementara yang lain tidak? Kita memang hidup sesuai dengan karma yang kita warisi. Apapun yang sudah kita lakukan, itulah karma sebagai buahnya. Kita berhubungan dengan orang lain adalah akibat karma kita. Sayangnya kata ?karma? itu membuat kita akhirnya ?berlindung? di atas ketidakmampuan dan ketidakberdayaan kita. Kita dengan mudah menyerahkan nasib hidup kita karena memang sudah di gariskan seperti itu, karena karma nya sudah begitu.


Tapi bukankah karma itu suatu harga mati yang tidak bisa dirubah? Setiap dari kita bisa untuk merubah dari karma yang buruk menjadi minimal netral bahkan bisa lebih baik jika lebih banyak perbuatan-perbuatan kebaikan yang kita lakukan. Lalu mengapa kita tidak melihat dan mencoba untuk memperbaiki segala kekurangan dan kesalahan-kesalahan kita? Mengapa kita tidak mengikuti semangat (viriya) dari guru kita, Sang Buddha, ketika beliau masih sebagai pangeran untuk membebaskan manusia dari penderitaan, usia tua dan kematian? Beliau terus bertanya dan mencari jawaban atas masalah yang di hadapi manusia tersebut. Dan akhirnya menemukan JALAN itu. Itulah contoh yang bisa kita jadikan sebagai panutan dalam menjalani kehidupan ini. Sebagai seorang Buddhis kita di tuntut berpikir dengan kritis, bukan pasrah menerima nasib dalam menjalani hidup.

Setiap dari hidup yang kita jalani berdasarkan dari pilihan-pilihan yang kita buat. Apabila Anda tidak memilih, itu artinya Anda sudah memilih untuk tidak membuat pilihan. Coba tengok ketika kita mulai bangun pagi. Ketika mata ini terbuka,kita sudah di hadapkan pilihan-pilihan. Apakah mau mandi dulu atau sedikit berolahraga atau duduk santai sejenak. Ketika mandi anda memilih apakah mau mandi air dingin atau air panas dst.Semua yang kita jalani adalah pilihan-pilihan yang kita buat sendiri.

Akibat dari pilihan tersebutlah sebetulnya menentukan masa depan kita. Pilihan-pilihan itulah yang membuat nasib kita hari ini. Kalau hari ini Anda susah mencari pekerjaan. Itu berarti dulu anda sudah memilih untuk malas belajar, malas bertanggung jawab, malas membina diri, malas untuk bekerja dengan rajin dsb. Itu adalah akibat dari perbuatan kita sendiri, karma kita sendiri yang menentukannya bukan dari Yang Kuasa atau siapapun. Kita lah sebetulnya yang menciptakan nasib hidup kita sendiri itu. Ingatlah sebagai seorang Budddhis bahwa tidak ada sesuatu sebab tanpa akibat. Tidak mungkin tiba-tiba ada tanaman padi sebelum ada benih yang di tanam. Tidak mungkin ada kemakmuran tanpa perbuatan baik yang anda lakukan.

Kebanyakan dari kita memang suka mencari enaknya saja dalam menjalani kehidupan dan selalu mencari yang menyenangkan daripada harus bersusah payah dan berkorban. Maka ilustrasi cerita di bawah ini dapat menjadi bahan renungan dalam menjalani hidup.

Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit  yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar.

Aku ingin menjejakkan akarku dalam-dalam di tanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”


Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.  Bibit yang kedua bergumam. “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah  ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana.
Bukankah disana  sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku keatas, bukankah nanti keindahan  tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak. Apa yang akan
terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan  pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk  mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai  semuanya aman.”

Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian. Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang  kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Tatkala tiba waktunya untuk berupaya tidak mau berupaya, meski masih muda dan bertenaga kuat justru berogah-ogahan, membiarkan pikiran jatuh terbenam, bermalas-malasan, terpekur; orang semacam ini tidak akan menjumpai jalan kebijaksanaan.

(Dhammapada XX : 280)

Jagalah ucapan, kendalikan pikiran, dan janganlah melakukan kejahatan jasmaniah. Dengan memurnikan ketiga saluran perbuatan ini, seseorang niscaya menemukan jalan yang dibabarkan oleh resi pencari kebajikan.

(Dhammapada XX : 281)

Dari cerita singkat ini kita dapat mengerti bahwa segala ketakutan, penundaan dan merasa sudah nyaman dengan kehidupan yang ada tidaklah menjamin kehidupan akan berjalan dengan baik. Justru tantangan, keberanian mengambil resiko, selalu berusaha penuh komitmen akan membuat hidup ini menjadi lebih baik. Jangan lah kita menunggu datang waktu yang baik itu. Karena tidak pernah ada waktu yang terbaik itu. Sekarang adalah waktu yang terbaik untuk memulai memilih menjalani kehidupan dengan berani, penuh tanggung jawab, komitmen, ulet dan siap berkorban untuk mendapatkan kehidupan yang anda inginkan.


Memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam  kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita  ciptakan sendiri.Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau  melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka,
hadapilah itu dengan gagah.? Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak.

Hidup adalah mudah bagi orang yang taktahu malu, yang nekad seperti burung gagak, yang suka menghancurkan orang lain dari belakang, yang suka mencari muka, yang takabur, yang berpenghidupan kotor.

(Dhammapada XVIII : 244)

Hidup adalah sukar bagi orang yang tahu malu, yang senantiasa mencari kesucian, yang tidak malas, yang rendah hati, yang berpenghidupan bersih, yang arif.

(Dhammapada XVIII : 245)

Penulis : Harry Sutanto (pengusaha & motivator)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>