Comfort Zone? Why Not!

Comfort zone, ungkapan familiar ini acap kali saya dengar di sela-sela seminar motivasi. Dan anjurannya hampir semua sama “Tinggalkan Zona nyaman Anda!”  Mungkin kita semua setuju dengan anjuran itu, tapi beberapa hari yang lalu hati kecilku berkata lain, katanya “Untuk apa ditinggalkan Zona nyaman itu?” tanyanya. “Nikmati saja!” katanya lagi.Aku sempat marah, karena hati kecil ini berselisih paham denganku,ia seakan memungkiri sesuatu yang telah disepaki bersama, sesuatu yang juga saya jadikan sebagai panutan dalam melangkah.

Lalu aku bertanya padanya, kenapa ia berkata demikian.

“Tak ada yang salah ketika kita berada atau terlahir di Zona nyaman, zona nyaman bukan momok yang menakutkan, bahkan satu kesempatan baik untuk mensyukuri hidup ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah sesekali keluar mencari hal yang baru dan belajar darinya, sehingga kenyamanan tidak membuat otaknya menjadi enggan bekerja.” Jawabnya.

“Zona kenyamanan adalah Anugerah, karenanya harus dimanfaatkan dengan baik, tidak semua orang bisa berada dalam zona nyaman”

Aku sebenarnya setuju dengan anjuran “Tinggalkan Comfort Zone Anda” karena sering kali kita terhanyut oleh kenyamanan, sering kali kita terlena dalam kemanjaan. Di area ini kedewasaan sering tertidur dengan nyenyak, dan kemajuan sekan berjalan di tempat.

Dan atas nama “KEMAJUAN” saya setuju untuk meninggalkan comfort zone, karena akan membuat kita menjadi waspada, kokoh, kuat, dewasa dan BESAR.

Cerita “katak rebus” selalu mengingatkan hal itu padaku.

Suatu ketika oleh ayahnya, Bravery dibawa mengelilingi kebun teh, melihat dari dekat kehidupan para buruh tani di sana. Ada sesuatu yang menarik perhatian Bravery di sana. Mereka baru saja menangkap 2 ekor katak besar.Ayah tiba-tiba mengajukan satu pertanyaan menarik padanya. “Jika kita masukan salah satu katak itu ke dalam baskom yang berisi air panas, kira-kira apa yang akan terjadi?”

“Saya yakin katak itu akan sangat terkejut dan berusaha sekuat dirinya keluar dari air panas tersebut”

“Bagaimana jika satunya lagi kita masukkan dalam baskom yang berisi air kolam itu dan perlahan-lahan kita panaskan air sampai mendidih?” Bravery terdiam sejenak, sepertinya kali ini ia menemukan jalan buntu untuk jawaban tersebut.

“Jika katak itu kita masukkan dalam baskom berisi air kolam, dan perlahan kita panaskan airnya, katak tersebut akan merasa nyaman dalam baskom itu, dan ketika ia mulai digigit rasa panas dan nyadarinya, semua sudah terlambat, ia sudah tidak cukup tenaga untuk keluar dari baskom tersebut.” “Itulah yang akan terjadi pada kita jika terlena dalam kenyamanan, sementara kenyamanan tidak selamanya mau bersahabat dengan kita.” Ungkap sang ayah.

Baru beberapa hari lalu, aku mendapati kalau hati keciku punya opini lain, sang hati kecil setuju kalau “Comfort Zone adalah anugerah, karenanya harus dimanfaatkan dengan baik, tidak semua orang bisa berada dalam zona nyaman itu”

Hati kecilku berkata, “Untuk apa, kita selalu keluar dari Zona kenyamanan, apa sih tujuan hidup ini” Apakah kita ingin selamanya selalu berjalan dalam “KETIDAK-NYAMANAN”, bukankah itu sungguh menderita.

Cerita “Seorang Yang NANTI akan menikmati hidupnya” sungguh mengejutkanku.

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang memiliki tekad besar untuk sukses, baginya hidup adalah perjuangan yang tiada henti, untuk bersenang-senang adalah hal yang tak pernah terpikir olehnya.

Pada saat ia bekerja, ia tak pernah benar-benar menikmati hasil jerih payahnya, hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja, ketika hal itu dipertanyakan, ia mengatakan”Sekarang, bukan saatnya menikmati hidup, kerja keras dulu, saya harus berhasil menjadi manager dulu” katanya.

Ketika ia telah menjadi menager, ia masih dengan argument yang sama “Sekarang, bukan saatnya untuk menikmati hidup, saya harus menyiapkan dana untuk menikah nantinya”, ketika ia telah menikah, ia mengatakan bahwa ia harus menyiapkan biaya kelahiran anaknya, setelahnya ia harus menyiapkan pendidikan anaknya, lalu persiapkan pernikahan anaknya, lalu biaya usaha untuk anaknya dan seterusnya.

Akhirnya, di pusaranya tertulis sebuah kalimat “Telah terbaring dengan damai seorang yang NANTI akan menikmati hidupnya”

Aku sempat terhenyak, lalu kuajak hati kecilku berdiskusi, kami akhirnya mengambil JALAN TENGAH. Kami tahu, untuk berada di JALAN TENGAH selalu dibutuhkan Kebijaksanaan.

Comfort Zone bukan untuk ditakuti, asal kita tidak terlena oleh kenyamanan, yang penting kita harus berani keluar dari lingkaran kenyaman itu jika diperlukan, bukan lari meninggalkannya. Lalu kami sepakat untuk memakai istilah “EXPEND YOUR COMFORTABLE ZONE” Ya, kami lebih setuju untuk “Memperluas Zona Kenyamanan” Bagaimana dengan Anda?

Salam Sukses Selalu

Seng Guan CPLHI

Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan

PSDM Siddhi Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>