Cemas Dan Takut? No Way!

Cemas, takut, kuatir, was-was, gelisah merupakan berbagai perasaan dan pikiran negatif yang sering menghinggapi manusia normal di jaman yang serba cepat dan menuntut dewasa ini. Cemas dan takut adalah setali tiga uang, seia-sekata dan biasanya muncul dalam bentuk berpasangan. Jika yang satu ada, yang lain ikutan hadir.

Salah satu kilesa (kekotoran batin) adalah apa yang dikenal sebagai uddhacca-kukkucca, yaitu kegelisahan, kekhawatiran, dan kecemasan. Kilesa ini merupakan debu yang menutupi batin seseorang dan menghalangi kemajuannya untuk mengembangkan kesadaran yang lebih luas.

Penyebab dari uddhacca-kukkucca adalah masih tebalnya lobha (keserakahan) dan masih dominannya konsep ‘aku’, ‘diriku’, ‘milikku’.

Seseorang yang dihinggapi oleh kuatnya lobha, akan selalu kuatir terhadap berkurangnya atau hilangnya apa-apa yang enak dan baik, yang sudah dimiliki dan dijalani saat ini. Demikian pula orang tersebut akan selalu cemas apakah di waktu-waktu mendatang dia bisa mendapatkan hal-hal yang lebih enak dan lebih baik untuk menambah ‘perbendaharaan’ yang sudah dimiliki.

Sabbe Dhamma Anatt (segala sesuatu adalah tanpa inti atau aku) merupakan konsep dengan pengertian bahwa segala sesuatu yang berkondisi dan merupakan gabungan dari berbagai unsur adalah tidak memuaskan dan sebenarnya tanpa inti atau ‘aku’ yang tunggal. Yang manakah sebenarnya diri kita ini? Apakah perasaan, pikiran, kepala, badan, tangan, kaki, atau bagian-bagian tubuh lainnya yang disebut diri kita? Bukankah yang benar adalah gabungan dari berbagai hal itulah yang membuat orang-orang lain mengenal dan bisa mengidentifikasi kita.

Demikian pula ilmu pengetahuan kemudian berhasil menguak keberadaan bagian yang lebih kecil dari sebuah sel. Ditemukanlah molekul, atom, neutron, proton, dan elektron. Kita tidak usah terkejut jika di kemudian hari ilmu pengetahuan menguak misteri berikutnya dengan menemukan lagi bagian yang lebih kecil dari hal-hal yang saat ini diterima sebagai ‘the smallest’. Akan muncul more smallest dan more smallest lainnya (lebih kecil dari yang terkecil, bukan istilah Inggris yang benar, hanya untuk memberikan penekanan).

Oleh karena itu manakah yang bisa disebut sebagai inti. Yang manakah bisa disebut sebagai ‘aku’ yang sebenarnya?.

Seorang anak kecil tidak sama persis ketika menjadi anak remaja, remaja tidak sama persis ketika menjadi dewasa, mereka bukanlah orang yang sama ataupun orang yang sama sekali berbeda.

Bahkan diri kita ini tidak persis sama antara satu menit yang lalu dengan menit berikutnya. Rambut kita sudah memanjang walaupun hanya sepersekian mikron. Demikian pula kuku kita sudah memanjang walaupun tidak terlihat secara kasat mata. Sel-sel tubuh kita juga sudah ada yang berganti baru. Bentuk-bentuk pikiranpun sudah berganti demikian cepat. Perasaan saat inipun sudah berbeda dengan sebelumnya. Adakah inti atau ‘aku’ yang tetap kekal?.

Sebagai orang yang berkeluarga, kita mungkin dicemaskan dari waktu ke waktu apakah kita bisa menghidupi keluarga kita dengan semestinya? Apakah anak-anak bisa bersekolah dan mendapat pendidikan yang baik? Apakah anak-anak akan berlaku baik? Apakah keluarga kita akan rukun selalu? Dan berbagai kecemasan yang silih berganti hinggap pada diri kita.

Seorang wanita, umumnya cemas jika berat badannya bertambah, selalu menguatirkan penampilannya, malu jika diketahui umurnya sehingga jarang ada yang mau menyebutkan tahun kelahirannya.

Ada sebuah cerita di negara lain tentang seorang aktris yang ditangkap karena mengendarai kendaraan dengan kecepatan melebihi batas yang diperbolehkan, dalam kondisi setengah sadar karena pengaruh minuman keras. Akhirnya dia dibebaskan setelah membayar denda. Beberapa tahun berselang, kembali dia ditangkap dengan kasus yang sama. Sangat kebetulan ternyata hakim yang mengadilinya adalah hakim yang sama sewaktu dia diadili pada kasus beberapa tahun yang lalu.

Sewaktu mendengar jawaban sang aktris ketika ditanya berapa usianya, si hakim menanggapi, “Kamu menjawab usiamu adalah 30 tahun dan aku ingat persis jawaban ini juga yang kamu berikan sewaktu ditanya beberapa tahun yang lalu. Apakah usiamu tidak bertambah? Mengapa kamu memberikan jawaban yang sama?”.

Dengan tampang polos dan tidak bersalah, sang aktris menjawab, “Kan katanya tidak diperbolehkan mengubah pernyataan di muka pengadilan. Satu jawaban yang pernah diberikan harus dijawab sama di waktu lainnya. Jika tidak, aku dapat dianggap memberikan pernyataan yang tidak benar di pengadilan”.

Tanpa perlu menghakimi cerita ini. Sebenarnya demikianlah adanya dalam kehidupan ini banyak wanita yang enggan diketahui umur yang sebenarnya. Dia seakan tidak ingin ‘menerima’ kenyataan bahwa usianya makin bertambah, cemas dan takut terhadap ketuaan yang sebenarnya tidak bisa dielakkan.

Sebagai pekerja kita seringkali dilanda kecemasan, apakah pekerjaan yang memberi nafkah bagi keluarga kita saat ini bisa terus kita jalani, apakah bos baru nanti akan lebih baik dari bos sebelumnya, apakah di saat kenaikan gaji nanti perusahaan akan menaikkan gaji kita dengan memadai, apakah kita bisa mendapat promosi berikutnya dan berbagai ragam kecemasan dan kekuatiran yang kerap hinggap pada diri seorang pekerja.

Pemberi kerja atau yang punya usaha juga tidak kalah cemasnya dalam menjalankan usahanya. Kekuatiran apakah karyawannya akan bekerja dengan baik tanpa pengawasan yang ketat, apakah usahanya bisa terus bertahan dan berkembang dalam situasi perekonomian yang mengalami tekanan saat ini, apakah peraturan pemerintah mendatang bisa mendukung iklim usaha, apakah akan muncul pesaing-pesaing baru dan lain sebagainya yang bisa memunculkan berbagai kecemasan pada dirinya.

Kita umumnya juga cemas dan takut dengan kemungkinan harus berpisah dengan orang maupun kondisi yang kita sukai. Demikian pula tidak kalah menguatirkannya jika kita harus berkumpul dan bersama dengan orang maupun kondisi yang tidak kita harapkan. Padahal Sang Buddha sudah menasehati kita bahwa kedua kondisi di atas adalah tidak terelakkan, akan kita jumpai dalam kehidupan kita, cepat atau lambat, sering atau jarang.

Banyak juga orang yang kuatir jika belum memiliki pasangan. Tidak luput pula mereka-mereka yang sudah berkeluarga akan tetapi belum memiliki keturunan. Mereka dilanda kecemasan dan kekuatiran, yang dari waktu ke waktu semakin membesar seperti api yang diberi minyak.

Sebenarnya jika kita mau mengamati dengan pikiran lebih jernih, akan terungkap bahwa dalam setiap tahapan sepanjang kehidupan kita, tidak ada satupun tahapan dimana kita bebas dari kecemasan, kekuatiran, ketakutan, kegelisahan dan berbagai teman-teman satu geng dari perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif ini.

Pada waktu masih sendiri (single), kita kuatir apakah dan kapan kita bisa memiliki pasangan serta apakah pasangan kita adalah orang yang baik dan cocok dengan kita. Begitu sudah berpasangan dan merasa cocok, timbul kecemasan apakah hubungan tersebut bisa berlanjut ke pelaminan dan membentuk keluarga yang bahagia. Setelah berkeluarga, kecemasan dan kekuatiran muncul dalam bentuk yang lain yaitu apakah bisa memiliki keturunan.

Jikalau nantinya sudah muncul satu anak laki-laki atau perempuan dalam keluarga, kecemasan lainnya akan muncul yaitu bisakah anak kedua nyilang sehingga sepasang anak yang dimiliki lengkap terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan. Katakan akhirnya inipun bisa tercapai, belum berarti putus kecemasan dan ketakutan menerpa. Mereka timbul dalam bentuk lain yakni bisakah menghidupi dan membesarkan anak-anak dengan layak. Begitu mereka dewasa, apakah mereka bisa mendapatkan pasangan yang baik dan cocok, dan seterusnya, dan lain sebagainya pikiran-pikiran negatif seperti ini akan terus mendera dalam wujud yang bervariasi.

Oleh karena itu pantaskah kita menjadi korban dari perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif tersebut di tahap manapun kita saat ini? Jangan berpikir bahwa nantinya kecemasan-kecemasan tersebut akan hilang atau berkurang seiring dengan berpindahnya kita ke tahap kehidupan selanjutnya. Kita sendirilah yang harus menyadari dan mulai mengelola berbagai kecemasan itu sehingga tidak membebani dan menghabiskan waktu dan energi kita setiap waktu.

Terdapat delapan (empat pasang) kondisi duniawi yang selalu berubah-ubah (Attha Loka Dhamma), yaitu untung-rugi, nama baik-nama buruk, dipuji-dicela, sukha (kebahagiaan)-dukkha (ketidakenakan, penderitaan). Kondisi-kondisi ini akan ditemui oleh setiap orang dalam kehidupannya sehingga tidak perlu bergembira dan lepas kontrol jika mengalami kondisi yang baik dan menyenangkan. Demikian pula tidak perlu terbebani atau menderita berlebihan jika menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Mengembangkan keseimbangan batin adalah pilihan sikap dan tindakan yang paling tepat.

Sang Buddha sudah mengenali dan mengajarkan kepada kita melalui pengamatan yang sangat tajam 25 abad yang lalu dengan mengatakan dalam Dhammapada bait 227 dan 228 sebagai berikut :

‘Ini pepatah kuno, O Atula ! Bukan hanya sekarang : mereka mencela orang yang duduk diam, pun mencela orang yang banyak bicara, mereka juga mencela orang yang sedikit bicara. Tiada seorangpun yang tidak dicela’.

‘Tidak pernah ada sebelumnya, sekarang maupun di masa mendatang, orang yang selalu dicela atau selalu dipuji’.

Jadi mengapa kita harus cemas dan takut terhadap celaan? Walaupun kita sudah melakukan yang terbaik menurut kita melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani, akan tetapi tetap saja tidak akan luput dari celaan baik yang berdasar maupun tidak beralasan sama sekali. Kenapa kita membiarkan diri kita menjadi sasaran tembak dengan bereaksi secara berlebihan terhadap berbagai fenomena kehidupan yang memang sudah ada dari dulu, sekarang maupun di waktu mendatang?.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi kekuasaan cemas, takut, kuatir, gelisah dan kawan-kawannya terhadap diri kita adalah mempraktekkan hidup saat ini (kekinian), menyadari dan menjalankan sepenuhnya Hukum Karma, berlatih meditasi secara rutin, mengendalikan perasaan dan pikiran negatif (marah, jengkel, iri, dengki, dendam, dan lain-lain), mengembangkan perasaan puas dan rela, hadapi dan jangan menghindar dari masalah, lebih sering memberi dan berbuat untuk orang lain.

Hidup kekinian mensyaratkan perhatian sepenuhnya kepada apapun yang sedang dihadapi dan dijalani setiap saat dari waktu ke waktu. Jalani hidup meditatif setiap saat, setiap hari, all the time, all the days, always.

Penerimaan diri terhadap Hukum Karma dan kesadaran untuk senantiasa berbuat baik melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan badan jasmani akan memunahkan berbagai rasa cemas dan takut. Kita menjadi lebih bisa menerima diri dan kondisi saat ini karena menyadari bahwa semuanya merupakan buah karma dari perbuatan-perbuatan lampau. Kita juga menyadari bahwa perbuatan saat sekarang akan menentukan buah karma di masa depan, akan menjadi apa diri kita dan memanen apa kita nantinya.

Tidak ada yang menyangkal bahwa meditasi sekarang menjadi gaya hidup baru bagi cukup banyak orang. Sang Buddha sudah mengajarkan kita mengenai betapa berharganya untuk praktek meditasi baik bagi tercapainya konsentrasi maupun munculnya kesadaran penuh akan proses dan fenomena kehidupan.

Kemampuan kita untuk mengendalikan perasaan dan pikiran negatif (marah, jengkel, iri, dengki, dendam, dan lain-lain) dan lebih mengembangkan perasaan puas dan rela akan menentukan banyak keberhasilan dan pencapaian positif dalam kehidupan kita dengan menurun drastisnya rasa cemas dan takut. Jangan biarkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran negatif ini menjadi ‘tuan rumah’ melainkan hanya sebagai ‘tamu yang baik’, yang sesekali saja mampir dalam diri kita.

Tidak ada seorangpun manusia yang tidak punya masalah. Dalam takaran dan frekuensi kemunculan yang berbeda, masalah akan selalu ‘mendatangi’ atau ‘didatangi’ oleh setiap manusia. Banyak orang yang menghindar atau menunda masalah, yang bisa saja menjadi pupus dengan berjalannya waktu, akan tetapi dalam kebanyakan kasus masalah yang terabaikan akan makin membesar dari waktu ke waktu dan menggulung atau menenggelamkan orang tersebut. Seperti halnya efek bola salju (snow ball effect) atau gulungan-gulungan ombak kecil yang bersatu membentuk ombak raksasa.

Mulailah untuk berani mengenali masalah kita, mencari pertolongan jika kita merasa tidak sanggup menghadapinya sendiri, siap untuk menerima kemungkinan atau akibat terjelek dari masalah tersebut, dan mulai menghadapi serta memecahkannya. Dengan menghadapi satu masalah ke lain masalah, proses pendewasaan dan pematangan diripun berjalan secara alami dan konstruktif.

John D. Rockfeller, seorang yang pernah menjadi orang terkaya di Amerika dan dunia bisa ‘memperpanjang’ usianya selama 45 tahun dari sewaktu berusia 53 tahun dengan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan (rapuh, kepala hampir botak, punggung bongkok, mata yang kekurangan semangat hidup) sampai akhirnya bisa meninggal di usia 98 tahun. Sepanjang hidupnya sampai berusia 53 tahun, dia sangat kikir dan sering dilanda kecemasan mengenai harta yang sudah dimiliki dan masih berharap bisa mendapatkan banyak harta di masa mendatang.

Suatu pagi Rockfeller ditemukan dalam kondisi memprihatinkan di atas lantai kantor oleh rekan bisnisnya. Menyadari kondisi ini terjadi karena si Kaya merasa sedemikian cemas mendapat berita semalam bahwa kapalnya yang penuh dengan muatan akan tetapi tanpa asuransi sedang berjuang keras melewati badai dahsyat di lautan yang sedang diarungi, si rekan bisnis menawarkan untuk mencoba membeli asuransi bagi muatan kapal tersebut. Melihat kesempatan untuk tidak rugi besar karena karamnya kapal akan membuat pihak asuransilah yang harus membayar harga muatannya, John segera mengiyakan.

Si rekan bisnis begitu gembira setelah berhasil membeli dan menutup asuransi seperti yang disepakati dengan John. Akan tetapi yang didapati setibanya di kantor adalah kondisi John D. Rockfeller yang semakin sekarat di atas lantai. Ternyata begitu dia ditinggalkan, Rockfeller menerima kabar bahwa kapal tersebut selamat sedang dia tidak berdaya untuk mencegah temannya membeli asuransi sehingga dia merasa begitu nelangsa karena harus kehilangan uang untuk membeli asuransi.

Setelah kejadian tersebut, John D. Rockfeller lebih bermurah hati dan menggunakan kekayaannya untuk memberi dan berbuat bagi orang lain sehingga membawa kebahagiaan yang berujung pada ‘perpanjangan’ usianya hingga mencapai sedemikian lanjut.

Dalam Dhammapada bait 224, Sang Buddha mengatakan :

“Hendaklah orang mengatakan hal yang benar, hendaknya ia mengendalikan kemarahannya, hendaknya pula ia memberi meskipun hanya (memiliki) sedikit, kepada yang membutuhkan; dengan ketiga cara ini ia akan terlahir di alam kehidupan para Dewa”

Penulis : Toni Yoyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>