Berdoa Tanpa Tapi

Semasa saya masih anak-anak, saya berdoa di klenteng-klenteng mengikuti mama. Dengan belasan hio yang asapnya mengalirkan air mata dan terkadang abunya menyengat kecil-kecil di tangan akibat jatuh setelah terbakar api. Belum lagi pas giliran kertas sogok untuk Dewa yang harus dibawa lari setelah disulut api menuju ke tempat pembakaran. Seringkali saya harus merasa deg-degan takut membakar tangan sendiri , jangan-jangan kertas sudah habis terbakar tapi belum sampai di tong pembakaran. Konyol tapi seru dan mau tak mau harus dilakukan karena mama bilang kalau ?ritual? itu adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan kita sendiri.

Tentunya selama sembahyang , tak lupa sederet permintaan, harapan, angan-angan dan puja puji kepada para dewa ( yang kebanyakan saya lupa menjabat sebagai dewa apa ) agar dikabulkan. Malah terkadang pakai embel-embel, kalau permintaan ini terkabul akan saya bawakan buah. Wah, minta mobil kok sogoknya dengan sesisir pisang ! Mobil yang dibuat dari gedebong pisang kaleeee?..

Seiring beranjaknya usia, saya mulai bosan dengan ?ritual? panjang dan melelahkan itu, walaupun tidak setiap hari dilakukan. Namun berdoa dengan meminta-minta terus seperti pengemis yang menadahkan mimpi menjadi orang kaya tanpa usaha. Walaupun dengan cara mengemis pun sudah termasuk berusaha mendapat uang, daripada tidur bermalas-malasan. Padahal kalau saya memperhatikan mama dan orang lain yang tengah melaksanakan ritual itu, mereka kelihatan begitu serius, konsentrasi, yakin, bahkan sampai meremnya pun berkerut-kerut saking khusyuknya. Ck,ck,ck, berdasarkan hasil survey saya dengan teman-teman yang memiliki tradisi ritual yang sama itu ternyata rumusan doanya juga sama; biar peng an ( selamat ), banyak rejeki, enteng jodoh ( bagi yang belum punya pacar ), sekolah yang pintar, sehat, panjang umur, papa-mama-engkong-emak-dstnya juga sama, peng-an, banyak rejeki, sehat, panjang umur.

Di sekolah, dengan pelajaran agama Buddha yang penuh toleransi, kita tidak dihujat dengan ritual cung-cung-cep ( ngacung-ngacung-tancep ) tersebut. Benar kata mama, agama Buddha itu menghormati orang tua dan leluhur, penuh bakti, walaupun udah pada mati ( huss! ),meninggal maksudnya.

Doa dan Agama

Membahas tentang orang meninggal dan ritual kebaktian peringatan sekian hari orang yang meninggal tersebut, saya jadi ingat almarhum paman saya. Keluarganya yang berbeda keyakinan dengan paman saya yang seorang diri itu, ternyata menimbulkan masalah yang sering terjadi di sekitar kita.

Istri dan anaknya mulanya mengikuti tata cara keyakinan almarhum paman saya, eh ternyata diam-diam mereka juga mengadakan kebaktian ala keyakinan mereka sendiri. Jadi di lain waktu mereka mengundang rekan-rekan se-agamanya untuk bersama-sama mengadakan kebaktian sesuai dengan agama yang dianut mereka.

Terakhir, istri dan anaknya memutuskan bahwa kebaktian peringatan cukup dengan versi ritual mereka.

Beberapa saudara kandung almarhum paman saya yang sama keyakinannya , protes, mereka bilang, mengapa tidak mengikuti keyakinan yang meninggal, begitu argumennya. Padahal, ritual versi keluarga almarhum paman saya juga baik, sama-sama bertujuan mendoakan si almarhum.

Kalau sudah begini, apa cara berdoa dan isi doa yang berbeda antara yang mendoakan dan yang didoakan bisa gak nyambung en gak sampai?

Doa dan Keyakinan

Kebanyakan orang, terutama umat Buddha, termasuk saya, dengan alasan sibuk dengan urusan perekonomian dan karier yang simpang siur, semakin menyederhanakan berdoa hanya sebatas niat baru ingat, susah baru tobat.

Pemikiran ekstrim mereka dan saya adalah , toh, dalam agama Buddha, yang paling penting adalah berbuat baik sebanyak-banyaknya.

Buat apa rajin beribadah kalau perbuatan tidak sebaik waktu mengucap doa? ( mungkin doanya juga belum tentu baik kali ya )

Sebenarnya saya salut dan iri dengan orang-orang yang pandai dalam berdoa, mereka mampu merangkai kalimat yang religius, ekspresi penuh keyakinan kepada yang dituju, disiplin mengatur waktu ibadahnya dan yang paling penting mungkin dengan daya konsetrasi mereka yang fokus, banyak dari mereka bilang bahwa mereka mendapatkan hasil yang diinginkan.

Sementara saya, saya semakin frustasi, harus berdoa macam mana yang sesuai dengan hati nurani saya agar apa yang saya inginkan dapat terus terjadi. Garis bawahi kata-kata saya, sesuai dengan hati nurani saya. Bukan karena saya beragama Buddha , lantas saya meremehkan doa. Lagipula , membaca paritta, mantra, keng, kan juga berarti memiliki perlindungan dan mengulang kotbah-kotbah Guru Buddha agar kita selalu sadar dan baik. Tapi, tolong, tinggalkan embel-embel agama sebagai tameng untuk berdoa.

Jujurlah, anda berdoa karena apa, untuk apa dan bagaimana doa itu mempengaruhi hidup anda?

Seberapa sering doa hadir dalam kehidupan duniawi anda?

Sebesar apa pengaruh doa membahagiakan anda ?

Saya perlu berpikir beberapa kali dan memahami dengan seksama, bahwa doa itu tidak melulu merangkapkan kedua tangan di depan dada atau menengadahkan tangan memohon kepada langit. Bahkan kata-kata yang paling religius pun atau paritta yang dikategorikan paling manjur pun belum tentu berkhasiat bagi mereka yang tidak menggunakan pikirannya untuk YAKIN dan FOKUS.

Sama saja dengan minta-minta juga dong , maksudnya!

Lalu apa bedanya antara doa dengan meminta atau doa dengan yakin ?

Keduanya sama-sama mengucapkan pengharapan yang berarti permintaan juga kan?

Bila kita berdoa dengan tapi, misal ; saya berdoa semoga saya bisa mempunyai mobil tapi tolong? dengan dapat undian sayembara X, semoga anak saya jadi juara, nanti baru saya sumbang uang ke panti asuhan dan permohonan-permohonan lain yang bersyarat.

Semakin sering kita menetapkan ?syarat? dan ?tapi? karena keraguan di hati dalam doa-doa kita, semakin banyak tekanan frustasi seperti yang saya alami, mungkin termasuk anda yang juga mengalami krisis keyakinan.

Bersyukur

Saya tengah belajar menanamkan keyakinan bahwa kehidupan saya menjadi jauh lebih baik seiring berganti waktu dan mendapatkan apa yang menjadi tujuan saya ?

Bukannya sekedar berangan-angan bahwa kehidupan saya harus menjadi lebih baik ( yang berarti saya tengah menderita dan meratap pada saat ini ) sehingga saya memaksakan diri — sampai-sampai lupa bahwa saya hidup pada detik ini dengan kebahagiaan dan keberhasilan yang ?saya lupa? telah saya raih.

Bukan sekadar INGIN tetapi MENJADI! Hidup pada saat ini dan jadilah saya apa adanya pada saat ini.

Saya ingat pernah membaca suatu artikel, bahwa si penulisnya setiap bangun tidur di pagi hari ia melakukan ?ritual bersyukur? . Ia bersyukur karena masih bisa bernafas dan hidup pada hari itu, mensyukuri dari ujung kaki sampai dengan ujung rambut.

Dengan demikian apa yang menjadi bagian kehidupannya menjadi terlibat secara keluruhan, tidak hanya rohani tetapi juga fisik. Karena fisik tidak hanya butuh vitamin dan suplemen, tetapi juga butuh ?pemeliharaan rasa? dari empunya tubuh. Niscaya, rasa syukur dan menyadari segala perubahan ( anicca ) adalah doa paling manjur agar setiap saat pikiran kita bahagia.

Berdoa bukan sekadar mengharap, tetapi berdoa adalah setiap pikiran yang mempengaruhi perbuatan dan pengharapan kita untuk menjadi apa yang kita hasilkan.

Incoming search terms:
  • doa untuk jadi anak pintar dan juara untuk agama buddha
  • jodoh dalam agama buddha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>