Perang 3 Negara dalam Konteks Pilpres Indonesia 2009

Kisah perang 3 negara (tahun 208 M) yaitu negeri Wei dengan tokohnya Perdana Menteri Cao Cao, negeri Wu dengan tokohnya Sun Quan, dan negeri Shu dengan tokohnya Liu Bei merupakan kisah sejarah Tiongkok klasik yang sampai sekarang ini masih terus digunakan sebagai referensi terhadap berbagai peran di kehidupan modern ini. Sun Tzu Ping Fa (teori perang Sun Tzu) yang digunakan di waktu perang 3 negara tersebut, sekarang bahkan diterapkan dalam persaingan di dunia bisnis dan politik. Sehingga kisah 3 negara ini tetap dapat digunakan sebagai salah satu bahan referensi.

Dalam konteks Pilpres 2009, ada tiga pihak yang akan bertarung yaitu Megawati-Prabowo atau Mega-Pro yang deklarasinya dilakukan di TPA Bantar Gebang hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009. Pasangan yang didukung oleh PDIP dan Gerindra ini sempat “mandeg” dalam pembicaraan koalisi dan baru jadi pada detik-detik terakhir menjelang batas hari terakhir penutupan pendaftaran Capres dan Cawapres. pihak kedua ialah SBY-Boediono atau SBY Berbudi yang didukung oleh partai Demokrat, PKS, PKB dan PAN serta partai-partai koalisi lainnya yang tidak lolos ET (Electoral Threshold) maupun PT (Parliamentary Threshold). Deklarasi SBY Berbudi dilakukan secara mewah dan cukup spektakuler pada tanggal 15 Mei 2009 di kota Bandung. Pihak kedua adalah JK-Win yang menjadi calon Presiden dan Wakil Presiden dari partai Golkar dan Hanura, pasangan ini telah mendeklarasikan niatannya tersebut pada tanggal 10 Mei 2009, Sedang yang menjadi pihak ketiga ialah Ketiga pihak di atas yaitu Mega-Pro, SBY BerBudi dam JK-Win kita ibaratkan saja seperti 3 negara yang sedang berperang sebagaimana cerita klasik di atas.

Dalam kisah perang 3 negara maka bagian yang paling menarik dari roman tersebut ialah perang di Tebing Merah (Red Cliff). Peperangan ini telah merubah suatu keadaan yang berbeda sama sekali dari sebelumnya. Sebelum peperangan ini terjadi, negeri Wei adalah negeri yang secara militer dan ekonomi merupakan negeri yang terkuat dibandingkan negeri Wu dan Shu. Kekuatan militer negeri Wei adalah 200.000 tentara sedangkan lawannya kekuatan militernya masing-masing, negeri Wu sebanyak 33.000 tentara dan negeri Shu sebanyak 17.000 tentara. Jadi, walaupun digabung kekuatan militer Wu dan Shu secara teori, mereka bukan lawan tanding negeri Wei, namun demikian sejarah mencatat dalam peperangan di Tebing Merah tersebut kekuatan militer negeri Wei hancur dan perang dimenangkan oleh Wu dan Shu. Hasil peperangan tersebut menyebabkan ketiga negara yaitu Wei, Wu dan Shu mempunyai kekuatan militer yang kurang lebih seimbang.

SBY Berbudi sebagai Capres dan Cawapres dari partai Demokrat+koalisinya mempunyai elektabilitas yang terkuat melebihi JK-Win maupun Mega-Pro. Popularitas SBY Berbudi sebagai Capres 70% sedangkan Mega-Pro menempati ranking ke-2 dengan nilai sebesar 16%. Tingkat elektabilitas yang paling rendah ditempati oleh JK-Win yang hanya mempunyai nilai prosentase sebesar 7%. Kekuatan SBY Berbudi sangat menonjol ketika PD memenangkan Pilleg 2009 dan menempatkan Demokrat sebagai juara 1 dengan 148 kursi di DPR RI atau kurang lebih 26.43% suara, sedangkan Golkar hanya mampu memperoleh 19.29% yang setelah dikonversi dalam jumlah kursi menjadi 108 kursi dan PDIP hanya menempati rangking ketiga dengan 16.61 % (93 kursi). Walaupun Kemenangan PD dalam Pemilu 2009 didasarkan pada popularitas pribadi SBY pribadi bukan program partai atau pun mesin politik partai apalagi pada hasil kerja PD di DPR, dengan demikian baik secara popularitas maupun elektabilitas kekuatan SBY Berbudi tidak dapat ditandingi bahkan oleh gabungan Mega-Pro dan JK-Win.

Kekuatan SBY Berbudi yang demikian mendominasi dapat kita analogkan sebagai kekuatan militer negeri Wei. Sedangkan kekuatan PDIP-Gerindra dan Golkar-Hanura walaupun melebihi prosentase kekuatan militer negeri Wu dan Shu, namun dari segi popularitas dan elektabilitas maka Mega-Pro dan JK-Win dapat dianalogkan dengan negeri Wu dan Shu yang jauh lebih lemah dibanding SBY Berbudi. Persoalannya ialah mungkinkah SBY Berbudi dikalahkan oleh Mega-Pro atau JK-Win atau bahkan gabungan dari Mega-Pro dan JK-Win yang pernah melakukan kontrak politik dengan judul Koalisi Besar. Sebagaimana dalam roman tiga negara, di mana Wu dan Shu bersatu melawan si Raksasa Wei.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui bagaimana caranya Wu dan Shu dapat memenangi peperangan di Tebing Merah itu. Sebagaimana yang telah disampaikan di atas, jika dari segi jumlah bahkan gabungan Wu dan Shu bukanlah tandingan dari negeri Wei tetapi dengan strategi militer yang jitu, praktik perang yang ampuh dan perhitungan meteorologi yang tepat, Wei dapat dikalahkan. Tokoh yang paling berperan mengalahkan kedigdayaan sang Perdana Menteri Cao Cao dari negeri Wei ialah Kong Beng Cu Kek Liang, si ahli strategi perang yang bahkan dianggap sebagai manusia setengah dewa dari negeri Shu. Banyak mitos yang menyebutkan bahwa Kong Beng sesungguhnya bukan manusia biasa sebab ia dapat memanggil angin maupun berbagai kekuatan alam lainnya untuk membantu dirinya memenangkan perang di Tebing Merah itu. Mitos ini tentu tidak benar karena yang terjadi sesungguhnya ialah Kong Beng adalah seorang cerdik pandai yang menjabat Perdana Menteri negeri Shu. Ia menguasai ilmu perang dan segudang ilmu-ilmu lainnya termasuk ilmu klimatologi dan meteorologi. Pengetahuan Kong Beng inilah yang membuat Perdana Menteri negeri Shu ini dimitoskan sebagai manusia setengah dewa. Untuk menghadapi raksasa dari negeri Wei tersebut, tidak ada jalan lain bagi Wu dan Shu selain bekerja sama agar dapat memenangkan perang. Dari kekuatan militer, sesungguhnya negeri Wu melebihi kekuatan militer negeri Shu. Jadi, jika mereka bekerja sama maka mestinya yang memegang kendali adalah negeri Wu namun Shun Quan, pemimpin negeri Wu menyadari hanya Kong Beng lah yang dapat menaklukkan Cao Cao. Atas dasar hal tersebut, Sun Quan menyerahkan tongkat komando kepada Kong Beng. Hasilnya sebagaimana yang kita ketahui, Kong Beng berhasil mengelabui Cao Cao dan kemudian menghancurkan kekuatan militernya sehingga gabungan Wu dan Shu yang memenangkan perang ini. Dalam konteks Pilpres 2009, menurut berbagai pengamat politik, kekuatan SBY Berbudi bukan tandingannya bagi Mega-Pro maupun JK-Win. Di atas kertas Popularitas dan elektabilitas SBY Berbudi tidak dapat dilawan bahkan jika Mega-Pro dan JK-Win bergabung. Dari cerita 3 negara di atas, Wei si Raksasa tumbang oleh gabungan Wu dan Shu. Fakta Pilpres ialah Mega-Pro dan JK-Win tidak mungkin bersatu sekarang ini dalam suatu koalisi besar karena masing-masing pihak mempertahankan kepentingan dirinya sendiri. Sikap Partai Politik kita yang pragmatis dan jauh dari sifat idealis membuat mereka tidak dapat bersatu karena mereka hanya mencari keuntungan yang bersifat sesaat dengan meraih kekuasaan. Persoalannya ialah “apakah Mega-Pro dan JK-Win dapat saling membantu jika Pilpres berlangsung 2 putaran?”

Untuk menjawab pertanyaan di atas, marilah kita perhatikan fakta bagaimana PDIP beberapa saat sebelum berkoalisi dengan Gerindra sempat menyambut uluran tangan musuh berbuyutannya yaitu PD. Utusan SBY yaitu Hatta Rajasa telah bertemu beberapa kali dengan pimpinan PDIP di rumah kediaman Mega, Jl. Teuku Umar, Menteng. Bahkan suami Mega, Taufiq Kiemas pernah menyatakan koalisi dengan Gerindra adalah masa lalu sebab Prabowo meminta kedudukan sebagai Capres dan hal itu tidak mungkin disetujui oleh Megawati. Bahkan koalisi Mega-Pro saat ini dianggap sebagai koalisi terjepit atau koalisi yang terpaksa. Koalisi besar yang sudah ditandatangani oleh 4 partai politik, yaitu Golkar, PDIP, Gerindra dan Hanura juga tidak pernah menjanjikan mereka akan saling mendukung jika salah satu pasangan lolos ke putaran ke-2. Dengan fakta-fakta di atas, jika Pilpres berlangsung 2 putaran maka dapat dipastikan SBY Berbudi pasti lolos ke putaran ke-2. Persoalannya ialah siapakah yang menjadi lawan tanding SBY Berbudi dalam Pilpres putaran ke-2, apakah Mega-Pro atau JK-Win? Jika yang menjadi lawan SBY Berbudi ialah JK-Win maka uluran tangan Hatta Rajasa kepada Taufiq Kiemas beberapa saat yang lalu dapat saja membuat PDIP berubah pikiran sehingga mendukung musuh berbuyutannya yaitu SBY untuk memperoleh sejumput kekuasaan dalam bentuk beberapa kursi Menteri. Akan tetapi, jika yang masuk ke putaran ke-2 adalah Mega-Pro melawan SBY Berbudi maka tentu saja JK yang sudah putus arang dengan SBY sulit merubah pendiriannya dan satu-satunya harapan untuk tetap berkuasa adalah mendukung Mega-Pro. Fenomena perang 3 negara yaitu bersatunya Wu dan Shu melawan Wei si Raksasa hanya dapat terjadi jika dalam Pilpres putaran ke-2 adalah Mega-Pro melawan SBY Berbudi.

Bersatunya Wu dan Shu melawan Wei dalam perang di Tebing Merah adalah persatuan yang dilakukan untuk hidup atau mati. Tak ada pilihan lain bagi kedua negara itu, selain bersatu dan melawan si Raksasa Wei yang berkehendak menghancurkan kedua negara tersebut. Di samping itu, persatuan Wu dan Shu dipimpin oleh seorang Komandan perang yang sangat berbakat dan mumpuni sehingga dengan demikian memaksa Cao Cao, Perdana Menteri negeri Wei menjadi pecundang. Dalam konteks Pilpres 2009, sebenarnya lawan tanding SBY yang paling utama ialah Prabowo Subianto namun karena berbagai kepentingan elite partai politik serta sistem hukum yang berlaku saat ini, Prabowo hanya tampil sebagai Cawapres. Tentu saja kedudukan ini membuat dirinya tidak terlalu maksimal untuk melawan SBY. Hal ini berbeda dengan perang di Terbing Merah di atas di mana Sun Quan justru menyerahkan tongkat komando kepada Kong Beng sehingga Kong Beng dapat maksimal dalam melawan Cao Cao. Dari hal tersebut di atas, dapat disimpulkan ternyata kemenangan negeri Wu dan Shu atas negeri Wei adalah karena terjadinya persatuan serta sifat yang mementingkan kepentingan bersama. Apakah partai politik kita dapat bersifat seperti itu? Jawabannya mungkin harus ditunggu setelah selesai Pilpres.

Jakarta, Juni 2009

F. Sugianto Sulaiman, SH
Kusala Nitisena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>