Melayani, Tradisi yang Terlupakan

Suatu kali, tatkala berbagi Dharma di sebuah wihara, saya pernah melontarkan suatu pertanyaan kepada hadirin, “Agama apakah yang paling identik dengan pelayanan? Dengan lirih, bahkan setengah berbisik, sebagian besar hadirin menyebutkan nama satu agama besar. Ya, seperti yang bisa kita tebak, hadirin yang mayoritas adalah Buddhis itu tidak menyebutkan “Agama Buddha” sebagai jawaban atas pertanyaan saya. Entah kenapa, kata “pelayanan” bukanlah kata yang populer di kalangan Buddhis, setidaknya di tanah air kita ini.

Seorang umat pernah mengeluhkan bahwa setiap kali ia pergi kebaktian di vihara, ia tidak pernah disambut oleh petugas atau relawan wihara, padahal di tempat ibadah lain pemuka bahkan pengkhotbahnya sendiri sering menyambut hangat kedatangan umat dan saat kebaktian usai mereka pun menghantar kepulangan umat. Kalau ada yang menyambut pun, petugas dinilainya kurang senyum, kurang ramah, apalagi terhadap orang baru yang datang. Ada pula yang bilang bahwa pengurus vihara kurang proaktif dalam mengajak umat yang sebenarnya mau aktif melayani. Di lain pihak, seorang aktivis yang penuh semangat dan murah senyum menuturkan bahwa umat Buddha ini sulit sekali diajak aktif melayani. Yang mau komit melayani, dari dahulu, ya cuma si itu-itu saja, tak ada yang mau menggantikannya. Sepertinya, umat Buddha jarang ada yang mau berkorban demi kemajuan agamanya atau demi kepentingan umum, curhatnya.

Belum lagi kalau kita bicara dalam konteks kelembagaan. Entah karena populasi umat Buddha yang terlalu sedikit di Indonesia, atau kurangnya pemeduli, lembaga sosial seperti panti asuhan, rumah sakit atau klinik bersubsidi, sekolah murah, baru sebatas angan-angan belaka.

Salah Kurikulum?

Di Myanmar, negara yang 92% penduduknya menjalani agama Buddha, paradigma dan situasi semacam itu rupanya tidak lazim adanya. Kalau di Indonesia, titik berat kegiatan peribadahan cenderung pada ritual dan pemenuhan hasrat pribadi, dalam hal ini orang-orang Myanmar saya lihat lebih terbuka terhadap kepentingan sesama dan lebih mengedepankan pelayanan sebagai cara memupuk sifat-sifat luhur (parami).

Barangkali, pembelajaran dan pengamalan agama Buddha di Indonesia “salah kurikulum” atau, kalau mau menghibur diri, mungkin istilahnya masih dalam proses pencarian atau pembentukan identitas karakter.

Di Myanmar, ajaran mengenai enam penjuru pelayanan sosial yang dinasihat oleh Buddha kepada pemuda bernama Si’galaka, masih terasa kental menjadi “cara hidup” (way of life) sehari-hari. Orang tua yang mengantar-jemput anaknya yang sudah mahasiswa, tidaklah dianggap mengusik gengsi sang anak. Panti jompo bukannya tidak ada, tetapi sepi penghuni berhubung anak akan merasa kurang berbudi jika menitipkan orang tuanya ke tempat tersebut. Guru mencarikan kerja untuk muridnya adalah hal yang lazim, bahkan sampai menunggui sang murid menjalani wawancara kerja. Tak jarang murid mengadopsi gurunya yang sudah sepuh dan merawatnya bagai orang tua sendiri. Tradisi namaskara tidak hanya berlaku kepada guru agama, bahkan pekerja bernamaskara kepada majikan pun adalah bagian dari tradisi.

Visuddhacara, mantan biksu Malaysia, mengenang,  “Ketika tinggal di Myanmar, saya pernah bertemu sekelompok umat lanjut usia yang bercerita kepada saya bahwa mereka datang membersihkan sebuah pusat meditasi, setiap hari Minggu, tanpa terputus, selama 30 tahun ini.” “Pada kejadian lain, ada pekerjaan meratakan tanah di pusat meditasi yang saya tinggali. Sekelompok perempuan muda, yang datang dengan busana bagus, dengan sukacita ikut kerja bakti, mengangkuti nampan berisi tanah di pundak mereka, tanpa peduli baju dan badan mereka menjadi kotor.”

Rakyat Myanmar memang sangat peduli dan antusias dalam aksi pelayanan seperti membersihkan vihara, memasak, mencuci dalam kegiatan sosial, membezuk, menyantun anak asuh, dan berdana kebutuhan pokok Sa’gha monastik. Ketika liburan panjang, orang muda dan tua akan membanjiri vihara untuk menjadi biarawan sementara. Setelah masa itu berlalu, mereka akan tetap datang ke vihara untuk melayani dalam berbagai cara, dengan hati penuh tulus dan sukacita. Kadang kalau kita berkata kepada mereka untuk tidak perlu repot-repot membantu, mereka akan protes dengan berkata, “Tolong beri kami kesempatan untuk berbuat baik.”

Tradisi yang Terlupakan

Suatu ajaran bisa hilang jika tidak dijadikan tindakan. Tindakan bisa menyublim kalau tidak dijadikan kebiasaan, di tingkat pribadi maupun sosial. Kebiasaan pun akan lenyap jika tidak diwariskan menjadi tradisi. Tradisi pun akan mudah terlupakan kalau tidak dimaknai dan dijalani sebagai gaya hidup (lifestyle).

Tradisi melayani di kalangan umat Buddha di Indonesia mungkin relatif kalah populer dibanding di kalangan umat beragama lain. Padahal, ajaran Buddha tentang pelayanan bukannya sedikit atau tidak ada. Salah satu ajaran pokok Budha adalah tentang karma. Pelayanan, yang dalam bahasa Pali disebut veyyavacca, merupakan butir kelima dari sepuluh karma baik yang jika dilakukan akan membawa kesejahteraan, yaitu:

  1. Memberi (dana)
  2. Menjalani sila (sila)
  3. Mengembangkan batin (bhavana)
  4. Menghormat (apacayana)
  5. Melayani (veyyavacca)
  6. Melimpahkan jasa (pattidana)
  7. Mensyukuri (pattanumodana)
  8. Mempelajari kebenaran (dhammassavana)
  9. Mengajar kebenaran (dhammadesana)
  10. Meluruskan pandangan (ditthijukamma)

“Membantu atau menawarkan jasa baik untuk orang lain disebut veyyavacca,” tutur Ashin Janakabhivangsa, bhikkhu Myanmar penulis buku Abhidhamma Sehari-hari. “Kita harus menawarkan bantuan dengan sungguh-sungguh supaya orang lain dapat merasa lebih ringan, bebas dari kekhawatiran, dan kegiatan derma dapat terlaksana dengan baik. Kita juga harus membantu mereka yang sakit, yang tak berdaya, dan yang sudah lanjut usia. Kita harus menawarkan bantuan kepada orang yang tampaknya kerepotan membawa barang berat dan membantu mengurangi beban orang tua kita. Demikian, semua bentuk jasa suka rela yang dilakukan demi orang lain, asalkan bukan perbuatan jahat, termasuk dalam veyyavacca.”

Dalam karma melayani, jika kita memiliki niat (cetana) yang murni, manfaatnya bisa lebih besar dibandingkan dengan mereka yang suka berdana tetapi tanpa kesungguhan hati. Sebagai contoh, pada masa Buddha Gotama ada seorang gubernur bernama Payasi. Ia banyak berdana makanan kepada para bhikkhu secara rutin, tetapi dia tidak melakukannya sendiri. Ia mengutus pembantunya, Uttara, untuk menyerahkan makanan kepada para biksu. Meskipun Uttara melakukannya atas nama sang gubernur, dia menyerahkannya dengan segenap ketulusan hati. Ketika Payasi dan Uttara meninggal, Payasi terlahir di Catumaharajika, alam terendah dari enam surga, sementara Uttara terlahir di Tavatingsa, surga yang lebih tinggi.

Melayani untuk Sempurna

Seluruh hidup dan ajaran Buddha sendiri bernapaskan pelayanan dalam banyak aspeknya. Menurut catatan, karier pelayanan Buddha Gotama dimulai semenjak ia terlahir sebagai Sumedha, yang diproklamirkan sebagai Bakal Buddha oleh Buddha Dipakara. Semenjak itu Bakal Buddha kita ini terus memupuk sifat-sifat luhur dalam banyak kehidupan ulang-Nya. Dalam untaian kisah kelahiran (Jataka), Beliau banyak sekali melakukan pelayanan dan pengorbanan luar biasa demi kesejahteraan pihak lain. Motivasi utama Beliau adalah menolong makhluk yang menderita sekaligus menyempurnakan kualitas batin-Nya. Setelah rentang masa yang sulit terhitung lamanya, akhirnya, dalam kelahiran terakhir-Nya, Beliau berhasil menjadi Sammasambuddha.

Motif setiap orang dalam melayani atau memberi tentu berbeda-beda menurut paham yang dianutnya atau kematangan spiritualnya. Seseorang bisa memberi karena kesal atau untuk melecehkan penerima, karena takut, untuk membalas budi, untuk mendapatkan imbalan (give and take), karena perbuatan itu dianggap baik, untuk membantu atau berbagi, demi mendapatkan nama baik, atau untuk memperindah batin. Motif yang benar dalam memberi seyogianya adalah untuk melayani pihak lain, dengan motif “hanya memberi tak harap kembali”, sekaligus untuk mengikis keakuan, menyempurnakan kualitas luhur.

Sempurna untuk Melayani

Karier pelayanan Buddha rupanya tidak tamat setelah pencapaian Bodhi di bawah pohon asattha. Buddha sebenarnya tidak punya kewajiban mutlak untuk mengajarkan jalan kebahagiaan yang ditemukan-Nya. Namun, karena mahawelas-Nya kepada kita, Buddha memutuskan untuk memutar roda Dharma, mengangkat murid, menyulut suar misionari, tanpa kepentingan pribadi sedikit pun, semata-mata for the good of the many, for the happiness of the many.

Berkat layanan ministri Buddha tanpa kenal lelah sampai akhir hayat ini, tak terhitung banyaknya makhluk bisa mereguk kebahagiaan sejati. Mulai dari raja, orang kaya, orang melarat, orang sakit, anak terlantar, orang berduka, pembunuh, pelacur, kaum terbuang, terentaskan dari derita sepanjang sangsara.

Dalam suatu peristiwa, ketika sebagian murid-Nya tidak mau melayani sesama Bhikkhu yang sakit karena mereka merasa jijik, Buddha turun tangan sendiri membersihkan tubuh si sakit yang sudah membusuk dan bau bukan main itu. “Ia yang melayani orang sakit, berarti melayani-Ku,” wejang Buddha.

Dari sketsa hidup Bodhisattwa sampai Buddha, kita bisa petik bahwa sebelum sempurna, Beliau melayani, untuk menjadi sempurna; setelah menjadi sempurna pun Beliau tetap melayani, dengan kepiawaian yang sempurna. Serve to be perfect, be perfect to serve.

Pelayanan: Keberhasilan Misionari

Dari perspektif pengembangan agama, kalau suatu agama mau maju, titik beratnya harus pelayanan, kendaraannya harus pelayanan, bensinnya harus pelayanan. Indikasi pengembangan yang dimaksud di sini bukan dalam konteks kuantitas umat, namun dari segi kualitas umat. Suatu lembaga atau komunitas, di bidang apa pun, yang tidak mengedepankan pelayanan, atau kurang bisa saling melayani, pasti akan ditinggalkan oleh organ dan anggotanya sendiri, boro-boro mendapat simpati dari pihak luar. Di pasar bebas, tak terpungkiri bahwa pemain yang mengedepankan pelayanan pelanggan (customer service), bisa dipastikan memiliki pelanggan yang loyal dan mendapat reputasi yang harum.

Kenapa begitu? Secara psikologis, setiap individu punya “selfish question”, pertanyaan mementingkan diri, yaitu: “What is in it for me?”. Pertanyaan “apa gunanya bagiku?” ini tak terpungkiri, selalu berkecamuk di benak hadirin sebuah acara, relawan suatu aksi sosial, bahkan penyumbang suatu proyek amal.

Pihak yang bisa memberikan pemenuhan jawaban paling memuaskan terhadap pertanyaan “apa gunanya bagiku?” tadi, dialah yang akan memenangkan hati umat atau pelanggan. Kata kunci dari pemenuhan jawaban ini adalah: pelayanan! Sebagai manusia pada umumnya, saya sendiri akan lebih suka datang ke vihara yang berpagar ayu, yang penuh senyum ceria dan anjali simpatik daripada ke wihara yang “tidak ayu”. Saya yang “selfish” ini lebih suka kalau diri saya dianggap penting daripada dianggap tidak ada, apalagi tidak diorangkan. Tidak berarti saya gila dilayani atau hanya mau dilayani, tetapi yang jelas, saya lebih suka dilayani daripada tidak dilayani.

Dengan adanya prakarsa untuk melayani terlebih dahulu, para simpatisan pun pasti akan tertarik, dan pada gilirannya nanti, pihak yang dilayani pun lambat laun akan terinspirasi untuk ikut melayani, bahkan mengestafetkan budaya dan tradisi saling melayani.

Pergerakan Mengubah Citra Agama Buddha

Secara umum, agama Buddha sudah pernah sampai pada suatu citra agama yang pasif, tak membumi, eskapis, mengurusi penyelamatan diri sendiri saja, dan kurang peduli sosial. Menyikapi hal ini, sebagian pemuka agama Buddha berinisiatif untuk melancarkan suatu pergerakan guna menampilkan agama Buddha menjadi lebih aktif, membumi, berorientasi pada kekinian, mengutamakan pelayanan, dan peka sosial.

Contoh pergerakan yang signifikan adalah gerakan Buddhisme Humanistik yang diinspirasikan oleh Master Yin Shun, guru Master Cheng Yen, pendiri Yayasan Tzu Chi, yang juga sangat berpengaruh bagi guru modern seperti Master Sheng-yen, pendiri Dharma Drum Mountain dan Master Hsing Yun, pendiri Fo Guang Shan. Tujuan Buddhisme Humanistik adalah menjadikan manusia yang bersemangat Bodhisattwa, yaitu energetik, tercerahkan, dan penuh welas asih untuk mengupayakan kebahagiaan semua makhluk. Buddhisme Humanistik lebih berfokus pada persoalan dunia alih-alih bagaimana meninggalkan dunia, lebih mengurusi yang hidup daripada yang sudah mati, lebih mengutamakan pihak lain daripada diri sendiri, dan keselamatan universal daripada diri sendiri saja.

Aspirasi Master Yin Shun untuk melayani Buddhisme dan semua kalangan terwujud dengan sangat konkret melalui muridnya, Master Cheng Yen, dengan Tzu Chi-nya, yang saat ini sudah berdiri di 47 negara dan beranggotakan lebih dari 10 juta orang. Prinsip pelayanan Tzu Chi adalah “help the poor and educate the rich” (menolong orang miskin dan mendidik orang mampu). Dalam praktiknya, Tzu Chi berhasil menginspirasi orang-orang yang kaya materi untuk tidak sekadar menyumbang di belakang meja, namun mengalami sendiri momen kesejatian (moment of truth) dengan ikut terjun langsung ke lapangan untuk menolong sesama.

Di Sekolah Kedokteran Tzu Chi, studi kemanusiaan diletakkan pada tataran yang setara dengan pelajaran medis. Ini karena Master Cheng Yen tidak hanya mengharapkan dokter yang terampil, beliau juga mengharapkan dokter berhati nurani yang akan melayani para pasien seperti keluarga mereka sendiri. “Ajaran Buddha bukan hanya mengenai cara memahami arti kehidupan dan kematian, namun lebih mengenai cara melayani pihak lain dan menghindari perselisihan,” ujar Master Cheng Yen.

Pergerakan besar lain untuk mengubah Buddhisme lebih ke arah pelayanan adalah “Socially Engaged Buddhism” (SEB). Para partisipan SEB berprinsip bahwa kebijaksanaan sejati terwujud dalam aksi pelayanan yang penuh welas asih. Bhikkhu Thich Quang Ba mengatakan bahwa SEB sebenarnya bukanlah inovasi baru karena ajaran kesalingbergantungan sejak dahulu menjuruskan Buddhisme ke keterlibatan sosial, dan dahulu, Buddha dan para siswa-Nya sangat giat terlibat dalam karya pelayanan. Bhikkhu Thich Quang Ba gembira bahwa Bhikkhu Thich Nhat Hanh telah memopulerkan istilah “Socially Engaged Buddhism”, yang mengembalikan agama Buddha ke sifat sejatinya.

Dalai Lama XIV, praktisi SEB paling kondang sejagat, menekankan pentingnya saling melayani, “Kita masing-masing memiliki tanggung jawab bagi segenap umat manusia. Inilah saatnya bagi kita untuk memikirkan orang lain sebagai saudara dan memedulikan kesejahteraan mereka, dengan meringankan derita mereka.”

Heart Block Dalam Melayani

Biarpun kita berulang kali diingatkan akan betapa mulianya aksi melayani itu dengan satu dan lain cara, namun tetap saja sebagian dari kita masih enggan, angin-anginan, bahkan ogah melibatkan diri untuk urusan “benefiting others” semacam ini.  “Yang penting kan gua gak ngerugiin orang lain, kurang apa lagi?” celetuk seorang kawan. Pandangan semacam ini jelas belum cukup mewakili sikap Buddhis karena ajaran para Buddha merekomendasikan tiga faktor: tidak merugikan, pelayanan, dan pemurnian batin.

Mendewasakan batin untuk lebih mau melayani pihak lain memang bukan hal yang mudah. Timbunan cemaran batin dari banyak kehidupan silam mencenderungkan batin kita untuk menjadi sangat self-oriented, malas menggubris pihak lain yang, lagi-lagi, kita anggap tak ada gunanya bagi kita. Cemaran batin ini bisa dikatakan sebagai “heart block”, yang membuat pintu hati kita terblokade untuk melayani kepentingan di luar diri sendiri.

Seorang kawan mengeluhkan, dia sudah melayani habis-habisan, tetapi akhirnya niat baik dan kesabarannya habis betulan karena bukannya diterimakasihi, dia malah dicela dan dimusuhi teman-temannya. Jadi, dia kapok melayani, no more, enough! Well, mungkin dia sedang lupa bahwa berbuat baik merupakan pondasi kebahagiaan. Kalau kita berhenti melayani, berarti kita juga sedang memelorotkan modal kebahagiaan kita sendiri. Jangan pernah berhenti berbuat baik karena orang lain! Kita harus mengembangkan sikap mental: “akulah yang butuh berbuat baik”. Tidak ada alasan untuk kapok berbuat baik. Orang yang tidak bisa menerima niat baik kita mungkin hanya berbeda cara atau punya perspektif lain. Kita masih bisa berbuat baik, kalau tidak di sini, ya di tempat lain; kalau tidak terhadap orang itu, ya terhadap orang yang lain.

Hambatan lainnya adalah paradigma bahwa diri kita ini berbeda dengan pihak lain: eloe-eloe gue-gue. Pada hakikatnya, kita bukan hanya saling bergantung untuk kelangsungan kita, namun lebih dari itu, kita semua adalah satu, esa. Hal ini mengingatkan kita pada perumpamaan tentang burung berkepala dua. Seekor burung memiliki dua kepala dan satu tubuh. Suatu hari, karena dengki, kepala yang satu menipu kepala yang lain untuk menenggak racun. Alhasil, “seluruh” burung itu mati.

Demikian juga, “orang lain” dan “aku” berbagi tubuh yang sama. Siapa kita dan kehidupan kita tergantung kepada “orang lain” tidak ada makanan, teman, pekerjaan, … yang tanpa “orang lain”? kita semua saling bergantung. Jangan sampai kita berpikir bahwa diri kita betul-betul penuh pelayanan karena melihat diri kita terpisah dari “orang lain” bahwa “orang lain” tak ayal lagi pasti membutuhkan pelayanan kita. Be mindful, ini justru menyebabkan ego muncul dan menjadi gemuk.

Ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita adalah makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara jasmani hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan elinglah, kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala tampak luar lainnya. Yang kini kita lihat adalah tampak dalam yang lebih hakiki.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun aksi pelayanan yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap kali kita melayani pihak lain, kita sebenarnya sedang melayani diri kita sendiri. Gue ye eloe, eloe ye gue….

Apa Sulitnya Melayani Mama?

Satu perenungan vital lainnya, berdasarkan ajaran Buddha yang sudah terbukti secara ilmiah mengenai kelahiran kembali, kita pernah hidup berkali-kali dalam rentang waktu yang tak terhitung. Melukiskan pengembaraan dalam siklus sangsara yang mahalama ini, Buddha bersabda, “Sungguh sulit menemukan satu makhluk saja yang belum pernah menjadi ibu kita pada masa silam.” Petikan Sutra Ibu (Mata Sutta) ini menyadarkan kita bahwa boleh dikatakan semua makhluk pernah menjadi ibu kita, hanya saja, kita lupa akan hal ini! Kelupaan kita ini sungguh fatal dampaknya. Kita jadi kagok atau kapok untuk saling menyayangi, saling melayani. Berbagai metode latihan dan ajaran untuk mengembangkan kasih sayang dan menggiatkan pelayanan pun dikerahkan dengan satu dan lain cara. Padahal, untuk membuka pintu hati kepada semua makhluk, cukup diperlukan “pencelikan kecil” saja. Sulitkah kita melayani mama kita? Kalau semua orang ternyata mantan atau bakal mama kita, masihkah kita sulit melayani mereka? Sebagai upaya menanamkan kebiasaan bawahsadar dan suprasadar, saya sering memanggil orang, tanpa pandang jantina, dengan panggilan mesra “MoM”, yang artinya mama. Tak heran, orang pun menimpali dengan cara yang sama, “Hi, MoM!”

Melayani Dengan Bijaksana

Ada dua sayap spiritualitas yang akan membawa kita menuju kebahagiaan sejati. Ibaratnya, seekor burung tidak akan terbang dengan sempurna jika hanya punya satu sayap. Dua sayap itu adalah welas asih dan kebijaksanaan, compassion and wisdom. Karena welas asih, maka kita melakukan pelayanan, namun jika kita tidak menyeimbangi pelayanan kita dengan kebijaksanaan, jangan-jangan kita menjadi kind-hearted foolish, si tolol yang baik hati, atau kita akan dijadikan bulan-bulanan oleh pihak lain, atau hidup kita menjadi tidak seimbang, atau setidaknya pelayanan kita menjadi tidak mangkus/efektif dan tidak sangkil/efisien. Ujung-ujungnya, kita malah akan sengsara sendiri.

Seorang pekerja sosial suatu kali bertanya kepada Master Cheng Yen, “Kawan saya mencurahkan segenap hidupnya untuk melayani masyarakat, tetapi dia tidak punya waktu untuk melayani keluarganya sendiri. Rasanya ada yang keliru dengan orang semacam ini.” Master Cheng Yen menjawab, “Itu bukan rasanya keliru. Itu benar-benar keliru!”

Di satu aspek, kita memang jangan menjadi seperti donat, manis di luarnya tetapi bolong di tengahnya, namun alangkah baiknya jika kita tidak hanya berkutat melayani keluarga inti. Sembari menunaikan tanggung jawab primer, secara berangsur kita bisa melangkah dari hanya melayani keluarga, menjadi melayani semua orang, bahkan semua makhluk dan lingkungan hidup. Dengan begini, kita akan makin memahami arti sejati dari metta, cinta kasih tanpa pilih kasih.

Segenap pengembangan spiritual yang benar akan secara alamiah membuat kita menjadi lebih penuh kasih sayang, tanpa pamrih dan tanpa diskriminasi. Apa pun aksi pelayanan yang kita pilih, lakukanlah dengan segenap hati, sesering mungkin, sampai tertanam menjadi kebiasaan, sampai menjadi karakter, sampai menjadi spontanitas.

Tekad Bodhicitta

Tajuk “Melayani, Tradisi yang Terlupakan” menyiratkan bahwa melayani sebenarnya sudah menjadi suatu tradisi yang mengakar, hanya saja tradisi tersebut tak terlestarikan dengan baik. Tradisi melayani dalam agama Buddha, berakar kuat dalam semangat, teladan, serta ajaran para Buddha dan Bodhisattwa mengenai “bodhicitta”, yang secara harfiah berarti “semangat pencerahan”, dan mengalami perluasan makna menjadi niat untuk merealisasi pencerahan demi kebahagiaan banyak makhluk.

Semua tradisi atau aliran Buddhis, tanpa terkecuali, menjunjung tinggi semangat bodhicitta, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa agama Buddha dari awalnya memang agama yang bersemangatkan dan bertradisikan pelayanan dan kepedulian sosial. Pencerahan, yang menjadi pencapaian individu pun dicapai dengan jalan pelayanan dan pada akhirnya disembahlayankan demi kesejahteraan banyak makhluk.

Selfish motive tidak pernah ada dalam kamus para Buddha dan Bodhisattwa. Ujar-ujar Master Shantideva, biksu India yang hidup pada abad ke-8, mencerminkan hal ini dengan lugas, “Semua kebahagiaan di dunia ini berasal dari keinginan untuk membahagiakan semua pihak. Semua kesengsaraan di dunia ini berasal dari keinginan untuk membahagiakan diri sendiri saja.”

Sebagai pengakhiran, perkenankan saya berbagi sebuah doa pribadi di kartu nama saya, yang saya gubah dari Bodhisattvacaryavatara, Panduan Cara Hidup Bodhisattwa, mahakarya Master Shantideva, dan saya racik dengan puisi Mahathera Narada, biksu Sri Lanka yang berjasa besar merintis kebangkitan kembali agama Buddha di Indonesia, dengan teladan pelayanan misionari di Indonesia selama 49 tahun sejak 1934 hingga kunjungannya yang ke-15, yang sekaligus merupakan perjalanan misionari terakhirnya, pada tahun 1983.

Semoga aku menjadi obat bagi yang sakit.
Semoga aku menjadi makanan bagi yang kelaparan.
Semoga aku menjadi pelindung bagi yang takut.
Semoga aku menjadi suaka bagi yang dalam bahaya.
Semoga aku menjadi embun bagi yang murka.
Semoga aku menjadi pemandu bagi yang tersesat.
Semoga aku menjadi bahtera bagi yang menyeberang.
Semoga aku menjadi pelita bagi yang dalam gulita.
Semoga sepanjang masa, saat ini dan selamanya,
aku melayani, untuk menjadi sempurna,
aku menjadi sempurna, untuk melayani.

Salam Sayang, Be Happy

MoM Handaka Vijjananda

Pendiri Ehipassiko Foundation

Karya pelayanannya bisa ditilik di www.ehipassiko.net

Incoming search terms:
  • veyyavacca
  • veyyavacca adalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>