Bhikkhu Natiloka

Bhikkhu Natiloka lahir pada tanggal 19 Februari 1878 di kota Wiesbaden, Jerman. Beliau diberi nama Anton Walter Florus Gueth oleh orangtuanya. Tempat kelahiran Beliau adalah sebuah kota yang terkenal di Jerman Barat. Ayah beliau seorang profesor dan saat itu menjabat sebagai kepala sekolah di College anak-anak kota (Realgymnasium). Orangtua Anton adalah umat Katolik Roma, tetapi bukanlah umat yang menjalankan ibadah ketat. Kecintaan ayahnya terhadap kesunyian dan ketenangan alam sekitar yang terpelihara mempengaruhi jiwa Gueth muda untuk hidup menyepi di dalam biara.

Pada tahun 1897, kemantapan hati Gueth membuatnya meninggalkan rumah secara diam-diam, berjalan di atas tumpukan salju sepanjang perjalanan menuju Biara Benedictine yang terkenal. Tetapi kekakuan peraturan bukanlah kesukaannya dan segera ia pulang kembali ke rumah. Ia menyelesaikan kuliahnya pada tahun 1896, Gueth muda mempelajari pelajaran bidang musik dengan perhatian yang besar, pertama dengan uang kuliah sendiri dan tahun 1898 di School of Music (Konservatorium; Sekolah musik; Red.) di Frankfort, kemudian dari tahun 1900 – 1902, ia belajar komposisi di Paris, di bawah maestro terkenal, Charles Marie Widor.

Ketika berada di Frankfort, untuk pertama kalinya ia menghadiri perbincangan mengenai agama Buddha di Theosophical Society setempat. Ceramahnya itu meningkatkan minat antusiasnya di dalam Buddha Dhamma yang telah ada sebelumnya dengan mempelajari karya-karya filosofi Schopenhauer yang belakangan ini telah menjadi pendukung di dalam membukakan pintu menuju Buddha – Dhamma bagi para pembaca Jerman.

Ternyata profesornya, di sekolah musik, juga tertarik dengan agama Buddha dan mempersembahkan Gueth sebuah kopian dari naskah “Buddhist Catechism” (kitab pelajaran keagamaan singkat dalam bentuk tanya-jawab; red) di dalam bahasa Jerman karya Bhikkhu Subhadra, merupakan buku pertama yang Gueth Muda baca mengenai agama Buddha. Si Profesor juga merekomendasikan karya-karya profesional lainnya, dan dengan setengah bercanda ia berkata pada Gueth, “Tapi jangan jadi gila dan menjadi bhikkhu.”

Keinginannya menjadi semakin kuat dalam batinnya. Setelah dua tahun di Paris, ia memutuskan pergi ke India, dan percaya kalau India masih merupakan sebuah negara Buddhis. Ia salah menduga bahwa perjalanan ke India akan memakan biaya yang sangat mahal, oleh karena itu satu-satunya jalan yang terbuka buatnya adalah tiba di India dalam pentas-pentas panggung. Jadi pada bulan Mei 1902, ia pertama kali menerima kontrak sebagai pemain biola di Saloniki, yang kemudian tiba di Bombay pada tahun 1903.

Di India ia diberitahu bahwa untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu ia harus pergi ke Srilangka, dan iapun segera ke sana pada bulan Juli 1903. Di kota Kandy ia mengunjungi vih?ra yang terkenal yaitu Vih?ra Malvatte di mana ahli pustakawannya, Y.M. Silananda Thera, menyatakan kesediaannya untuk mentahbiskannya. Tetapi ia mendengar bahwa seorang bhikkhu dari Skotlandia, Bhikkhu Ananda Maitreya, tinggal di Myanmar dan ia waktu itu berpikir bahwa melalui perantara bahasa Inggris beliau, pelajaran-pelajaran Dhamma akan menjadi lebih mudah untuk dipelajari dan dimengerti daripada di Srilangka.

Beliau mendapatkan alamat Bhikkhu Ananda Maitreya dari proktor (pengawas mahasiswa; red) Richard Perera, ayah dari Dr. Cassius A. Perera (yang belakangan menjadi bhikkhu juga, dengan nama Kassapa), kemudian berangkat menuju Myanmar. Saat tiba di Rangoon, beliau tinggal di rumah keluarga Hla Oung selama dua minggu pertama, yang mendukungnya dengan tulus. Ny. Hla Oung adalah seorang wanita Buddhis terkemuka di Myanmar dan istri dari bendaharawan India, Tuan Hla Oung.

Pada bulan September 1903, beliau mengikuti pabbajja yang dibimbing oleh U Asabha Thera di vih?ra dekat Pagoda Ngada Khi, dan selama satu bulan beliau tinggal bersama dengan Bhikkhu Ananda Maitreya di satu kuti. Beliau lalu pindah ke tempat yang lebih tenang dan tidak ramai, Vih?ra Kyundaw Kyamng, tidak jauh dari Pagoda Shwe Dagon.

Di sana beliau diupasampada pada bulan Februari 1904, dengan nama Natiloka. Segera beliau mulai belajar bahasa P?li. Setelah enam bulan, beliau mampu berbincang dengan bhikkhu-bhikkhu lainnya dengan bahasa P?li dan juga telah belajar sebuah karya pengetahuan dalam bahasa Myanmar percakapan sehari-hari.

Menjelang akhir tahun 1904, beliau dan Bhikkhu Kosambi Dhammananda dari India, pergi ke daerah perbukitan Myanmar, ke gua meditasi Sagaing yang terkenal, untuk berlatih Samatha Bh?van? dan Vipassan? Bh?van?, di bawah bimbingan seorang bhikkhu yang dianggap telah mencapai Arahat.

Bhikkhu Natiloka kembali ke Srilangka (1905), di mana beliau melanjutkan kesungguhan hatinya belajar bahasa P?li dan naskah-naskah resmi religius. Waktu itu beliau mulai menerjemahkan A?guttara Nik?ya dalam bahasa Jerman, dan akhirnya diterbitkan di Jerman (1907). Ketika berada di Srilangka (1906), beliau bertemu dengan Pangeran Siamese (Prisdang Chomsey) yang untuk alasan politis harus meninggalkan negaranya dan telah ditahbiskan di Srilangka dengan nama Bhikkhu Jinavaravamsa.

Waktu itu beliau adalah pemegang jabatan dari vih?ra terkenal Dipaduttarama di Kotahena, Kolombo-Srilangka. Dengan disertai beliau, Bhikkhu Natiloka hidup di sebuah pulau terpencil, di pinggiran pantai, dekat Matara. (dahulu: Galgodiy?na, tetapi Jinaravamsa menyebutnya C?la-La?gk?, yaitu “Langka kecil”). Di sana mereka tinggal di dalam sebuah kuti.

Pada tahun 1906, seorang bhikkhu berkebangsaan Belanda, bernama Bergendahl (Bhikkhu Su??o) tiba untuk pertama kalinya di pulau itu. Kemudian disusul oleh Fritz Stange (Bhikkhu Sumano) beserta seorang samanera. Keduanya ditahbiskan di Matara. Bhikkhu Sumano memiliki kesungguhan dan dedikasi yang besar, yang memberikan pernyataan yang menggemparkan melalui pemikirannya dalam buku kecil yang berjudul “Pabbajja, Der gang in die Heimatlosigkeit (1910), dalam bahasa Jerman. Ia meninggal dalam usia muda pada tahun 1910 di Bandarawela, di sebuah bukit desa di Srilangka.

Selama kunjungan singkat ke Myanmar tahun 1906, Bhikkhu Natiloka mentahbiskan samanera pada Scotsman, I.F. McKechnie, dan diupasampada menjadi bhikkhu dengan nama S?lacara. Bhikkhu S?lacara di kemudian hari menjadi seorang penulis unggul dan menghasilkan banyak karya mengenai Buddha Dhamma.

Ketika Samanera Sasanavamsa menerjemahkan buku dari bahasa Jerman, karya sastra pertama Bhikkhu Natiloka, “The Word of the Buddha” (Sabda Sang Buddha, edisi pertama berbahasa Inggris; Rangoon, 1907). Selain Sasanavamsa, Walter Markgraf dari Jerman juga ditahbiskan menjadi samanera dengan nama Dhammanusari. Setelah ditahbiskan menjadi samanera, ia segera kembali ke Jerman di mana pada waktu itu ia merintis sebuah perusahaan penerbitan buku-buku Buddhis yang telah banyak menerbitkan buku, diantaranya buku terjemahan Bhikkhu Natiloka.

Setelah menerima saran dari Markgraf untuk mendirikan vih?ra di Swiss Selatan, Bhikkhu Natiloka meninggalkan Eropa. Di kota Lugano, beliau bertemu Enrico Bignani (baca: Enriko Binyani), redaksi majalah “Coenobium”, yang mendirikan sebuah pondok indah di daerah pegunungan Alpen, di kaki pegunungan Monteloma, dekat Novaggio (baca: Novajio), tidak jauh dari Lugano. Beliau bervassa di sana selama musim dingin yang menyengat, menerjemahan German-P?li Grammarnya dari “Puggala-Pa??atti”(bagian dari Abhidhamma Pitaka). Ketika perencanaan untuk vih?ra di Swiss tidak tercapai, pencarian tempat lainnya menuntun Bhikkhu Natiloka, untuk pertama kalinya menuju Turino dan kemudian Afrika Utara (Tunis, Gabes), dan akhirnya kembali ke Swiss.

Di sana beliau tinggal di sebuah “Buddhist House” yang sederhana di kota Lausanne, bernama “Vih?ra Charitas”, yang dibangun oleh seorang insinyur berkebangsaan Swiss, Tuan Bergier. Di depan temboknya, ayat-ayat Buddhis dalam bahasa Perancis, diukir dalam warna merah dan emas, dan dengan jelas dapat dibaca oleh mereka yang lewat. Di tempat itu, Bhikkhu Natiloka mentahbiskan samanera untuk pertama kalinya di tanah Eropa, kepada seorang pelukis Jerman Bertel Bauer, dan akhirnya diupasampada menjadi bhikkhu dengan nama Konda??o.

Bhikkhu Natiloka pergi ke Srilangka pada tahun 1911 bersama Ludwig Stolz dan dua orang umat. Pada tahun yang sama, Stolz ditahbiskan sebagai samanera di kota Galle, Srilangka Selatan, dengan nama Vappo. Ia kemudian diupasampada di Myanmar (1914), dan meninggal dunia di Srilangka (1960) dalam usia 86 tahun.

Bhikkhu Konda??o membantu menemukan sebuah pulau kecil di pinggir laut dekat desa Dodanduwa, yang bernama “Pulau Pertapaan” (Island Hermitage) di Singhalase (Sailan Polgasduva). Pulau tersebut menjadi terkenal sebagai sebuah pusat agama Buddha dan vih?ra untuk para bhikkhu Barat.

Ketika Bhikkhu Natiloka diberitahukan oleh Bhikkhu Konda??o yang telah menemukan tempat itu, hal ini membuat beliau senang. Pada tanggal 9 juli 1911, di pulau itu dibangun lima pondok sederhana yang terbuat dari kayu.

Pondok-pondok tersebut dibangun oleh umat yang mendukung perkembangan Buddha-Dhamma. Pada tahun 1914 “Island Hermitage” resmi menjadi milik Sa?gha, karena dibeli dan didanakan oleh Mr Bergier.

Sebuah pulau kecil (Pulau Matiduva, artinya pulau lempung) juga menyediakan akomodasi untuk kegiatan pabbajja maupun upasampada bhikkhu. Setelah Perang Dunia II, tempat itu dimiliki oleh Lady Evadne de Silva dan dipersembahkan kepada Sa?gha

Pada awal 1914, Bhikkhu Natiloka berkeliling ke daerah Sikkim, Tibet sebagai tujuannya. Tetapi beliau dan rekannya hanya tiba di Tumlong, dekat perbatasan Tibet di mana mereka mengunjungi Ny. Alexandra David-Neel. Ketika melewati daerah pegunungan yang dipenuhi salju, simpanan bekal mereka hampir habis, sehingga mereka harus segera kembali ke Srilangka. Begitulah akhir dari perjalanan mereka di Tibet. Pada tahun yang sama, dua anak muda dari Tibet, pelajar bersaudara dari Kaji Sandup tiba di “Island Hermitage” dan diupasampada di sana. Bhikkhu Mahinda yang lebih muda menetap di Srilangka, di kemudian hari menjadi penyair terkenal dalam bahasa Srilangka, dengan puisi-puisinya yang dia simpulkan dalam buku-buku sekolah Sinhalase (warga Srilangka).

Demikian pula pada tahun 1914, seorang anak muda dari Rajasinghe – Srilangka, ditahbiskan sebagai samanera dengan nama Naloka, terus berlanjut hingga diupasampada menjadi bhikkhu. Ternyata bhikkhu ini memiliki karakter kemuliaan sejati. Ia sangat berjasa dan sangat taat pada gurunya (Bhikkhu Natiloka) yang sangat ia hormati. Ia merawatnya di saat-saat beliau sakit, hadir untuk semua tugas yang meliputi penetapan tujuan, cara-cara penyelenggaraan pembinaan kegiatan religius dan juga mengenai pengalokasian Island Hermitage serta membimbing langkah-langkah pertama dalam kehidupan kebhikkuan dari peserta pemuda barat ke dalam vinaya yang disebutnya sebagai “Induk Sa?gha” mereka, setelah gurunya (Bhikkhu Natiloka) meninggal, Bhikkhu Naloka Mah?thera adalah pimpinan dari Island Hermitage hingga akhir hidupnya (1976).

Pada saat pecahnya Perang Dunia I (1914), bhikkhu-bhikkhu Jerman pada awalnya diijinkan untuk tinggal di Island Hermitage, dengan pengawasan yang ketat. Setelah empat bulan kemudian mereka dibawa ke tempat pengasingan sipil, pertama di daerah Ragama dan Diyatalawa, Srilangka, dan kemudian di Australia, yang membawa banyak kesulitan. Pada tahun 1916, anggota kependetaan dari semua agama dibebaskan dari tempat pengasingan. Disebabkan tidak adanya ijin yang diberikan untuk kembali ke Srilangka atau untuk memasuki negara lain yang berada di bawah persemakmuran Inggris, Bhikkhu Natiloka pergi ke Cina, dan ini juga menjadi suatu masa keadaan yang menyakitkan dan kesulitan yang besar. Keinginan beliau untuk tiba di Cina (melalui Yunan) guna mengunjungi arama-arama warga Myanmar yang berada di daerah perbatasan tidaklah tercapai.

Ketika Cina mendeklarasikan perang melawan Jerman, Bhikkhu Natiloka harus mengalami pengasingan lagi di penjara polisi Hanchow. Ketika berada di sana, beliau kembali menerjemahkan A?guttara Nik?ya ke dalam bahasa Jerman. Akhirnya di awal tahun 1919, ia kembali ke Jerman karena warga Jerman yang berada di Cina diwajibkan untuk kembali ke negara asal. Inilah kunjungan terakhirnya ke negara tempat kelahirannya.

Bahkan setelah perang usai, Srilangka tetap tertutup bagi warga Jerman hingga bertahun-tahun lamanya. Karena masih didorong oleh keinginannya yang kuat untuk kembali, beliau dan Bhikkhu Vappo melanjutkan perjalanan ke Srilangka (1920). Dalam perjalanan ini mereka diikuti oleh seorang upasaka berkebangsaan Jerman, Else Buchholts. Pada tahun 1926, upasaka ini menjalani kehidupan pertapaan di Srilangka dengan nama Uppalavanna.

Upasaka Else Buchholts telah mendukung Bhikkhu Natiloka selama berada di Jerman dan membiayai semua biaya perjalanan yang mereka lakukan menuju Srilangka, namun pada saat mereka tiba di pelabuhan Kolombo (ibu kota Srilangka), mereka tidak bisa mendapatkan ijin pendaratan, meskipun semua usaha telah dibuat oleh teman-teman di Srilangka. Lalu mereka kemudian memutuskan untuk pergi ke Jepang di mana Bhikkhu Natiloka mengajar di sekolah tinggi dan berbagai universitas selama lima tahun di sana. Akhirnya pada tahun 1926, setelah absen 12 tahun, beliau baru bisa kembali ke Srilangka.

Di Island Hermitage, beliau menemukan banyak gedung dalam kondisi rusak, tetapi segera dibangun pondok-pondok baru untuk para pendatang. Dalam waktu yang singkat, para pendatang mulai berdatangan untuk belajar dan mendalami Buddha-Dhamma serta kehidupan religius. Mereka yang berasal dari berbagai negara di dunia, khususnya dari Barat.

Pada tahun 1928, E.L. Hoffmann (Acarya Anagarika Govinda) tinggal untuk beberapa waktu di Island Hermitage mempelajari bahasa P?li. Belakangan ini ia menetap di tempat yang bertentangan dengan Bhikkhu Natiloka di Bukit Wariyagoda, Srilangka, di mana setelah Perang Dunia II, Uppalavanna juga tinggal di sana.

Berikut ini adalah beberapa bhikkhu yang tinggal di Island Hermitage pada dua periode Perang Dunia adalah Bhikkhu Nadhara dari Jerman. Beliau adalah seorang bhikkhu yang sangat didedikasikan, meninggal di Myanmar pada tahun 1935. Beliau dirawat oleh Bhikkhu Natiloka pada saat beliau sudah tidak bisa bangun lagi dari tempat tidurnya. Berita sakitnya Bhikkhu Nadhara mempercepat beliau tiba di Myanmar. Bhikkhu lainnya yang sungguh-sungguh berusaha keras adalah Bhikkhu Nasisi dari Jerman, ditahbiskan menjadi samanera pada tahun 1936 dan diupasampada pada tahun 1937. Ia meninggal pada tahun 1950, segera setelah mengadakan suatu kunjungan ke saudara laki-lakinya Georg Krauskopf, seorang penulis Buddhis yang cakap.

Pada saat Perang Dunia II, Bhikkhu Natiloka dan siswa-siswanya dari Jerman harus menukar kedamaian Island Hermitage menjadi kehidupan di kamp pengasingan sipil. Setelah dua tahun dalam sebuah kamp di Diyatalawa – Srilangka, semua tawanan dikirim ke India Utara, ke sebuah pusat camp pengasingan di daerah Dehra Dun, dekat bukit Himalaya. Di sana Bhikkhu Natiloka beserta bhikkhu lainnya menghabiskan waktu lima tahun di belakang kawat berduri hingga musim gugur 1946, mereka baru diijinkan untuk kembali ke Srilangka.

Pada saat kembali ke Srilangka, beliau menemukan Island Hermitage dalam keadaan terpelihara serta kondisinya yang baik. Bhikkhu Naloka Mah?thera telah merawat Island Hermitage dengan baik, meskipun mengalami banyak kesulitan selama Perang Dunia yang begitu lama. Bagi Bhikkhu Naloka Mah?thera, periode kedua dari tempat pengasingan itu membuktikan ternyata lebih banyak menguntungkan dari yang pertama. Pelayanan dan kondisi kehidupan di camp lebih baik, mengijinkan untuk menggunakan waktunya secara luas untuk menerjemahkan kitab suci serta karya tulisnya.

Setelah mengalami banyak pengalaman dalam dua periode Perang Dunia, pada tahun 1950, Bhikkhu Natiloka menyambut gembira menerima kewarganegaraan Srilangka. Negara kelahirannya (Jerman) juga mengenang pekerjaan seumur hidupnya yang terkemuka sebagai seorang pelajar Buddhis. Pada tahun 1955, beliau ditunjuk sebagai seorang anggota kehormatan dari sebuah perkumpulan akademik bergengsi untuk pelajar-pelajar Timur. Dass Deutsche Morgenlandische Gesellschaft, Surat penunjukkan sebagai anggota kehormatan dipersembahkan untuk beliau oleh Duta Besar Republik Federal Jerman yang dijabat oleh Dr. Georg Ahrens.

Dengan pelepasan sejati dari “hidup tanpa rumah”, seorang warga dari empat belahan dunia, ia mengerti akan tidak adanya cinta tunggal (exclusive love) untuk suatu negara. Tetapi dengan keharusan secara emosi beliau merasa sangat bahagia di antara orang Srilangka yang dikenal, dan jalan hidup yang telah dibentuknya sendiri di negara ini. Tetapi beliau juga merasakan sebuah rasa kekeluargaan dan kekaguman terhadap mereka, bangsa Buddhis yang besar dari Myanmar, tanah tempat beliau diupasampada.

Beliau mengunjungi Myanmar sekitar delapan kali pada tahun 1951. Beliau dan siswanya (Bhikkhu Naponika) diundang ke Myanmar sebagai tamu kenegaraan untuk berkonsultasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan konferensi Buddhist ke-6 (Chattha Sa?gayana). Kunjungan terakhirnya ke Myanmar pada tahun 1954, di mana Bhikkhu Natiloka dan Bhikkhu Naponika ikut bergabung dalam pembukaan sesi Konferensi tersebut yang begitu hikmat.

Sejak tahun 1952, Bhikkhu Natiloka melewati waktunya di forest Hermitage dekat kota Kandy, di sebuah pondok kecil nan sederhana bernuansa kehutanan di perbukitan tinggi di atas kota Kandy.

Pada pertengahan tahun 1954, beliau jatuh sakit. Setelah lama tinggal dan dirawat di R.S. Kandy, ia menjalani operasi di Kolombo pada bulan Januari 1955. Sekembalinya beliau ke Kandy, dilakukanlah perawatan kesehatan hingga beberapa bulan berikutnya. Tetapi pada waktu itu beliau berkata kepada Bhikkhu Naponika, “Saya tidak akan mencapai usia 80.” Ketika menjelang akhir 1955, kesehatan fisiknya mulai menurun, beliau pergi ke Kolombo di mana perawatan dan perhatian dokter lebih mudah didapatkan daripada di daerah pedalaman.

Para utusan dari “German Dhammaduta Society” datang mengunjugi beliau, waktu itu beliau tinggal di kuti dari tempat perkumpulan, di mana ia dirawat dengan penuh intensif. Di tempat inilah beliau melewati vassa terakhir dalam hidupnya. Walaupun pengobatan diberikan dengan baik, namun kesehatannya berlanjut menurun, dan pada tanggal 28 Mei 1957 beliau meninggal dengan tenang, sekitar 3 bulan setelah ulang tahunnya yang ke 79 tahun.

Upacara kremasi dilakukan pada tanggal 2 Juni 1957, di Independence Square, Colombo, sebagai pusat pemakaman negara yang diberikan dalam penghormatan dan penghargaan kepada seorang bhikkhu besar dan contoh suri teladan besar Dhamma terhadap Barat. Banyak sekali orang yang berkumpul pada peristiwa ini, di antaranya Nasatta Thera, Perdana Menteri Srilangka Mr. S.W.D. Bandaranaike, dan duta besar Jerman. Perabuannya dibawa ke Island Hermitage, Dodanduwa, dan diletakkan di dekat pondok di mana dulu beliau pernah menetap.

Sebuah monumen didirikan, yang mana bait Dhamma yang terkenal, dari Bhikkhu Assaji yang telah menuntun Petapa Sariputta ke dalam Dhamma, diukir dalam empat bahasa yaitu P?li, Sinhala, Jerman, dan Inggris.

“Of things that proceed from a cause,
their cause the Tath?gata proclaimed;
and also their cessation.
Thus taught the Great Sage.”

(“Semua benda timbul kerena satu ‘sebab’,
sebabnya telah diberitahukan oleh Sang Tath?gata;
dan juga lenyapnya kembali.
Itulah yang diajarkan oleh Sang Petapa Agung.”)

Karya tulis Ven. Natiloka

Pada awal tahun 1905, beliau mulai menerjemahkan A?guttara Nik?ya ke dalam bahasa Jerman (Angereihte Sammlung). Bagian pertama dari buku kesatu diterbitkan pada tahun 1907 oleh Percetakan Walter Markgraf Verlag), dan pada tahun berikutnya bagian lain diterjemahkan kembali dari buku keempat. Edisi pertama dipublikasikan pada tahun 1922 dalam lima seri oleh Oskar Schloss Verlag). Edisi barunya, direvisi oleh Bhikkhu Naponika, yang diterbitkan pada tahun 1969 dalam lima seri.

Berikut ini adalah beberapa karya tulis yang telah disusun oleh beliau, yang terkenal di daratan Jerman dan negara-negara barat lainnya, yaitu:

1. “Dass Buch der Charaktere”, The book of Character, 1910 (terjemahan dari Puggala Pa??atti, Abhidhamma Pitaka).
2. A systematic P?li Grammar (1911).
3. “Die Fragen des Koenigs Milindo”, The Questions of King Milinda (bahasa Jerman) (Milinda Pa?h?; Vol.I: 1913/14; Vol. I/II: 1924).
4. A P?li Anthology and Glosary, dalam bahasa Jerman, yang telah disusun pada tahun 1928. Edisi pertama dari Visuddhi Magga “Der Weg Zur Reinheit” (bahasa Jerman). “The path to Purity” yang terbit pertama kali pada tahun 1952, dan kedua, edisi yang telah direvisi diterbitkan pada tahun 1976, yang telah disusun pada tahun 1931.
5. Guide through the Abhidhamma Pitaka (bahasa Inggris), yang telah dicetak ulang pada tahun 1957 dan 1971 (Buddhist Publicaton Society / BPS, KandySrilangka), disusun pada 1938.
6. Fundamentals of Buddhism. Dhammadesana yang tersusun dalam 4 bagian (bahasa Inggris) yang disusun pada tahun 1949.
7. Kamma and Rebirth, dipublikasikan oleh BPS pada tahun 1964. Dua karya yang penting diterbitkan di Inggris pada tahun 1952.
8. Buddhist Dictionary. Sebuah buku pedoman dari istilah-istilah Buddhis dan Buddha Dhamma (edisi kedua diterbitkan di Colombo City (Kota Kolombo) pada tahun 1956; edisi ketiga yang telah direvisi dan diperluas oleh Ven. Naponika (siswa Bhikkhu Natiloka) pada tahun 1972. Versi bahasa Jerman pertama pada tahun 1953, kemudian edisi kedua diterbitkan pada 1976 oleh Verlag Christiani, Konstanz. Juga sebuah versi lainnya dalam bahasa Prancis, yang diterjemahkan oleh Suzanne Karpeles, yang diterbitkan oleh “Adyar” – Paris, tahun 1961dengan judul “Vocabulaire Bouddhique de Termes et Doctrines du Canon P?li.”
9. The Path to Deliverance (jalan menuju pembebasan), terbagi atas tiga bagian dan tujuh tingkat dari kemurnian, yang pada edisi kedua telah direvisi pada tahun 1959, versi Jerman diterbitkan pada tahun 1956 oleh Verlag Christiani. Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia pada edisi kedua dilakukan di Surabaya pada tahun 1970. Di dalam buku ini dilengkapi dengan keterangan-keterangan antologi, dan dapat dipandang sebagai sebuah supplement lebih lanjut terhadap “Sabda Sang Buddha.” Buku ini kaya akan pelajaran-pelajaran yang bersifat instruktif (penerangan dan pengarahan) dan tulisan-tulisan yang menginspirasikan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>