Bhikkhu Naponika

Beliau adalah seorang putra tunggal yang lahir pada 21 Juli 1901 dengan nama Siegmund Feniger. Orangtuanya membesarkan dan merawat Siegmund dengan sebuah asuhan tradisional Yahudi. Sejak Siegmund masih berusia muda, ia sudah menunjukkan kecenderungan yang kuat pada hal hal religius. Di akhir masa remajanya, segera setelah ia menyelesaikan sekolahnya, ia mulai bekerja di toko buku.

Di saat-saat yang menggelisahkan, keragu-raguannya akan hal-hal religius, mendorongnya pada pencarian mengenai hal-hal keagamaan dengan kuat, terlebih lagi pada saat ia menemukan buku-buku mengenai agama Buddha. Penemuan barunya ini membuat ia tertarik, sebuah ketertarikan yang semakin ia baca semakin tumbuh besar.

Siegmund melihat bahwa agama Buddha menyajikan, memperkenalkannya sebuah ajaran keseimbangan, kedamaian dan ketenangan yang dapat memenuhi dua sisi tuntutan kritis dari intelektual dan dorongan-dorongan religius dari lubuk hatinya.

Meskipun ia harus mempelajari agama Buddha dari bagian awal sendirian, tanpa seorang guru atau bahkan seorang teman untuk bersama sama berbagi di dalam minat religiusnya itu, namun keteguhan akan pendiriannya di dalam Dhamma Sang Buddha semakin kuat dan kokoh di saat usianya yang keduapuluh (1921), di mana ketika itu ia menyatakan dirinya sebagai seorang umat Buddha yang yakin sepenuhnya di dalam Tiratana.

Pada tahun 1922, ia pindah ke Berlin bersama orangtuanya, di mana ia bertemu dengan umat Buddha yang lain, dan menghantarkannya pada sederetan kesusastraan karya Buddhis kenamaan, dan di kota inilah untuk pertama kalinya ia bertemu dengan karya tulis dan terjemahan terjemahan Bhikkhu Natiloka yang telah diterbitkan di Jerman.

Siegmund mendengar bahwa Bhikkhu Natiloka telah membangun sebuah ?r?ma untuk bhikkhu-bhikkhu barat yang dinamai “Island hermitage” pada sebuah tempat di Lagoon dekat Dodandua-Srilanka. Laporan ini tertanam dan memunculkan sebuah ide dipikirannya yang semakin lama semakin berkembang menjadi sebuah dorongan yang besar untuk pergi ke Asia dan menjadi bhikkhu

Idenya ini, tidak dapat dilaksanakan hingga beberapa waktu. Pada 1932 ayahnya meninggal dan Siegmund tidak ingin meninggalkan ibunda tercinta tinggal sendirian. Lalu pada tahun 1933 Hitler datang muncul untuk berkuasa dan memulai rencana penyiksaan yang tanpa belas kasih terhadap orang-orang Yahudi. Pada awalnya Siegmund mencoba sebaik mungkin untuk mempertahankan tanah airnya dengan penuh harapan bahwa penyiksaan yang sedang berjalan ini akan segera berakhir.

Di saat itu, kejadian demikian malah membuatnya jelas bahwa gelombang kebencian, kebodohan dan kekejaman sedang melilit Nazi yang berkembang pesat. Di saat-saat yang menggelisahkan dan gempar itu, ia sadar bahwa dia maupun ibunya tidak lagi dapat tinggal di Jerman dengan selamat. Maka pada bulan November 1935 ia meninggalkan Jerman bersama ibunya menuju Vienna, di mana tempat kerabat-kerabat mereka tinggal. Ia menginginkan ibunya tinggal dengan kerabat mereka.

Di awal tahun 1936 ia meninggalkan Eropa menuju Srilanka, di mana ia bertemu dengan Bhikkhu Natiloka di Island Hermitage. Pada tahun yang sama (1936), ia ikut pabbajja samanera dan tahun berikutnya diupasampada oleh guru beliau Bhikkhu Natiloka (1937) sebagai bhikkhu dengan nama Naponika, yang berarti “tahap atau langkah menuju kebijaksanaan.”

Pada tahun 1939, setelah Nazi menyerbu Austria, Bhikkhu Naponika mengatur rencana untuk ibunya dan sanak famili yang lain agar bisa tiba di Srilanka, sanak keluarga lainnya pada akhirnya bermigrasi ke Australia, tetapi ibunya tetap berada di Srilanka. Ia tinggal di rumah pasangan warga Srilanka yang dermawan, Sir. Ernest dan Lady de Silva, dan menjadi anggota keluarga yang sangat dicintai di rumah tangga mereka. Ibunya meninggal di Colombo City pada tahun 1956. Melalui dorongan dari putranya sendiri (Bhikkhu Naponika) dan para teladan yang menjadi tuan rumah di mana ia menetap, ia memeluk agama Buddha dan menjadi seorang pengikut yang taat dan setia.

Di bawah bimbingan gurunya, ia belajar bahasa P?li dan pendidikan Therav?da, sementara itu ia juga melanjutkan pelajaran bahasa Inggrisnya. Ketika Perang Dunia II dimulai antara Jerman dan Inggris tahun 1939, kedua bhikkhu Jerman ini, Bhikkhu Naponika & Bhikkhu Natiloka, sama seperti semua orang Jerman yang tinggal di negara bekas jajahan Inggris akan diasingkan ke tempat pengasingan, terutama di Diyatalawa – pedalaman Srilanka, dan kemudian menuju ke Dehra Dun, di India utara. Meskipun sulitnya keadaan di tempat pengasingan ini, namun Bhikkhu Naponika tetap menyelesaikan terjemahan Sutta Nip?ta, Dhammasa?gani dan komentarnya (buku bagian pertama dari Abhidhamma Pitaka), Atthasalini, ke dalam bahasa Jerman. Ia juga menghimpun naskah-naskah antologi mengenai meditasi Satipatth?na.

Ketika perang dunia telah usai, kedua bhikkhu Jerman ini dibebaskan dari tempat pengasingan pada tahun 1946 dan kembali ke Srilanka, di mana mereka mulai kembali tinggal di Island Hermitage. Pada awal tahun 1951 mereka berdua menjadi penduduk dari negara Srilanka yang baru merdeka.

Pada tahun yang sama 1951, Bhikkhu Natiloka (guru dari Bhikkhu Naponika) ditawari sebuah tempat pertapaan dekat Kandy, di Udawattakele Forest Reserve, yang kemudian disetujuinya

Dengan usianya yang telah lanjut (Ven. Natiloka), ia lebih memilih iklim yang lebih sejuk di bukit dari pada iklim tropis yang panas di Island Hermitage. Tahun berikutnya, Bhikkhu Naponika bergabung dengannya, dan demikian-lah gubuk koloni tua di hutan itu telah diubah fungsi menjadi hutan pertapaan atau yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan istilah jarmen pansala “The german temple.”

Pada tahun 1952, Bhikkhu Natiloka dan Bhikkhu Naponika diundang ke Burma untuk mengadakan konsultasi bersama mengenai persiapan Buddhist council yang keenam, di mana pemerintah Burma bermaksud untuk bersidang di tahun 1954 nanti, tujuan untuk pemeriksaan kembali dan pencetakan ulang seluruh aturan tata bahasa P?li beserta komentar-komentarnya. Setelah berkonsultasi, Bhikkhu Naponika menetap di Burma selama satu periode pelatihan “meditasi Vipassan? dibawah bimbingan guru besar meditasi, Bhikkhu Mahasi Sayadaw.

Pengalaman inilah yang sangat berkesan di hatinya, mendorong beliau untuk menulis buku terbaiknya yang terkenal di seantero dunia “The heart of Buddhist meditation” (yang telah diterbitkan oleh BPS pada tahun 1992) agar orang lain juga bisa merasakan manfaat dari pelatihan meditasi yang dituturkan dalam sistem pelaksanaan agama Buddha.

Lalu tiba saatnya pada tahun 1954, mereka berdua kembali ke Burma (Myanmar) untuk membuka acara peresmian, dan juga pada acara penutupan peresmian dua tahun kemudian, di tahun 1956. Pada acara penutupannya Bhikkhu Naponika pergi sendiri ketika gurunya (waktu itu) sedang sakit. Lebih dari satu tahun berikutnya kesehatan Bhikkhu Natiloka tetap buruk, lalu memohonnya agar pindah ke Colombo City di mana ia akan dapat menerima perhatian medikal yang lebih intensif.

Pada tanggal 28 Mei 1957 Sang Pelopor besar ini meninggal dunia, dan pada tanggal 2 Juni dimakamkan di sebuah tempat pemakaman resmi-kenegaraan di Independence square, dihadiri oleh perdana menteri, S.W.R.D. Bandaranaike, dan banyak negara-negara resmi, baik umat maupun orang-orang religius yang terkemuka.

Sebagai tanda penghargaan, penghormatan dan terima kasih kepada Bhikkhu Natiloka, Bhikkhu Naponika meninjau ulang terjemahan lengkap A?guttara Nik?ya dalam bahasa Jerman, mengetik kembali lima jilid buku dengan lengkap, dan juga menyusun empat puluh halaman dari index menjadi sebuah karya, sesuai dengan permintaan gurunya.

Enam bulan setelah gurunya meninggal, karier/tugas dan kewajiban Bhikkhu Naponika sebagai orang yang menerangkan dan menguraikan Dhamma diajukan dalam pimpinan baru, yang tidak pernah diduga sebelumnya. Seorang pengacara terkemuka di Kandy, A.S; Karunaratne, menyarankan kepada seorang temannya, pemilik sekolah yang telah pensiun; Richard Abey Sehera, di mana mereka memulai sebuah kesatuan masyarakat guna mengumumkan literatur Buddhis ke dalam bahasa Inggris, terutama untuk disebarkan ke luar negeri.

Karya-karya Bhikkhu Naponika diantaranya adalah Numerical Discourses of the Buddha. Sebuah buklet A?guttara Nik?ya Anthology yang telah diterbitkan di bawah bantuan International Sacred Literature Trust (Perserikatan Karya/Literatur Suci Internasional) yang kemudian ditinjau kembali oleh Bhikkhu Bodhi. Buku tersebut telah diterbitkan di Indonesia melalui Wisma Sambodhi-Klaten pada edisi pertama November 2001, yang diterjemahkan oleh Dra. Lanny Anggawati dan Dra. Wena Cintiawati dengan judul “A?guttara Nik?ya”

Karya-karya Bhikkhu Naponika telah diterbitkan oleh penerbit buku religius Buddhis diantaranya BPS (Buddhist Publications Society) dan Bodhi Leaves, pada penerbitan kedua kalinya itu dilakukan secara lebih luas oleh BPS, dan pada saat itu bertepatan dengan perayaan ulang tahun Bhikkhu Naponika yang ke 93 tahun 1994 (3 bulan sebelum ia meninggal). Penyebaran buku-buku itu muncul sampai di Amerika Serikat. Buku yang telah diterbitkan adalah sebagai berikut:

  • The discourse on the snake simile, oleh BPS 1962
  • The way to freedom, dipublikasikan oleh BPS tahun 1994
  • The power of mindfullness, yang mana dalam buku ini berisi penjelasan mengenai Satipatthana
  • The roots of Good andEvil
  • Buddhism and the God idea.

Sebuah buku berjudul “Great disciples of the Buddha” yang ditulis oleh Hellmuth Hecker, menceritakan kehidupan siswa-siswa mulia Sang Buddha, termasuk di dalamnya bercerita mengenai kehidupan Bhikkhu Naponika, yang dipublikasikan secara bersama antara Wisdom Publication dan Buddhist Publication Society (BPS). Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Perancis, hingga tersedia pula bagi pembaca di kedua negara tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>