Generasi Yang Bobrok Menuju Bangsa Yang Gagal

Terkejutkah kita dengan judul tulisan ini? Sebetulnya tulisan ini tidak ditujukan dalam rangka memprofokasi para pembaca untuk bersikap skeptis apalagi pesimis tentang nasib bangsa tapi marilah kita perhatikan beberapa fakta di bawah ini. TV One dalam acara Telusur tanggal 30 April 2009 memberitakan mengenai sisi negatif Ujian Nasional baik untuk tingkat SMA maupun tingkat SMP di tahun 2009 ini. Dalam pemberitaan TV One diungkapkan beberapa fakta di mana guru-guru di beberapa sekolah telah sepakat untuk memberikan kunci jawaban kepada murid-murid yang sedang menempuh Ujian Uasional tersebut. Nama sandi yang dipakai untuk pemberian kunci jawaban itu ialah BLT (Bantuan Langsung Tamat). Dengan diberikannya BLT kepada para siswa baik tingkat SMP maupun SMA maka tentu lulusan anak-anak murid mereka dapat didongkrak bahkan sampai 100%. Beberapa tahun yang lalu, kita juga mendengar di Medan terbentuk sekelompok guru-guru yang menamakan dirinya “Air Mata Guru”. Kelompok air mata guru ini menentang kebijakan pejabat pendidikan provinsi tersebut yang meminta seluruh sekolah di Medan berpartisipasi untuk meningkatkan hasil kelulusan siswa. Caranya ya seperti BLT di atas yaitu dengan menuliskan jawaban Ujian Nasional di depan papan tulis sehingga dapat disalin oleh murid-murid yang sedang menempuh ujian. Tindakan kelompok air mata guru ini kemudian mendapat ganjaran dari tempat sekolah mereka mengajar dan dari para pejabat pendidikan setempat. Ganjarannya ialah mereka dipecat sebagai guru karena dianggap menentang kebijakan sekolah dan pejabat pendidikan setempat. Apa hasil dari sistem ujian seperti ini kalau bukan suatu generasi yang hanya bisa mencuri dan menipu atau paling tidak hanya dapat mengcopy hasil kerja orang lain. Inilah generasi muda yang bobrok.

Dalam suatu tulisan Kompas tanggal 29 April 2009 yang berjudul “Generasi Penyusu, Generasi Penumpang”,  Buya Syafii Maarif meminta sidang pembaca untuk mewaspadai dan apabila perlu mencegah terjadinya generasi-generasi muda yang hanya mendompleng kemasyuran dari tokoh-tokoh politik yang lagi berperan sekarang ini. Umumnya generasi penyusu atau penumpang ini adalah anak, istri atau saudara dan bisa juga ipar dari si tokoh. Perhatikan saja berapa banyak anak Gubernur, istri maupun saudara-saudaranya yang menjadi Caleg terpilih bahkan di tingkat nasional. Mereka ini tidak perlu berkeringat apalagi berdarah-darah untuk memperoleh kedudukan istimewa sebagai anggota legislatif, sementara bagi orang kebanyakan kedudukan tersebut harus diperoleh dengan mengorbankan uang, waktu dan bahkan nyawa. Tak jarang pula kita dengar banyak Caleg yang menjadi stres atau depresi, bahkan bunuh diri karena tidak terpilih, sementara generasi penyusu dengan enteng melenggang ke Senayan. Tentu saja menurut Buya, kita tidak akan mendapat apa-apa dari generasi penyusu ini bahkan celakanya generasi ini hanya dapat merusak apa yang telah kita capai selama ini. Timbulnya generasi penyusu, menurut Buya adalah kegagalan sistem politik yang berlaku sebab sistem yang berlaku sekarang ini kembali menghalalkan nepotisme yang dulu ditolak atau bahkan dicerca habis-habisan pada jaman reformasi.

Banyak fakta lain yang bisa dikemukakan di sini untuk menunjukkan tanda-tanda kegagalan kita, misalnya baru-baru ini ada tiga penegak hukum yaitu satu Polisi dan dua Jaksa dari Kejaksaan Negeri Jakarta Utara ditangkap karena mengedarkan atau memperjualbelikan barang bukti yang berupa ekstasi. Celakanya kedua Jaksa ini yang bernama Ester dan Dora akhirnya harus dilepas oleh Polda Metro Jaya karena masa penahanannya tidak diperpanjang oleh Kejaksaan Tinggi Jakarta. Peristiwa ini membuat kita harus mengurut dada dan kembali menghela napas panjang seraya menahan kekesalan hati kita. Bagaimana mungkin para penegak hukum yaitu Polisi dan Jaksa justru yang menjualbelikan barang haram tersebut padahal mereka seharusnya menjaga barang bukti itu untuk kemudian dimusnahkan. Penegak hukum lainnya yang juga ditangkap karena kasus suap juga melibatkan Hakim dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan beberapa tahun yang lalu. Kasus Jamsostek di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak hanya menyeret Jaksa-jaksa yang menangani perkara tersebut tetapi juga membuat si Hakim yang mengadili perkara tersebut masuk penjara. Para penegak hukum yang justru melanggar hukum bukan merupakan cerita baru. Hasil survey transparansi internasional 2008 menempatkan para penegak hukum yaitu Hakim, Jaksa dan Polisi serta parlemen merupakan kampiun di bidang korupsi di Republik ini. Ironi ini tidak hanya terjadi di bidang penegakkan hukum tetapi juga terjadi di berbagai bidang lainnya. Sungguh fakta di atas dapat menyebabkan kita pusing tujuh keliling karena kita menghadapi benang kusut yang tidak tahu lagi di mana ujung pangkalnya sehingga mustahil untuk dilerai.

Generasi yang bobrok, pemerintah yang korup, legislatif dan yudikatif yang penuh noda membawa bangsa ini menuju ke satu arah yaitu menjadi bangsa yang gagal (failed nation) di tengah gegap gempitanya pembangunan negara-negara yang dahulu kita anggap sebagai bangsa yang menderita seperti Vietnam, Kamboja serta negeri Tiongkok. Tentu saja kebangkitan negara-negara di atas tidak dilakukan dengan berpangku tangan belaka seraya berharap rejeki akan turun dari langit. Negeri Tiongkok misalnya mulai bangun dari tidurnya setelah sang pemimpin Deng Xiao Ping berucap “tidak perduli kucing hitam atau putih yang penting dapat menangkap tikus”. Vietnam memulainya dengan semangat Doi Moi (pembaharuan). Demikian juga Kamboja yang dahulu menjadi ladang pembantaian (killing field) si bengis polpot, sekarang telah menjadi negara berkembang yang maju. Di samping Tiongkok, Vietnam dan Kamboja, gemuruh pembangunan juga berlangsung gegap gempita di India dan Rusia. India mengejar ketinggalannya dengan basis tekhnologi sedangkan Rusia bangkit karena merasa harga dirinya dilecehkan oleh pihak Barat. Di bawah pimpinan Perdana Menteri Putin yang sebelumnya menjabat Presiden Rusia, Kremlin kembali mengejar bayang-bayang masa lalunya sebagai negara Adi Daya (super power). Bahkan diramalkan pada abad ini Amerika dan negara-negara barat yang sampai saat ini masih menjadi negara Adi Daya tunggal akan segera tersaingi oleh tiga negara raksasa baru yaitu Tiongkok, India, dan Rusia dari Eropa Timur. Pertanyaannya ialah ketika dari Asia akan segera lahir dua raksasa baru yaitu Tiongkok dan India, di manakah posisi kita waktu itu? Apakah betul kita akan terperosok menjadi bangsa yang gagal?

Sejarah pernah mencatat RI merupakan negara yang sangat terhormat pada waktu dipimpin oleh Ir. Soekarno. Pada waktu itu kita disebut sebagai pemimpin negara-negara baru (New Emerging Forces). Penanda sejarah atas keberhasilan tersebut ialah lahirnya Dasa Sila Bandung di KTT Asia Afrika. Sayangnya kehormatan kita tidak dapat berlangsung lama begitu kekuasaan Soekarno diambil alih maka merosotlah pula kedudukan dan kehormatan Indonesia. Pada pertengahan dekade 90-an, Indonesia kembali meraih kedudukan terhormat. Pada waktu itu, negeri Rayuan Pulau Kelapa ini disebut sebagai Macan Asia dan sejajar dengan Korea, Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia. Seperti halnya Soekarno, ketika Soeharto meletakkan jabatan pada tanggal 21 Mei 1998 sebagai akibat krisis multi dimensi maka sampai saat ini negeri kita belum bangkit lagi. Bukan hanya tidak bangkit, berbagai tanda jaman dari fakta-fakta yang diungkapkan di atas membuat kita resah karena tampaknya kita akan terjerumus menjadi negeri yang gagal.

Dari sejarah di atas, jelas kepemimpinan dapat mengangkat kembali bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat di dunia Internasional. Kepemimpinan Soekarno yang brilliant dan kekuatan posisi Soeharto telah membuat Indonesia dihormati di dunia. Sayangnya kedua pemimpin kita ini tidak memberlakukan suatu sistem sehingga keberhasilan mereka terus berkesinambungan. Kepemimpinan Soekarno dan Soeharto bersifat pribadi dan akan menghilang begitu keduanya tidak lagi berada di puncak kekuasaan. Belajar dari hal di atas, kita perlu mempunyai seorang pemimpin yang secerdas Soekarno dan sekuat Soeharto tetapi lahir dari suatu sistem yang baku. Siapapun yang jadi pemimpin Indonesia jika lahir dari sistem ini maka ia akan menjadi pemimpin yang dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan. Sistem ini memerlukan generasi muda yang cerdas dan bersemangat tinggi bukan generasi muda yang bobrok. Sistem ini juga harus diisi oleh pemimpin politik yang mempunyai empati terhadap penderitaan rakyat serta mementingkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadinya yang tidak bakal kita peroleh dari generasi penyusu atau generasi penumpang.

Jakarta, 01 Mei 2009

F. Sugianto Sulaiman SH
Kusala Nitisena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>